Tips Mengajarkan Anak Melindungi Diri dari Kejahatan Seksual


Hai Mak! Apa kabar?
Setiap hari, setiap baca berita sering menimbulkan rasa ketakutan ya Mak.. apalagi kalo beritanya tentang anak-anak yang merupakan korban kejahatan seksual. 

Tentu saja, setiap emak khawatir akan keselamatan setiap anaknya. Namun, ada hal yang di luar kuasa kita sebagai emak. Yakni, menghadirkan lingkungan yang steril buat anak.

Tak mungkin di kehidupan sosial yang semakin acuh, kita bisa menuntut setiap orang berlaku positif. Terkadang kita harus berjuang untuk menjauhkan anak kita dari hal-hal yang menurut kita tak baik. 

Misalnya saja handphone. Kita sudah berusaha dengan keras untuk no gadget di rumah agar anak kita tetap tumbuh sesuai dengan usianya. Namun, ketika main di tetangga, atau bergaul dengan sepupu, bukan tak mungkin aturan di rumah mereka berbeda dari aturan di rumah kita.

Jadi, membuat anak dan lingkungan steril adalah hal mustahil. Yang harus kita lakukan sebagai emak adalah membangun imunitas anak kita. Imunitas anak dibangun dari rumah. Dari ajaran orangtua, agar ketika ia bergaul maka anak kita tidak terkena dampak buruk dari temannya.

Misalnya, saya di saat remaja tak pernah ikut kelakuan teman-teman yang suka tempus (tembak puasa, red). Biasanya teman-teman mengajak ke Mall atau makan di tempat makan favorit saat sedang berpuasa, namun kembali ke rumah dalam keadaan "seperti puasa" di hadapan emaknya. Saya sudah mendapat didikan bahwa puasa adalah ibadah privasi yang hanya kita dan Allah saja yang tahu. Kalo tempus, tentu nanti wajib mengganti di hari lain setelah lebaran. Bagi saya, itu sebuah kerugian. Makanya tak pernah ikut. 


Begitu juga anak di rumah, pernah si sulung meminta dibelikan handphone karena temannya ada yang sudah punya handphone. Sulung saat itu berusia 7 tahun. Saya hanya menatapnya dan bertanya fungsi handphone. Lalu saya tanya urgensinya kenapa saya harus membelikan ia handphone. Karena si sulung menjawab sendiri dan merasa ia tak punya urgensi apapun maka ia pun enggan punya keinginan memiliki handphone kembali. Saya katakan padanya bahwa handphone hanya boleh ketika usia sudah mencukupi dan juga kebutuhan yang mendesak.

Itu baru persoalan gadget! Bagaimana memberikan imunitas anak pada kejahatan seksual? Kita mulai dari imunitas ia pada pornografi.

Pornografi adalah konten yang mengerikan bagi otak anak. Lebih berbahaya dari pada narkoba. Awal anak dikenalkan atau terpapar pornografi mungkin ia akan jijik. Namun bila terkena berkali-kali maka ia menjadi pecandu.

Mak, kenapa di awal saya bahas gadget? Karena sebagian besar pornografi didapat dari benda tersebut. 

Saya mau cerita, di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu, satu kelas anak laki-laki menjadi korban kejahatan seksual. Jangan pikir pelakunya orang dewasa. Pelakunya adalah kawan sekelas. Bagaimana bisa satu kelas menjadi korban?

Satu kelas ditraining oleh anak tersebut bagaimana melakukan oral seks dan lain sebagainya sesuai dengan konten yang ia lihat di handphone. Kan! Itulah kenapa saya warning banget sama emak-emak yang santai memberikan handphone dengan anaknya. Bahkan dengan koneksi internet segala!

"Ahh dia cuma nonton kartun kok .." mungkin itu pembelaan emak.
Bahkan di yutup, banyak konten kartun untuk dewasa. Saya sendiri pernah tau ketika menemani anak menonton. Syukur ketika menonton saya selalu mendampingi anak-anak. 

"Ah dia cuma main game.." pembelaan lain..
Emak, tau kah bawa kadang di game yang dimainkan oleh anak emak, ada pop up iklan yang tak senonoh? 

Makanya saya selalu warning ke anak, bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Cara menyayangi tubuh adalah dengan menjaganya.

Ada area pribadi yang saya ingatkan pada anak agar tidak boleh dipegang/dipukul oleh orang lain. Di antaranya:

1. Kepala
2. Mulut
3. Dada
4. Perut
5. Alat kelamin
6. Bokong

Lalu berikut adalah tips mengajarkan anak melindungi diri dari kejahatan seksual:


1. Beri pendidikan seksual kepada anak dengan mengajarkan anak mengenali anggota tubuhnya yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak boleh.

2. Mulut, kepala, dada, kemaluan, dan pantat adalah area pribadi anak yang tidak boleh disentuh oleh teman atau orang dewasa lain selain ibu atau dokter dalam pengawasan orangtua.

3. Ajarkan anak untuk waspada si tempat sepi. Lihat sekeliling bila anak datang ke sekolah terlalu pagi, ke toilet sendirian, atau berada di kelas atau ruangan sepi lainnya di sekolah atau tempat umum.

4. Saat terlambat dijemput, tunggu bersama guru-guru dan di tempat ramai. Jangan menunggu sendirian di dalam kelas atau di tempat sepi.

5. Tumbuhkan rasa percaya diri anak, sehingga anak tidak mudah ditekan orang lain memiliki daya tolak, dan tidak mudah dirayu. Ajarkan anak berani berkata TIDAK! Bila ada teman atau orang lain yang mengancam, hendak menyakiti, atau membuatnya takut dan tidak nyaman di rumah, sekolah, ataupun tempat umum.

6. Berteriak minta tolong, ciptakan kegaduhan untuk menarik perhatian orang lain, dan berusaha lari ke tempat ramai bila ada yang ingin menyakitinya di rumah, sekolah ataupun tempat umum.

7. Ajarkan anak untuk berani dan tidak takut untuk melapor ke guru terpercaya dan orangtua jika ada yang menyakiti dan membuat anak tidak nyaman di mana saja. Baik di rumah, sekolah, ataupun tempat umum.

