dia selingkuh lagi!
Suamiku selingkuh lagi!
Kali ini aku tidak membanting handphone miliknya seperti biasa, atau menjambak-jambak rambutnya, apalagi menamparnya.
Kali ini aku tidak pula keluar dari rumah untuk minggat memberi peringatan dan diiringi dengan kejaran darinya, memohon dan mengemis agar aku memberi kesempatan.
Hhh, rasanya bodoh sekali. Kalo dia mau pergi dari rumah ini ya pergi saja. Dia pikir dia laki-laki paling ganteng sejagat ini?
Dia pikir aku terlalu mencintainya.
Dan yang paling penting ‘apa dia terlalu berharga bagiku?’
Rasa-rasanya tidak.
Dia seperti laki-laki biasa yang aku temui di jalan sepanjang aku pergi bekerja. Ya.. seperti laki-laki yang aku temui di angkutan umum, di trotoar, di kantor. Tepatnya nothing special!
Dan yang aku rasa bila dekat dengannya adalah MATI RASA.
Bukan sekedar mati rasa. Maaf ya, bila dia mengajakku melakukan hubungan layaknya suami istri yang aku rasa adalah seperti berakting menjadi perempuan nakal. MENJIJIKKAN!
Maka, aku tidak pernah melakukan lagi dengannya.
‘Ma, kok gak buat sarapan?’ tegurnya membuat aku terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan handphone yang tengah aku pegang.
Dia terperangah, sadar bahwa aku memergokinya selingkuh. Dia salah tingkah, dan..
‘Ma, jangan pikir macam-macam, papa gak…’
‘terserah papa, mau selingkuh, mau gak, mau jungkir balik, mau mati di luar sana pun gak masalah!’ aku memotong kalimatnya berkata di telinganya dengan pelan seakan tidak terjadi apa-apa.
Aku berjalan keluar kamar mengambil sepatu dari rak dan…
‘Ma, bareng yuk papa antar…’ katanya.
Hhhh, dia tau gak sih yang aku rasa? Aku muak. Aku menatap ke arahnya dan berkata
‘oh tadi minta sarapan ya? Gak sempet tuh masak. Kalo mau antar, ya antar aja yang udah nungguin kamu. Katanya buruan tadi, dia takut telat!’
Tak pelak, kata-kataku membuat telinganya panas. Dia pasti takut hari ini aku tidak pulang, dia pasti takut hari ini aku melakukan hal-hal berbahaya. Dia pikir aku sebodoh itu?
Oh Man! Aku perempuan yang masih sangat laku di luar sana!
Jadi, salah besar kamu sia-siain aku!
Akhirnya sampe lagi di kantor yang menyenangkan ini. Bagi sebagian orang mungkin tidak menyenangkan.
Setiap individu pasti berbeda dalam melihat segala sesuatu.
Pekerjaanku menyenangkan karena aku hanya melihat setumpuk benda mati dan angka-angka di layar komputer yang perlu dihitung dan disusun dengan cermat. Tidak ketemu orang, manusia, selain teman sekantor yang mereka juga jarang berbicara. Ya! Aku memang introvert.
Tapi…… aku sangat komunikatif pada seseorang yang kukenal dengan baik. Misalnya pada beberapa teman baikku seperti Lena ataupun Roy.
Aneh!
Tapi bagi sebagian orang mungkin pekerjaanku sangat tidak menyenangkan. Di balik meja yang membatasi komunikasi antar pribadi.
Tapi mereka salah! Justru aku leluasa melakukan komunikasi antar pribadi.
Komunikasi dengan diriku sendiri, aku bebas berbicara dengan hatiku, apa yang harus aku lakukan ataupun apa yang harus aku jalani agar aku bahagia.
Saat banyak masalah seperti ini, aku pasti ngobrol sendiri dengan diriku. Bukan! Aku belum gila. Ini manjur untuk menjauhkan aku dari kegilaan.
Tiba-tiba teringat Lena dan Roy.
Oh iya, meskipun aku dekat dengan mereka, aku tidak pernah membicarakan masalah keluargaku dengan mereka. Dengan orangtua aja tidak, apalagi mereka. Mereka hanya tau aku bahagia hidup dengan suamiku.
Mmmh, meskipun mereka pernah melihat suamiku dengan perempuan lain, aku selalu bisa meyakinkan kalau perempuan itu sepupunya, adiknya, siapanya kek. Yang penting mereka hanya tau aku BAHAGIA titik.
Kuraih handphone dan memanggil Lena.
‘ya win..’ jawabnya.
‘cepet banget angkatnya, kirain blom nyambung tadi..’ jawabku.
‘ntah ya, kayak feeling. Bahkan tadi mau telpon kamu..’
‘mh, ikut-ikutan, pa kabar Roy?’
‘dia lagi keluar kota.. tugas, aku sendiri nih..’ Roy dan Lena memang pacaran sejak kami SMA. Anehnya kami bersahabat bertiga sampai mereka benar-benar menikah dan bukan hal yang besar bila kami sering bepergian bertiga layaknya sahabat, dan mereka pun tidak pernah terganggu dengan kehadiranku.
‘Win,, kok diem?’ aku langsung tersadar dari lamunanku.
‘padahal pengen seru-seruan ntar kita bertiga, eh anggota kurang satu..’ candaku.
‘ya udah la buk, gakpapa, ntar aku temenin, ayo mau kemana?’ tanyanya.
‘kemana ya Len? Dah lama nih gak ngumpul lagi..’aku malah balik tanya..
