pheromone...
Aku berjalan pulang menuju apartemenku. Sengaja berjalan untuk membuang semua pikiran yang mengganggu kehidupanku di jalanini. Berusaha mengoyak-ngoyak kenyataan pahit kisahku.
Semua ini terjadi karena pheromone! Sial, kenapa aku harus memiliki pheromone yang begitu kuat? Akhirnya, hidupku sendiri yang kesulitan. Orang-orang gak akan pernah mengerti. Mereka hanya bisa mencibirku dan menganggap aku perempuan nakal!
Apa salahku? Memangnya aku gak punya perasaan? Tidak bisa jatuh cinta? Meskipun cinta ini salah?
Oh, daritadi aku memaki-maki pheromone ini. Mungkin kalian bingung apa itu pheromone. Baiklah aku akan berusaha menjelaskan dengan singkat.
Mungkin kalian pernah melihat dua orang laki-laki yang berbeda. Mungkin si A lebih cakep dari si B. Namun, si B lebih digilai oleh perempuan yang melihatnya. Itulah pekerjaan pheromone sial yang mengidap di tubuhku. Padahal, aku tidak secantik artis dan bintang film, tapi kenapa masalah pria begitu menyesakkan otakku.
Aku terlibat percintaan dengan beberapa laki-laki. Aku mencintai kekasihku yang sudah 3 tahun bersamaku. Tiba-tiba saja seorang laki-laki beristri mengambil sebagian hatiku. Mungkin perasaan ini sulit diterima. Mereka yang mengetahui ini, seperti teman-teman di kantor melihatku, memandangku dengan perasaan jijik. Sudahlah, semoga suatu saat nanti kalian mengerti bagaimana menjadi aku.
Hhhh, akhirnya aku sampai di depan pintu apartemenku. Aku mengambil kunci dari dalam tas, lalu membukanya.
Tiba-tiba, sebuah tangan mendarat di bahuku. Aku menoleh.
‘Jane, aku mau pindah..’ kusadari ternyata dia Daren. Laki-laki yang persis tinggal di sebelah kamar apartemenku.
‘Jane..’ dia menggoyangkan tubuhku. Aku tersentak, masih bingung dengan keadaan ini.
Ia menarik tanganku, duduk menghadap jendela di sofa lorong apartemen.
‘ada yang ingin aku sampaikan Jane’ katanya.
‘hh? Kenapa pindah?’aku balik bertanya.
‘mungkin aku akan kembali, tapi semua itu tergantung kamu.’ Jawabnya.
‘aku?’ aku masih bingung. Ada apa lagi ini?
‘ada yang ingin aku tanyakan..’
‘hm..’
‘selama ini, tinggal bersebelahan denganku, sering berkomunikasi, apa kamu tidak merasakan sesuatu?’
‘maksudnya?’
‘Jane, maaf.. aku tau kamu sudah punya pacar, tapi aku benar-benar mencintai kamu.. kamu punya rasa yang sama?’
‘hhh??’ aku masih mengernyitkan kening dengan wajah yang bingung. Dalam hati aku terus memaki pheromone ini!
‘baiklah Jane kalau kamu masih bingung, aku tau ini sulit, kamu juga pasti tidak bisa memutuskan sekarang. Tapi, hubungi aku besok pagi ya..’
Aku cuma mengangguk. Pantas saja, Daren begitu baik selama ini. Dia selalu mengantarkan makan malam untukku. Terkadang malah menjadi teman curhat yang asik. Kenapa ujungnya menjadi seperti ini? Sial! Pheromone sial!
‘Jane, masuklah… kamu pasti capek seharian ini’ katanya lagi sambil mengantarku masuk ke dalam.
Tiba-tiba ia mendaratkan ciuman di keningku.
Aku masih bingung!
‘slamat malam, jangan lupa besok hubungi aku ya..’ katanya sambil menutup pintu kamarku.
Daren, hhhhh, andai saja kamu tahu perasaanku saat ini. Masalah apa yang sedang aku hadapi, pasti kamu gak kan pernah menyatakan cinta ini.
Aku bisa gila!
Lama aku menangis di atas bantalku.
Mengapa menjadi serumit ini. Masalah dengan pacarku, dengan pria itu, dengan Daren.
Apa lagi kegilaan yang akan dilakukan pheromone ini kepadaku?
Kulihat jam di dinding, jarum kecil hampir menunjuk ke angka sepuluh malam. Namun aku belum makan juga.
Aku mengambil sweaterku. Keluar kamar mencari makanan di luar.
Aku menyebrang menuju tempat makan persis di depan apartemen.
Duduk menunggui pesanan. Di sampingku lewat seorang lelaki dengan tatapan yang dalam kepadaku. Aku melihatnya, kemudian ia menyapa
‘sendiri? Boleh aku duduk di sini?’
Pheromone sialan! Makiku dalam hati.

0 Comments