8. Pastikan pada anak bahwa mereka bisa bercerita kapan saja mengenai segala hal yang terjadi di manapun baik di rumah, di sekolah ataupun di tempat umum atau jika mereka merasa tidak nyaman. Pastikan bahwa mereka tidak akan mendapat masalah jika menceritakan hal-hal tersebut. Banyak pelaku pelecehan dan kekerasan seksual yang menggunakan trik ancaman atau suap agar korbannya menjaga rahasia tentang kekerasan atau pelecehan yang mereka alami.

Demikian tips untuk mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Kalo kamu Mak, apa upaya mu untuk mengajarkan anak melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual?
Yuk kita sharing di box komen..


Ayah dan Memori Tentang Hutan di Kala Itu



"Beruntung sekali kalian sekarang, pulang sekolah sudah ada makanan terhidang.. Dulu aku pulang sekolah, masuk hutan dulu, cari sagu diparut lalu masak untuk makan siang.."

Begitulah kata-kata yang pernah kuingat saat kecil dulu sekitar tahun 90an. Kami yang pulang sekolah kadang masih mengeluh dengan lauk yang terhidang di atas meja. Lalu Bapak berkata seperti dialog di atas untuk membuat kami lebih menghargai rezeki.

Berbicara tentang hutan, Bapak adalah orang yang dekat dengan alam. Bahkan kami sekeluarga pernah dibawanya merasakan pengalaman berkemah di dalam hutan di kaki Gunung Leuser. Selain itu Bapak memang sering pergi sendiri ke Hutan semacam bertafakur dengan alam.

Sagu, kata yang paling aku ingat. Kenapa sagu? Kenapa tidak makan nasi? 

Nasi Bukan Makanan Pokok Indonesia

Apa? Ternyata nasi bukan makanan pokok Bangsa Indonesia. Menurut Prof Nadirman Haska (Peneliti Sagu Indonesia) sagu adalah makanan pokok Nusantara jauh sebelum beras atau nasi masuk ke tanah air.

Buktinya? Dari relief yang terdapat di Candi Borobudur tentang palma kehidupan yaitu ada kelapa, lontar, aren dan sagu.

Secara Antropologi pun, Masyarakat Jawa menyebut nasi dengan sebutan Sego. Sementara Masyarakat Sunda menyebut beras dengan sangu. Dan keduanya, dari bahasa asli Sagu. Menurut Beliau, kita memang makan sagu sebelum beras/nasi sekarang ini menjadi makanan pokok di Indonesia.

Cadangan Sagu di Indonesia

Fakta sejarah di atas, didukung pula oleh ketersediaan Sagu yang melimpah di Indonesia. Indonesia punya 1,4 juta hektar lahan sagu yang tersebar di hutan Sumatera, Kalimantan, hingga ke Papua. Papua sendiri memiliki 1.2 juta ha. Luas bukan?

Kabar baiknya, sagu yang ada di Indonesia ini 95 % adalah sagu yang tumbuh secara alami. Bukankah ini adalah potensi yang besar untuk menggantikan kembali beras/nasi menjadi makanan pokok karena harganya pun semakin mahal?

Sayangnya, dari cadangan sagu yang ada baru 5% saja dijadikan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh orang Indonesia. Biasanya sagu diolah menjadi makanan lezat Nusantara seperti Papeda, Siomay Bandung dan juga makanan favorit saya yakni Pempek Palembang.

Pempek Palembang

Saat saya kecil, Pempek belum dikenal sekali seperti sekarang ini di Medan yang gerai penjual Pempek bisa dengan mudah dijumpai. Pempek Palembang tidak sengaja diicip saat keluarga kami diberi makanan oleh tetangga yang asli Sumatera Selatan. Saat lidah bersentuhan dengan Pempek yang mayoritas terasa gurih ikan, kami sekeluarga langsung jatuh cinta pada panganan ini. Apalagi ketika kuah cuko berpadu dengan daging Pempek.

Pempek memang terbuat dari Sagu. Makanya ketika memakannya, bapak pun bernostalgia dengan makanan masa kecilnya yang sebagian besar adalah sagu. Bukan beras seperti sekarang.

Jangan anggap sepele makanan tradisional yang satu ini. Pempek mengandung karbohidrat dari Sagu sebagai pemenuhan kebutuhan energi harian. Selain itu karbohidrat juga berperan dalam mengatur peristaltik usus dan mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak sempurna.

Gizi dalam pempek bukan itu saja, namun karena mengandung ikan, tentu pempek mengandung nutrisi yang tinggi dari banyaknya manfaat ikan. Selain protein, mengandung  asam amino yang tinggi yang mendukung kecerdasan anak bangsa.

Maka tak berlebihan bila menyebut Pempek sebagai kuliner tinggi nutrisi.


Hutan Adalah Solusi

Tahukah, sepanjang 2018 Indonesia melakukan impor beras sebesar 2,25 Juta Ton. Ini setara dengan nilai 1.03 Milyar US Dollar. Tahun 2018 lalu adalah impor terbesar dibanding tahun sebelumnya.
databoks.co.id

Masyarakat sudah semakin tergantung pada makanan pokok berupa nasi. Maka angka impor semakin tinggi, selain impor beras ada bahaya kesehatan yang membayangi masyarakat dari ketergantungan akan nasi.

Nasi yang dikonsumsi berlebih dapat menyebabkan kegemukan. Hal ini bisa merembet pada kasus obesitas di Indonesia. Kasus obesitas di Indonesia selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya.
hellosehat.com

Lalu, bagaimana agar hutan menjadi solusi atas masalah harga pangan yang tinggi (beras), kasus obesitas dan juga angka impor beras yang tinggi?

Kembalilah Pada Diversifikasi Pangan

Diversifikasi  pangan memiliki banyak sekali manfaat. Di antaranya:
1. Masyarakat didorong agar tidak fokus terhadap satu jenis pangan pokok saja, sehingga kita tidak perlu impor karena dapat menuju swasembada pangan rakyat .

2. Dapat memenuhi kebutuhan gizi pangan yang beragam dan seimbang.

3. Lebih jauh, dapat menuju kedaulatan pangan.

Salah satu bahan makanan yang dapat menjadi alternatif pangan selain beras ya tentu saja sagu. Karena sejak awal makanan pokok bangsa Indonesia adalah sagu. Selain itu, hutan kita memiliki banyak sekali potensi sagu yang tumbuh secara alami. Sangat disayangkan bila tidak dimanfaatkan dengan baik. Hutan adalah sumber pangan.Hutan adalah sumber pangan

Memang, tidak mudah kembali memanfaatkan hutan secara bijak. Karena berdasarkan data yang dimiliki WALHI sampai tahun 2014 kawasan hutan yang dijadikan Hutan Tanaman Industri (HTI) mencapai 57 juta hektar dari total 132 juta hektar. Dengan demikian, dapat dilihat hutan di Indonesia telah banyak yang menjadi milik pebisnis.

Ini adalah PR yang besar. Bukan tidak mungkin, tapi kita harus bersungguh-sungguh untuk mewujudkan hutan sebagia solusi.

Ah.. Bapak.. mengenangmu sungguh membawa memori diri ini kembali ke hutan seperti dulu engkau pernah membawaku..
Kalau kamu? Memori apa yang kami punya tentang hutan?




#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 



Disclaimer:
Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis dari Blogger Perempuan Network dan juga WALHI.

Sumber referensi:

https://m.detik.com/finance/industri/d-3108281/bukan-beras-ini-makanan-asli-ri-sejak-zaman-kerajaan

https://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Pempek-Kuliner-Kaya-Gizi

https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4386820/ri-impor-beras-225-juta-ton-sepanjang-2018-ini-rinciannya

https://www.halodoc.com/5-bahaya-nasi-kalau-dimakan-berlebihan

https://hellosehat.com/infografik/fakta-seputar-obesitas-di-indonesia/

https://gc.ukm.ugm.ac.id/2017/08/pentingnya-diversifikasi-pangan-untuk-mendukung-kedaulatan-pangan-indonesia/

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/03/22/p5z7ya335-walhi-hutan-di-indonesia-telah-lama-digerus-industri

Tips Menjadi Ayah yang Dicintai



Setiap bulan Februari, saya selalu teringat dua hal. Satu bertambahnya usia saya dan mama (tanggal lahir kami sama), kedua tentang kepergian ayah.

Sekedar flashback di tahun 2016, ia pergi di tanggal 2 Februari hari Selasa jam 1.30 dini hari. Cerita tentangnya selalu mengalir seperti tontonan yang sudah selalu diputar berkali-kali di ingatan saya.

Ayah adalah sosok yang mempengaruhi karakter kita. Memang, secara genetik ibu adalah penyumbang terbesar kepintaran yang kita miliki. Namun interaksi ayah dan anak dapat membuat karakter ayahnya menurun pada sang anak. 

Setidaknya banyak hal positif yang saya rasa ketika tumbuh dan bergaul dengan ayah. Teruntuk para ayah, jangan sia-siakan masa kecil anakmu. Habiskan lah banyak waktumu dengan anakmu. Isi hari-harinya dengan membuat iya kagum akan dirimu. Kelak ketika kau tak ada, maka ingatan tentangmu tak akan tergerus oleh waktu.

Tips menjadi ayah yang dicintai

Setidaknya, tips ini lahir dari pengalaman diriku. Setelah banyak hal yang kami lalui bersama, berikut adalah tips yang dapat membuat anak mencintai ayahnya sepanjang masa.

1. Perlakukan istrimu dengan lembut
Pertama baca mungkin kamu akan merasa aneh, ini tips untuk dicintai istri atau anak?

Gak ada yang salah. Taukah hai para Ayah?
Ketika kamu memperlakukan istri dengan lembut, ini membentuk pribadi yang penuh cinta di masa mendatang. Bila anakmu lelaki, engkau mengajarkan ia cara memperlakukan istrinya kelak. Bila anakmu perempuan, kelak ia akan mencari sosok suami yang lembut sebagaimana dirimu.

Selanjutnya, memperlakukan istri dengan lembut berarti membuat anakmu kagum. Anak-anak adalah pelindung ibunya. Tak jarang anak-anak marah ketika ibunya diperlakukan dengan kasar. Banyak kasus anak yang membunuh ayahnya karena KDRT. Bagaimana pun, ibu adalah sosok malaikat di hati anaknya meski sang ibu banyak kekurangan.

Masih ingat beberapa tahun lalu saat anakku masih 3. Si sulung sakit, sehingga aku bermalam di rumah orangtua. Ayah, ketika melihatku menyapu lalu mengutip sampahnya tanpa pengki (langsung dengan tangan), ia langsung berujar..

"Hati-hati.. awas ada kaca kecil nanti kena tangan.."

Sungguh menuliskan ini sambil mengenang beliau. Saat itu aku hanya tersenyum. Dalam hatiku berujar
"Bapak.. anakku sudah 3.. aku bukan gadis kecil lagi..seandainya saja kalimat itu diucapkan untuk ibuku, tentu saja cintaku akan semakin bertambah untukmu.."

2. Jadilah Pahlawan untuk anakmu
Buatlah dirimu terlihat bak pahlawan. Buat hal-hal kecil yang terlihat besar di mata anak-anak.
Misalnya membetulkan sepedanya. Menjadi penolong saat anak kesulitan mengerjakan PR. Tau banyak hal ketika ditanya oleh anak. Hal kecil semacam ini membuat anak selalu merasa "ayahku sungguh keren!".

Di masa kecil, bapak adalah orang yang menolongku dalam mengerjakan PR bahasa Indonesia. Mungkin itulah sebabnya, aku suka sekali pelajaran bahasa Indonesia. Jangan kira semudah sekarang, tinggal buka KBBI online, masalah beres. Aku selalu bertanya tentang arti sebuah kata padanya dan selalu benar tanpa melihat kamus. 

Selain itu, bapak memiliki wawasan yang luas, di saat aku kecil aku tau bedanya harimau, singa, hyena, puma, macan dan keluarganya. Di saat aku SMA beliau tau pemain film Bond yang pertama hingga yang terakhir di masa itu..Bapak adalah Google pertamaku.