‘makan yuk ntar sore, aku ada rekomendasi tempat baru, serrrrrru abis’ dia sepertinya begitu bersemangat.
‘ok..’
‘I’ll pick u at 5th o’clock, ok?’
‘ok!’
Aku teringat pada Lena dan Roy, rasa-rasanya mereka gak pernah tuh ngambekan apalagi sampe berantem. Seandainya mereka tau tentang rumah tanggaku.
Hhhh, kacau..
Sekacau pekerjaanku yang telah aku kerjakan. Daritadi si bos complaine ada aja yang salah dalam laporan yang aku buat.
Aku males keluar makan siang, biar aja ntar pulang kerja aku makan sama Lena.
Akhirnya aku memperbaiki semua laporan yang telah dicorat-coret si bos. Pas! Aku menyelesaikannya tepat pukul 5.
Handphone ku bordering, Lena memanggil.
‘ya say, aku keluar nih..’ jawabku.
Aku mengambil tasku, buru-buru keluar takut Lena lama menunggu.
Dari kejauhan tampak Lena menunggu di dalam mobilnya. Mobil Roy sih.. karena Roy lagi di luar kota,maka Lena yang bawa sendiri.
‘lama?’ tanyaku.
‘gak sih… yuk naik..’ katanya.
Kami menyusuri jalan yang rasanya sudah cukup lama tidak aku lewati.
‘kayak mau ke SMA kita ya?’ tanyaku akhirnya ngeh juga.
‘iya say.. dekat SMA kita tempat makannya..’ jawabnya.
‘iih, banyak anak SMA donk.. gak malu ntar?’
‘ya gaklah.. orang pulang kerja juga banyak makan di situ. Ya campur-campur lah.. mungkin sih sekalian..’ katanya menggantung kalimat.
‘sekalian cuci mata liat anak SMA..’ jawabnya kemudian.
‘dasar gendeng kamu..’ kataku.
Kami pun tertawa. Kalo ada Roy, mungkin akan lebih heboh lagi..
Kami parkir dan kemudian memesan makanan. Semua menuku kuserahkan pada Lena, karena dia sudah tau menu andalan apa aja yang enak di sini.
‘udah berapa lama Roy gak di sini Len?’ tanyaku.
‘mh, masih seminggu kok..’ katanya.
‘emang sampe brapa lama?’ tanyaku.
‘belum tau tuh,,, abisnya gak bisa dibilang juga sih.. kadang cepat, kadang lama.. tergantung pekerjaannya.. siap atau belum..’ jelasnya.
‘emang kamu gak kangen?’ tanyaku.
Lena tertawa, aku hanya diam.
‘ya kangenlah.. kamu aja bisa kangen Roy, ya kan?’ tanyanya balik.
‘mh.. kangen kalian dua sih.. udah lama banget kita gak ngumpul’
‘suami kamu apa kabar?’ tanya Lena. Aku terdiam sesaat. Berat menceritakannya. Aku mengurungkan niat untuk cerita ke Lena.
‘hei… kok melamun?’ tanyanya.
‘hhh, apa? Tadi tanya apa?’ kataku pura-pura tidak mendengar.
‘suami kamu apa kabar?’
‘ooh, baik. Hari ini dia banyak tugas, jadi gak jemput’
Akhirnya makanan pun datang. Kami masih bercerita banyak hal, mulai dari SMA sampe beberapa cerita tentang mereka. Tapi sedikitpun aku tidak menceritakan suamiku.
Jam menunjukkan pukul 7. Saatnya aku harus pulang. Lena mengantarku. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih untuk hiburan sesaat yang dia beri hari ini.
Aku masuk ke rumah. Penasaran dengan keadaan Roy. Entah kenapa aku begitu kangen padanya, pengen curhat sama Roy, pengen tau dari sudut pandang laki-laki. Seperti apa sebenarnya yang diinginkan suamiku?
Aku memencet nomer Roy, lama aku menunggu, tak ada jawaban.
‘halo Win…’tiba-tiba ada jawaban dari ujung sana.
‘Roy, pa kabar?’ tanyaku.
‘baik, kamu di mana nih?’ tanyanya kembali.
‘di rumah lah.. kamu di mana?’
‘ada deh..’ jawabnya.
‘iya, udah tau.. kamu di luar kota kan?’
‘dari mana kamu tau? Lena?’ tanyanya bingung.
‘ya iya, dari mana lagi emang?’ tanyaku balik sambil tertawa.
‘gak kok Win..’
‘apanya yang gak?’ tanyaku bingung.
‘aku gak di luar kota. Di rumah orang tuaku’ jawabnya sendu.
‘Roy, kamu becanda kan?’ tanyaku sambil tertawa.
‘serius Win,kamu mau dengar curhatan aku?’ tanyanya serius.
‘mh…’
Ternyata mereka ada masalah. Beberapa kali Lena ketahuan selingkuh. Aku merasa senasib dengan Roy. Tapi aku gak yakin. Masak sih? Rasa-rasanya Lena baik sekali. Gak mungkin, rasaku.
Akhirnya, besok Roy ingin ketemu denganku. Ngobrol tentang ini.
Lama aku memikirkan mereka, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Suamiku pulang. Aku lirik jam di depanku. Jam 1 pagi.
Aku memejamkan mataku. Kudengar langkahnya memasuki kamar. Kemudian kurasakan ciuman mendarat di keningku. Sesaat kucium parfume yang berbeda darinya. Sangat familiar karena parfume wanita. Lama kuingat-ingat.. J’adore… ternyata.
Pasti dia selingkuh lagi. Aku gak ambil pusing. