Pertussis yang Bikin Meringis



Assalamualaikum

Hollaback Mak.. 

Apa kabar? Baik lah insyaAllah ya.. 

Kali ini mau ceritain pengalaman Emak saat menghadapi anak sakit Pertussis. Eeeh bye the way, anyway, busway.. sudah tau belum pertussis?

Pertussis itu adalah infeksi pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis. Si Ella (panggilan sayang Bordetella, wkwk) sebenarnya mudah diatasi dengan vaksin.

Biasa pertussis juga disebut batuk rejan atau batuk seratus hari. Nah udah lumayan kenal kan? Tau gak kalo angka pertussis di Indonesia itu termasuk langka. Menurut teman blogger yang anaknya pernah kena pertussis, dokter sering salah diagnosa. Karena memang sudah jarang dijumpai. Dia sampe cari-cara bukan cuma second opinion. Tapi sampe cari banyak literasi lain. 

Duh gak kebayang deh sama Emak. Bisa bikin rambut Botak. Hihi, kalo sampe stress bikin rambut bermasalah dan butuh Produk Perawatan Rambut, boleh kunjungi blognya Kak Bayu. Kalo mau lanjut ngomongin pertussis yuk lanjut baca..

Kalo dulu saat menghadapi Anak Sakit TB Emak agak lega karena TB anak tidak menular ke anak lainnya. Berbeda dengan pertussis. Penyakit ini sangat mudah menular dan berbahaya bagi bayi. Kenapa?

Karena pertussis atau whooping cough ini bisa membuat penderitanya batuk panjang sambil mengeluarkan suara "whoop" sehingga bayi tidak bernafas. Ngeri kan Mak?

Gimana ceritanya bisa sampe kena pertussis bersamaan 3 anak. Mulai anak ke 3, 4 dan 5. (Kayak tangga nada Mi Fa Sol).

Awalnya Sol batuk dan menular ke Fa. Eh dek Ghazi (1 tahun) batuk  dan menular ke kakaknya Zia. Biasanya kalo anak batpil Emak  gak pernah kasih minum obat. Palingan dikasih madu doank. Setelah itu Emak cuma observasi. Biasanya sih gak sampe 3 hari sembuh. Tapi akhirnya mereka berdua Emak kasih obat karena sudah 3 hari gak sembuh. 

Awalnya kan madu, lalu obat tradisional yakni bunga belimbing wuluh dikukus pake daun dan gula batu. Sehabis minum kukusan bunga belimbing memang terasa agak nyaman. Namun masih sering batuk di malam hari. Yang paling bikin sedih setiap batuk selalu muntah. Anak-anak pun jadi kurus tak berdaya.

Dibeliin deh obat batuk bayi, gak juga hingga si nomer 3 tertular kembali pertussis ini. Dengan keadaan kalut di tengah malam baru emak sadari bahwa anaknya bukan kena batuk biasa. Namun pertussis. Padahal ya si nomer 3 baru aja loh selesai terapi obat TB. Apa gak bertambah kalut? Fix Emak merawat 3 anak pertussis. 

Setelah mencari banyak sumber tentang pertussis, Emak bawa lah anak berobat. Ya karena jalur BPJS mau gak mau, suka gak suka ya harus berobat dulu di puskesmas. Emak ceritain ke dokter dengan detail semua gejala anak hingga ciri-ciri yang menguatkan diagnosa bahwa ketiga anak ini kena pertussis. Tak lupa emak bilang kalo batuk suaranya whooping. Menarik nafas panjang dan berbunyi whoop. 

Akhirnya Emak diresepkan obat untuk 5 hari. Emak pengen protes ke dokter kenapa sih diresepkan antibiotik biasa? Emak pengen erytromicin. Antibiotik khusus buat pertussis. Tapi Emak akhirnya meminumkan semua resep ke 3 anak dengan dosis dan waktu minum berbeda. Kebayang kan repotnya? Syukur gak ada yang ketukar. Kalo inget kejadian dua bulan lalu sungguh bikin capek. Hehehe. Alhamdulillah its over.


Lalu gimana setelah obat abis? Si Fa dan Sol alias anak ke 4 dan 5 Alhamdulillah sudah reda. Sementara si nomer 3 masih terus batuk dan badannya semakin kurus. Balik lagi ke puskesmas minta rekomendasi ke rumah sakit besar. 

Sekarang tugas suami nemenin si nomer 3. Karena sekarang rumah sakit sudah menjadi tempat menakutkan untuk Emak dan rentan untuk bayi nomer 5. Karena Emak gak mungkin meninggalkan si bayi kemanapun pergi. 

Emak bekali suami dengan list pertanyaan dan juga memintanya berkata pada dokter bahwa anaknya kena pertussis. Lagi-lagi dokter cuma memberi antibiotik biasa. Jujur emak hopeless liat dokter. Pengen cari dokter lain aja sambil nunggu waktu pekan depan untuk membaca hasil Rontgen. 

Pekan depannya dapet dokter berbeda. Tak lupa bilang sama suami menyampaikan semua obat dan juga histori si anak. Akhirnya dikasih obat lagi. Tapi kali ini antibiotik erytromicin. 3 obat lain tak Emak beri ke anak. Karena gak begitu butuh. Hanya diminumkan erytromicin saja. 

Akhirnya setelah beberapa hari batuk langsung reda. Dan sekarang tak lagi terdengar batuk di siang maupun malam hari. 

Berkaca dari pengalaman, Emak punya tips sebelum berangkat bertemu dokter:

1. Cari tau dahulu dari beberapa literasi terpercaya penyakit kita mengarah ke mana. Sekarang banyak situs kesehatan yang terpercaya yang bisa dijadikan pedoman. Minimal nanti ketemu dokter tidak salah diagnosa lagi.

2. Bikin list pertanyaan yang penting menurut kita. Misalnya mengenai pantangan makanan ataupun tips agar cepat sembuh.

3. Jangan lupa cari juga efek samping obat yang mungkin diberi dokter. Manatau kita tidak cocok dengan obat tersebut. 

4. Boleh gunakan aplikasi kesehatan yang jamak digunakan sekarang seperti konsultasi via online dengan dokter sebelum ke rumah sakit. Usahakan di saat pandemi ini untuk meminimalisir kunjungan ke rumah sakit.

5. Bila memungkinkan, cari track record dokter yang akan dikunjungi. Beberapa rumah sakit biasanya meletakkan jadwal dokter. Sehingga pasien BPJS pun bisa searching dulu di internet mengenai dokter tersebut. 

Baca juga: ASI Istimewa

Oh ya.. belum lengkap rasanya bila belum membagikan ciri-ciri pertussis agar dikemudian hari Emak bisa dengan mudah mengenalinya. 

1. Batuk disertai muntah.

2. Wajah merah keunguan ketika batuk.

3. Batuk dalam dan panjang.

4. Disertai demam di awal dan pilek.

5. Setelah beberapa hari, akan muncul suara whoop ketika batuk panjang.

6. Berat badan menurun.


Itulah beberapa ciri pertussis yang bisa Emak bagi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Emak semua.

Sampai jumpa di artikel lain Mak.. 

Jangan lupa jaga kesehatan diri dan keluarga.. 



Reactions

18 comments:

  1. Aku nih, kak. Tiap musim kemarau, kalau badan drop bisa sampe batuk rejan gini. Dan alhamdulillah ketemu langsung sama dokter yang langsung diagnosa ini gara-gara batuk ga sembuh ampe 3 bulan dan ga kuat karena kepala sakit soalnya batu mulu. Dada sakit juga tapi bukan TB. Dan capek aja karena napas pun batuk. Dari batuk rejan ini aku jadi tau buat ngurangin makanan kaya Tomat, Telor sampe jeruk pun ga boleh. Huhu.. Sakit tuh ga enak banget

    ReplyDelete
  2. Batuk pertusis ini bisa dialami orang dewasa ga kak? Dulu pernah aku batuk 100 hari diminum obat Cina sembuh sih.. Btw maksih ya jadi tau antisipasi dini kalau anak kena batuk pertusis

    ReplyDelete
  3. Disertai demam di awal dan pilek ini saya biasa kena salah satu cirinya

    ReplyDelete
  4. Iya, sekarang batuk rekan nyaris tidak diingat. Yang jelas sangat menyiksa. Kalau batuk rasanya badan rontok semua.

    ReplyDelete
  5. Beberapa hari terakhir saya juga kena batuk pilek, di jaman kayak gini kadang bikin parno juga, takut kena korona. Ini bisa dialami anak anak dan dewasa gitu ya kak?

    ReplyDelete
  6. jadi inget temen, anakknya kena pertusis dan khawatir nularin ketiga anaknya yang lainnya. aku jadi tau bahwa beda ya sma TB, kalau TB ga nularin ya?

    ReplyDelete
  7. Kalo batuk pilek pada masa pandemi memang jadi paranoid. Karena beberapa hari kemarin saya dan keluarga hampir kena bapil bersamaan

    ReplyDelete
  8. Ternyata berbahaya sekali terhadap anak anak,dan ada baiknya para orang tua diberi pemahaman mengenai pertussis dari dinas kesehatan.
    Karena pasti sebagian dari para orang tua masih banyak yang belum mengetahui apa pertussis ini.

    ReplyDelete
  9. Ini batuk yang terus menerus ya kak, baik anak2 maupun dewasa bisa terkena ya kak , kalau anak2 ku kira karena sering makan manis2, orang dewasa ku pernah ngalamin nie kak tapi ciri di no.1,2,5,6 ga ada sie apa masuk pertusis juga ya?

    ReplyDelete
  10. Saya pernah lho mbak batuk 3 bulan. Tahun 2014. Tersiksa banget. Segala cara udh saya tempuh..akhirnya sembuh sendiri

    ReplyDelete
  11. oalah saya baru denger ini pertusis mba, ternyata vaksin itu penting ya. biar penyakit begini juga gak hingga di anak-anak. semoga setelah ini anak-anak sehat selalu mba. tipsnya bermanfaat banget ini, lengkap.

    ReplyDelete
  12. Kalau keep dokter bpjs memang gitu kak, obatnya dikasih level rendah, nggak mempan kasih menengah lalu baru dikasih yang lebih tinggi dosisnya. Tapi dokternya biasanya mau kog kak kasih resep trus tebus di apotik luar rs.saya dulu gitu soalnya hehehe

    ReplyDelete
  13. Wah ada gak ya mbak cara pencegehan pertuisi ini, kalau lihat gejalanya seperti sakit demam dan batuk biasa ya, bertambah ilmu ni,

    ReplyDelete
  14. Kalau anak sakit memang repotnya bukan main ya kak... untungnya dokter langganan kami.. mau di wa dulu ketimbang kami datang ke rs nya ...

    ReplyDelete
  15. TB anak gk menular ke anak kah mbak? Soalnya kemarin sempet baca ada dokter yg bilang menular

    ReplyDelete
  16. Pertussis ini sepertinya wajib disosialisasikan kepada masyarakat biar semua tahu, jadi kalao ada anak yang terkena orang tua faham apa yang harus dilakukan.

    ReplyDelete
  17. Jadi ingat iklan buat anak koq coba-coba.. ide brilian sekali Mak untuk tidak memberikan obat kepada anak secara langsung meskipun resep dokter, perlu di contoh ini

    ReplyDelete

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️

Total Pageviews