3. Habiskan Banyak Waktu dengan anak
Waktu yang berkualitas bersama anak akan selalu diingat anak hingga kapanpun. Seandainya kamu adalah ayah yang sibuk, coba luangkan satu waktu di akhir pekan melakukan kegiatan bersama di luar kegiatan yang biasa ia lakukan. Cara mudahnya libatkan ia dalam hobimu.

Aku suka alam bebas, mungkin karena masa kecil yang sering bersama bapak ketika ia memancing atau ketika bapak pernah mengajak kami berkemah di kaki gunung Leuser. Bagiku bapak manly sekali. Ia tak takut bertemu dengan binatang hutan, ia pun tetap tenang bertemu dengan ular. Sayang, aku tak punya foto bapak dengan buaya yang ia tangkap. 

Saat itu banyak warga yang resah karena ada buaya yang menggigit kaki salah satu warga di sungai tempat mereka biasa memancing. Kebetulan saat itu ia sedang di Riau (bawaan Bapak yang humble membuat ia banyak kenalan rasa saudara, bahkan di tempat yang baru) ia pun berhasil menangkap buaya tanpa senjata tajam.

4. Ajarkan Nilai-Nilai Kehidupan
Ayah adalah penentu keberhasilan parenting bagi anaknya. Ibu memang adalah guru pertama, namun ketika ayah tidak terjun dalam pengasuhan, sulit rasanya menerapkan ilmu parenting. Bahkan apabila ayah secara tidak profesional menjadi ayah yang baik, bahkan menjadi pemberat dalam pengasuhan tentu ayah adalah perusak dalam pendidikan dasar di rumah tangga.

Misalnya, ibu mengajarkan anak bangun subuh untuk shalat, sementara ayah tidak shalat. Tentu anak akan sulit untuk didisiplinkan. 

Wahai ayah, nasehat bukan melalui kata-katamu. Namun perilaku yang engkau contohkan adalah sebaik-baik pengajaran.

Saat kecil, selain ilmu agama bapak juga menjadi penentu tontonan yang hadir di ruang keluarga. Selain discovery channel, film yang hadir juga harus sopan bahkan dari segi pakaian. Jangan harap film warkop DKI muncul di rumah kami. Pengajaran seperti itu berhasil membuat kami anaknya, memalingkan wajah ketika SMP / SMA saat menonton adegan kissing di bioskop. Meski tak ada yang melihat, namun jelas hal yang tertanam sejak kecil akan tetap diingat meskipun tak ada yang mengawasi.

5. Ciptakan moment spesial dengan anak
Setiap anak harus diperlakukan spesial. Maka salah satu anak harus ngedate bareng ayahnya. Ini efektif membuat anak mencintai ayah dengan dalam. Ajak bergantian anak untuk playdate berdua denganmu hai ayah. Ceritakan apa saja yang membuatmu sayang pada anakmu. Tumbuhkan rasa percaya dirinya. Nanti saat ia besar, ia akan ingat bahwa engkau adalah penyumbang karakter baik yang ia miliki.

Saat aku kecil, aku pernah pergi bersama bapak memancing sejak pagi buta. Setelah subuh kami berangkat. Naik Vespa Sambil berkali-kali ia memegang badanku lalu berkata "jangan tidur". Tentu ia takut anaknya terjatuh.

Di saat tertentu, kadang tanpa ada moment apapun Bapak suka tiba-tiba ngasih uang saku sambil bilang "jangan bilang yang lain..". Setelah besar, aku baru sadar ternyata semua anak juga diberi uang. Kadang timingnya saja yang berbeda dan cara itu ampuh membuat kita merasa bahwa kita adalah anak yang spesial.


Ok, itulah 5 tips dari saya bagaimana menjadi ayah yang dicintai. Maka, setelah bapak pergi pun, Wasiat yang ia tinggalkan tak pernah kami lupakan.. Kalo kamu, ada cerita berkesan apa dengan ayahmu? Bagaimana pula aksi ayahmu yang membuat ia spesial di hatimu?


A to Z Antibiotik



"Mobil saya itu dari Antibiotik.." ucap seorang dokter kepada perempuan di depannya.
"Lah..kalo semua pasien dikasih antibiotik, jadinya resisten, gimana dok?" Pertanyaannya mengandung protes.
"Kan ada IDI.." jawabnya singkat.


Sungguh yang jahat adalah oknum dokter tersebut. Bukan lembaga yang baru disebutnya, yang diharapkannya akan melindungi bila kasus hukum kelak menimpanya.


Percakapan itu terjadi sekitar 14 tahun lalu, saat saya masih kuliah. Saat itu saya terbiasa ambil kerjaan part time di Sabtu atau Ahad di sebuah perusahaan alat kesehatan. Kebetulan saat itu saya mempraktekkan penggunaan alat test gula darah di depan para dokter.

Dan atasan saya, perempuan dari Jakarta itu kesel saat ngobrol sama oknum dokter yang bangga kalau mobilnya adalah reward dari perusahaan farmasi karena penjualan antibiotiknya mencapai target.

Saya merinding, sebagai manusia yang tidak mungkin tidak sakit, pasti suatu saat saya akan berhadapan dengan dokter. Saya berdoa dijauhkan dari dokter nakal itu dan juga berusaha menjadi pasien cerdas.

seiring waktu berlalu, ketika punya anak dan sedang sakit, saya biasanya membekali diri saya dengan beberapa pertanyaan yang kelak akan saya tanyakan ke dokter anak perihal penyakit dan obat yang akan dikonsumsinya.

Nah, biasanya saya mencari info dulu mengenai sakit yang diderita anak saya. Alhamdulilah dokter anak saya yang biasa, adalah dokter minim obat. Sejalan dengan prinsip saya, obat kimia memang harus minimal dikonsumsi saat tubuh tidak terlalu perlu.

Suatu hari, saya mesti ketemu dokter lain. Ketika ia meresepkan antibiotik saya kembali bertanya banyak hal. Mungkin dikarenakan saya "cerewet" beliau mempersilahkan saya keluar dulu hingga ia selesai menulis resep. Sebelum saya menebus obat, tentu saya konsultasi kembali dengan dokter yang biasa menangani anak saya. Agar saya benar-benar yakin, antibiotik yang diresepkan tersebut memang benar-benar diperlukan atau tidak.

Kapan Antibiotik diperlukan?

Antibiotik, secara umum digunakan sebagai obat yang dipakai untuk mengobati infeksi atau sakit dikarenakan oleh bakteri. Diharapkan penggunaan antibiotik bisa membunuh semua bakteri penyebab penyakit. 

Namun seperti di awal cerita, ada dokter nakal yang sengaja memberi antibiotik untuk segala penyakit. Padahal virus tidak bisa sembuh atau diobati dengan antibiotik.

Ingat ya Mak, hanya penyakit oleh bakteri saja yang bisa diobati dengan antibiotik. Jadi bila si kecil batuk ringan, flu dan diare tidak ada hubungannya dengan antibiotik. Maka sebaiknya tidak perlu mengkonsumsi antibiotik.

Baca juga: Apa itu Milk Blister?

Bila Antibiotik diresepkan

Emak harus bertanya beberapa hal bila ternyata antibiotik terdapat dalam resep yang harus dikonsumsi oleh anak atau anggota keluarga.

Pertama kita wajib bertanya, urgensi apa yang menyebabkan si kecil /kita wajib mengkonsumsi antibiotik tersebut.
Karena memang di lapangan ada dokter yang dikit-dikit antibiotik.

Kedua, tanya mengenai efek bila kita menghilangkan antibiotik dari resep kita. Biasanya dokter akan berkilah bila tidak dikonsumsi maka penyakit tak akan sembuh. Setelah jawaban tersebut cecar ia dengan pertanyaan selanjutnya, yakni sakit disebabkan apa? Bakteri atau virus?

Ketiga, cari second opinion. Bila dokter malas menjawab atau jawabannya kurang memuaskan, kita harus mencari orang lain sebagai penguat kita tentang antibiotik ini. Saya bertanya pada dokter yang biasa menangani anak atau apoteker terpercaya yang saya kenal. Kalau bisa, cari atau tanya pada orang yang netral, yakni yang tidak ada untung /rugi apapun terhadap keputusan mengenai antibiotik tersebut.


Beberapa hal yang harus diperhatikan!


1. Bila ternyata kita harus mengkonsumsi antibiotik gunakanlah secara bijak. Gunakan tepat waktu dan juga disiplin.

2. Perhatikan petunjuk penggunaan. Ada antibiotik yang dikonsumsi maksimal 5 hari ada pula yang digunakan sampai habis. Tanya dengan cermat. Jangan gunakan hanya 2 hari atau ketika sudah merasa sembuh dan meninggalkan antibiotik yang harus digunakan selama 5 hari (misalnya).

3. Buang antibiotik yang bersisa. Beberapa resep antibiotik kering, biasanya akan bersisa bila kita hanya disuruh untuk menggunakan hanya 5 hari. Antibiotik yang sudah dicampur dengan air tersebut harus dibuang. Jangan digunakan kembali untuk penyakit lain.

4. Antibiotik jangan digunakan untuk orang lain. Misal, si kecil diresepkan antibiotik kemudian si kakak menderita penyakit yang sama. Jangan gunakan resep yang sama, karena kakak dan adik memiliki umur dan berat badan yang berbeda. Tentu dosis yang dibutuhkan pun berbeda.

Itulah beberapa hal yang terkait dengan antibiotik. Bijaklah dalam penggunaan obat apapun. Karena anak ataupun keluarga kita bukan tidak mungkin akan mengalami resistensi. Resistensi adalah keadaan di mana bakteri sudah kebal terhadap antibiotik dan kemudian menggerogoti tubuh pasien. Keadaan ini dapat mengakibatkan kematian.

Semoga ke depannya industri farmasi dan kesehatan tidak lagi menjadikan pasien sebagai ladang uang. Maka bijaklah kita sebagai pasien..
Kalo emak, ada cerita apa tentang antibiotik?

Quality Time is a Must!


Selama 10 tahun berumahtangga, bisa dibilang kalau waktu kami banyak bersama. Saya selalu di rumah bersama anak-anak, dan suami yang bukan kantoran juga sering bersama saya. Namun kadang kuantitas kami bertemu tidak terlalu berkualitas. 

Kebanyakan rumah tangga pun sering hadir dalam satu ruangan yang sama, namun gadget membuat mereka berpisah dimensi. Entah mengapa benda satu itu sangat ajaib. Bisa mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. 

Keluarga kami sebenarnya tidak mengalami gangguan gadget, namun saya merasa sinyal-sinyal kedekatan saya dan suami satu bulan ini agak jauh dari biasanya. Dari mana tau? Dari kurangnya waktu kami bersama ngobrol berdua, bahasa gaulnya pillow talk. Namun sejak kelahiran anak ke 5, kami pisah ranjang. 

Dia bersama anak kami yang lelaki dan aku sekamar dengan bayi dan anak perempuan. Urusan ranjang cukup jadi rahasia berdua, namun intinya kami kurang "ngobrol" seperti biasa.

Emang biasanya ngobrolin apa sih?
Ya,,secara perempuan itu harus mengeluarkan lebih dari 20.000 kata perhari tentunya semua hal harus diomongin. Ditambah lagi beberapa rencana ke depan yang belum dapet titik temu saya rasa harus serius diobrolin.

Biasanya, pulang malam dia selalu membangunkan saya untuk bersama menikmati nasi goreng atau mie Aceh berdua. Bukannya pelit, sungguh selain romantisme kalo gak berdua gak bakalan habis. 

Ya, jadinya tengah malam kami sering bersama yang terkadang ada diselingi jeda iklan si bayi menangis minta susu. 


Tanda anda butuh Quality Time

Ada beberapa hal, yang merupakan tanda-tanda butuh Quality Time bersama pasangan..

1. Sering bertengkar. 
Gak harus pukul-pukulan, hihi. Itu mah KDRT. Bertengkar di sini lebih seringnya ada gejala balas membalas kata yang tak se-ide. Dalam rumah tangga mah ini biasa.. 
Iya, namun bila keseringan bukan tak mungkin menjadi pertengkaran besar.

2. Ada perang dingin
Diem-dieman saat tak enak hati pada pasangan juga merupakan tanda butuhnya Quality Time. Jangan sampai terlalu dingin, mengakibatkan hubungan jadi freeze.

3. Semua tampak salah
Ketika ia begini, kita tak suka. Melihatnya juga bikin naik darah. Haha, ini udah tanda bahaya banget buat kesehatan hubungan suami istri. Cuss atur waktu buat Quality Time.

4. Kurang komunikasi
Ini masalah saya, tak ada point pertama hingga ketiga, namun saya merasa ada yang perlu dibicarakan. Sehingga saya merasa Quality Time butuh dilakukan!

Quality Time Harus Diupayakan


Mengapa harus diupayakan? Karena Quality Time penting bagi hubungan suami istri. Jangan tunggu sesempatnya. Karena "selingkuh" juga tidak pernah menunggu sempat. Kalau selingkuh saja harus diupayakan, apalagi hubungan halal yang penting!

Nah, Rumah Tangga itu Memang Harus dirawat! Salah satunya ya dengan Quality Time.

Jangan mikir Quality Time itu harus pergi liburan berdua. Harus di tepi pantai atau di area wisata. Quality Time bisa dilakukan hanya beberapa jam saja, dengan tujuan mempererat hubungan, memecahkan masalah atau memberi jalan keluar pada beberapa rancangan masa depan.

Dan saya yang punya anak lima, kalau nunggu bisa berdua saja, lalu bagaimana nasib kelima anak kami? Kan gak mungkin di titip ke pak RT atau di kantor polisi. Apalagi suami adalah tipe ayah yang tidak mau menitipkan anak pada kerabat.

Saya bikin rencana dadakan. Di saat dia pulang ke rumah, saya katakan "Yang, kita ke Bakaran Jagung (Penatapan, Berastagi) ngobrol, minum kopi, makan jagung, lalu balik ke Medan lagi yuk.."

Karena saya tipe perencana, sebelum saya sampaikan sudah saya siapkan apa hal yang perlu dibawa untuk mendukung "obrolan" kami.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan dia dengan santainya say OK!

Teringat esoknya ada kajian selama sehari penuh, dia berhenti di depan minimarket. "Yang, capek banget besok.. kalo kurang istirahat nanti besok Abang ngantuk pas kajian"

Ok, ganti rencana. Yang dekat saja..
Aku katakan ke Belawan saja, melihat kapal dan lampu-lampu di laut di malam hari bersama anak-anak. 

Haha, anak-anak bersorak. Suami membeli mie instan cup untuk dimakan sambil ngobrol. Lalu kami masuk tol. Suasana malam di tol sudah sepi sekali, maklum hampir jam 12 malam. Hanya sesekali dijumpai truk menuju pelabuhan. Beberapa pabrik di pinggir tol yang kami lewati tampak gemerlap oleh lampu yang banyak di malam hari.

Sorry, gambarnya blur karena motret sambil pegang bayi yang aktif 

Keluar dari tol, kami langsung menuju ke pelabuhan. Namun alangkah terkejutnya, ternyata banyak sekali perubahan di sana. 
Dan tempat tujuan kami sudah ditutup untuk umum. Wajar sih sebenarnya, karena tujuan yang dulu sering kami datangi saat sore hari adalah tempat wisata dadakan warga yang ingin melihat laut. Namun kurang safety karena banyaknya kapal besar yang merapat.

Ok fine, ganti tujuan ke dermaga yang agak kecil. Anak-anak tampak sudah mengantuk berat. Haha, ini hampir jam 1 pagi. Dan kami sekeluarga seperti kurang piknik nyari tempat cuma sekadar ngobrol. 

Kebetulan yang manis, ternyata jalan ditutup karena ada acara. Dan saya pun tertawa. Suami mulai resah karena mata sudah mengantuk namun belum ketemu tempat mojok. Gak mungkin saya yang menggantikan nyetir karena saya gak pernah belajar mengendarai mobil.

Saya katakan padanya, "ke arah pulang yuk.. gak usah lewat tol, nanti nemu sungai kita mojok di pinggiran.."

Tepat di Martubung seberang Bakso Labuhan,ada taman di pinggir sungai. Sayangnya untuk ke sana, harus turun dari mobil dan berjalan ke dalam. Sementara anak-anak sudah pada tidur. Hanya bayi 8 bulan saya yang masih melek. Haha.

Jadi kami memilih untuk duduk di pinggir sungai saja dan mulai menyiapkan mie instan dan kopi. Saat mau turun dari mobil, ada seseorang yang melihat kami dari kejauhan. Mungkin dipikirnya remaja yang mau berbuat asusila. Ketika melihat kami membawa bayi, ia pun berangsur pergi dan tak lagi peduli pada keluarga aneh yang ia temui, haha.

Kemudian si nomer 2 terbangun, kemudian ikut duduk bersama kami. Sambil ia menikmati mie instan seduhnya, kami pun bercerita beberapa hal. 
Si nomer 2, dengan latar sungai Deli yang di taman Aloha.. (ssstt, jam 2 pagi)

Sementara menunggu ia selesai dengan mie instan nya.. kami pun selesai ngobrol berdua. Seketika hilang ngantuk suami sehingga saya mengajak pulang. Di jalan kami masih sambil mengobrol.

Esok paginya baru tau, ternyata taman yang kami datangi menjelang pagi itu namanya taman Aloha. Itupun karena google minta review tempatnya. 

Sebelum suami berangkat kajian, aku katakan padanya bahwa masih ada satu hutang membawa anak-anak ikut Quality Time sesuai dengan planning pertama.

Begitu lah cerita Quality Time kami yang kelihatannya dipaksakan, kalo kalian Mak..ada cerita seru apa saat Quality Time?

Wanita Tak Perlu Keluar Rumah?



Seorang wanita berkeluh kesah..
"Saya tidak bisa ikut mengaji lagi Bu.. Suami saya bilang perempuan itu paling gampang! Cukup shalat dan puasa, tak payah baca Al Quran dan ke sana-sini ikut kajian, asalkan suami ridho.. langsung masuk surga dari pintu mana saja.." 


Bukan sekali dua kali, bahkan saya sungguh sering mendengar lelaki berkata demikian. Mengapa kok kesannya mengaji menjadi sesuatu yang "menakutkan"?


Saya tak ingin menyela pembicaraannya. Di suatu kesempatan ingin saya sampaikan pada para suami di luar sana, 
"Situ ok?" Eeeh bukan..

Saya ingin bertanya, 
"Sehebat apakah kau mentarbiyah istrimu, sampai berani mengatakan bahwa ridhomu sanggup membawanya ke syurga?"

Tidak ada yang salah dengan kalimat ridho suami adalah yang utama. Namun, suami yang tidak ridho istrinya pergi mengaji sudah tentu adalah suami yang sulit dicari keridhoannya terhadap istri. Camkan itu Rhoma! Eh..



Kenapa perempuan mesti ikut tarbiyah?

Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa saya sampaikan, ini pas sekali baru saya dapatkan dari materi kajian yang saya ikuti baru-baru ini.. 

1. Penanaman dan Penjagaan Iman
Oo.. cuma iman? Tunggu, perkara iman tak sesimpel itu. Iman itu tidak semudah menurunkan warisan kepada anak cucu. Iman itu mesti diupayakan. 

Dalam Al Qur'an Surat Ibrahim ayat 24 


Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, 



Kalimat yang baik maksudnya adalah La Ilaha ilAllahu. Kalimat ini adalah kalimat mengesakan Allah dan mengimani bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Karena kita tinggal di Indonesia, yang lebih banyak tradisi dari banyak suku bangsa, tak heran bila banyak sekali budaya dan tradisi nenek moyang yang terkadang masih sering kita ikuti. Tak jarang berlawanan dengan kalimat tauhid.

Misal, bayi baru lahir sering diberi gelang atau benang yang dipercaya menjauhkan bayi kita dari makhluk halus. Padahal sejatinya sebaik-baik penjaga adalah Penjagaan Allah SWT.

Mampukah Engkau hai para suami, menanamkan nilai iman dasar sebagai modal istrimu mendidik anak?
Bila tak sanggup, masih berkata "Tak perlu jauh-jauh mengaji atau keluar rumah untuk menuntut ilmu?"


2. Amal Islami Menuntut Kerjasama Antar Personal
Dalam Al Maidah ayat dua disebutkan bahwa 


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Allah menganjurkan sesama muslim untuk ta'awun. Yakni saling tolong menolong dalam kebaikan. Tarbiyah adalah sarana saling tolong menolong dalam kebaikan. 


3. Penyiapan Akhwat Muslimah adalah Darurat
Pernah tau ada berapa banyak jumlah wanita Muslim?
Apakah semuanya berhijab? Apakah hijabnya konsisten atau hanya ketika pergi jalan-jalan? Sementara keluar rumah sambil jemur baju masih membuka hijabnya? Apakah mereka muslimah yang kaffah dan memang menjalankan kewajiban menutup aurat?

Warga Medan, warga Medan.. (eeh kenapa Medan aja? Karena kemarin lagi heboh sama yang ngaku ustadz terus posting betapa ia bangganya dengan istrinya yang tak menutup aurat! Nauzubillah min dzalik..). Saya main donk ke postingan dese, ealah dalllah.. ternyata banyak sekali muslimah yang nulis, "saya Muslimah  dan saya bangga tak berhijab" tsumma naudzubillah..

Semoga Allah selalu membantu kita untuk teguh menggigit ajaran Islam yang benar.Aamiin

4. Mempersiapkan Generasi yang Akan Datang yang Shalih 
Bila kita melihat ke belakang, para imam besar seperti Imam Al Bukhori, atau Imam Masjidil Haram, Imam As Sudais. Mereka begitu bertakwa dan juga hebat karena ibundanya bukan orang sembarangan. Artinya?
Generasi yang hebat pun dibentuk oleh ibu yang hebat. Untuk menjadi hebat tak bisa hanya diam di rumah tanpa ikut kajian. Orang hebat karena berilmu. Yang lagi menyakitkan adalah ketika kita beramal Shalih namun tak diterima karena kita belum berilmu. Mengerjakan ibadah sembarangan karena tak berilmu. 

5. Akhwat Muslimah Adalah Unsur Pokok Pembangunan Masyarakat
Dari mana di mulainya pembangunan akhlak sebesar-besarnya?

Dari rumah. Dari anak yang kita didik. Lalu, guru seperti apa yang kita harapkan mampu memberikan penanaman akhlak yang mulia bila sang ibunda bukan orang yang terdidik?

Anak-anak bersikap baik dan juga santun bukan karena nasehat yang kita tanamkan. Anak-anak lebih suka mencontoh apa-apa yang kita lakukan. Ibadah adalah salah satunya.
Tarbiyah mengajarkan kita konsisten untuk beribadah. Ada mutabaah yang menjadi pengingat kita agar konsisten dan juga bersemangat. Beramal sendiri, baik sendiri, berat sekali. Namun bila ada support system yang terbentuk, beramal dan berbuat baik adalah sebuah kemudahan dalam meraih pahala.

6. Fitrah Perempuan Diberdayakan untuk Menjadi Pondasi Kehidupan
Perempuan fitrahnya memang mendidik dengan sabar, lemah lembut dan penuh kasih sayang. Bukan tak mungkin fitrah tersebut hilang karena kondisi iman yang naik turun, kondisi lelah mengurus keluarga. Namun tak diingatkan kembali dengan ajaran-ajaran dan juga siraman rohani di dalam tarbiyah. Bahwa mendidik anak dengan baik adalah sebuah ibadah yang sangat mulia. Ibadah yang menghasilkan bukan hanya anak yang baik. Namun generasi hebat di masa mendatang. 
Mungkin saat ini kita terbiasa melihat anak berpacaran di usia pra baligh, pra pubertas. Namun bayangkan bila kita mendidik anak dengan baik, tiap rumah tangga muslim mendidik anak "la taqrobu zina" maka di masa mendatang akan menghasilkan banyaknya rumah tangga baik yang dimulai dengan taqwa.


Selain ke enam hal di atas, saya pernah diberitahu oleh seorang coach di bidang usaha, bahwa pengamalan muslim yang baik adalah di surat Al Ashr.  

Dikatakan semua manusia itu merugi kecuali melakukan 4 hal.
Yakni:
1. Beriman. (Belum cukup)
2. Beramal Sholih.(masih kurang)
3.Saling mengingatkan dalam kebaikan (sedikit lagi)
4. Saling mengingatkan dalam kesabaran. (Perfect)


Di manakah keempat hal tersebut di dapat?
Tentu dalam wujud komunitas pengajian dan tarbiyah. 

Lalu, dengan panjangnya penjabaran yang saya berikan. Masihkah bertanya dan menganjurkan istri hanya diam di rumah?


Empat Jenis Manusia Dalam Organisasi




Hari Sabtu, saya cukup senang ketika diberi mandat untuk hadir menjadi peserta yang mewakili salah satu organisasi yang saya ikuti. Tadinya saya pikir cuma mau menyamakan segala tetek bengek yang berurusan dengan surat menyurat, ternyata begitu masuk ruangan saya membaca spanduk acara kemudian cukup terkejut karena ada coach Ramli yang akan menjadi pembicara.

Di Medan sendiri, nama Muhammad Ramli, ST,MSi sebagai coach cukup mempunyai nama besar. Beliau termasuk dalam jajaran pengusaha sukses yang juga down to earth. Beliau ini bukan hanya dipercaya untuk urusan sebagai pengisi seminar ekonomi, pengusaha dan sebangsanya. Tapi juga untuk membuat perubahan dalam organisasi dengan memberi pelatihan bagi orang di dalam organisasi tersebut. Selama 2,5 jam berbicara masih kurang lama bagi saya karena pembawaannya yang menarik dalam menyampaikan materi.

Materi selama 2,5 jam gak akan mungkin cukup saya share dalam satu tulisan. Namun ada satu highlight yang saya ingin sekali bagikan mengenai perilaku orang-orang yang ada dalam organisasi.

Kebetulan organisasi yang saya masuki, sebelumnya sudah vakum di Medan. Coach sangat menyayangkan sekali dan memberi semangat pada peserta bahwa berorganisasi memang sangat melelahkan karena umumnya manusia yang ada dalam organisasi adalah manusia level 1. Nah loh.. apa itu? 

Nah, masuklah kita dalam bahasan lengkap tentang empat jenis manusia dalam organisasi.

1. Manusia level satu

Manusia level satu yang tadi kita bicarakan adalah tipe manusia yang menyebalkan. Di dalam sebuah instansi, kantor maupun organisasi pasti kita menemukan orang tipe level satu. Orang level satu hanya mementingkan dirinya sendiri. Makanya sangat selfish sekali. 

Di jalan, orang-orang yang suka menyerobot lintasan, melanggar lampu merah, dan tidak tertib mereka adalah tipe manusia level satu. Kabar buruknya, jumlah manusia yang begini mencapai 89persen dari populasi. Makanya wajar saja, ketika kita berorganisasi kita sering lelah karena jenis manusia level satu ini memang susah bergerak bila tidak ada keuntungan untuk dirinya sendiri.


2. Manusia level dua

Tipe manusia level dua ini sudah lebih lumayan dibanding level satu, karena jenis ini sudah mulai memikirkan dan berbuat untuk dirinya dan juga keluarganya. Namun sayangnya jumlah mereka tentu jauh lebih sedikit daripada si manusia level satu. 


3. Manusia level tiga 

Jenis manusia level tiga,amat sangat sedikit sekali, mereka ini sudah mulai berbuat dan mementingkan bukan hanya dirinya dan keluarga namun juga lingkungan sekitar (orang lain). Biasanya jenis begini menjadi orang yang sering diminta tolong melakukan sesuatu dan dapat diandalkan. Jumlahnya pun makin lebih sedikit dibanding manusia level dua.


4. Manusia level empat

Manusia level empat, adalah manusia yang berbuat bukan hanya dirinya, keluarga dan lingkungan. Dia adalah orang yang amat berguna bagi orang banyak. Tipe orang begini di dunia jumlahnya sangat terbatas. Sosok mereka bisa dibilang paripurna karena hidupnya didedikasikan untuk kepentingan orang banyak.


Kembali lagi berbicara mengenai jenis level satu. Ketika kita bertemu dengan orang jenis ini disarankan untuk selalu tersenyum menghadapi orang ini. Jangan jadikan keadaan dan orang lain sebagai stimulus untuk kita menjadi tidak bahagia atau sebal.

Jadi, manusia ini perasaan dirinya dikendalikan oleh neuro yang ada di otaknya. Dan otak manusia dikendalikan oleh meta program yang ada dalam diri seseorang tersebut. Jangan jadikan sesuatu sebagai stimulus yang memasuki meta program kita sehingga kita tidak bahagia.

Stimulus dari luar, lanjut coach Ramli misalnya saja rekan kerja yang nyebelin, macet, mobil hilang atau ditabrak dan sebagainya (yang tidak mengenakkan) tidak boleh menentukan kita bersikap jadi manusia level satu juga.

Ada cerita menarik dari coach Ramli ketika ia meletakkan mobil di pencucian mobil karena akan pulang mudik. Ternyata sebelum dijemput, mobilnya dibawa kabur orang lain. Suasana sedang puasa, kebetulan akan ramai tamu yang berbuka di rumahnya. Ketika tau mobilnya hilang, ia langsung bersyukur dan berdoa.

"Ya Allah Alhamdulillah, ternyata aku punya mobil. Dulu tidak punya, kemudian punya, lalu Engkau ambil kembali, terimakasih. Mungkin mobil itu berbahaya bila kami gunakan untuk mudik nanti"

Jadi, stimulus dari luar berupa mobil hilang tidak membuat sedih hingga stres. Karena akan menjadi double rugi bila tidak bahagia. Bahagia dan senyum adalah modal besar agar kita tetap sehat.

Jadi, pesan Coach Ramli mulai sekarang jadikan segala sesuatu yang di luar bukan stimulus yang mempengaruhi diri kita menjadi sedih. Satu lagi pesan yang luar biasa adalah jadikan orang lain selalu nyaman dan bahagia dengan kehadiran kita. Mulailah latih dari orang terdekat, misalnya keluarga, teman atau tetangga. Sekarang keputusan ada di tangan kita. Mau menjadi manusia level yang manakah kita?

Total Pageviews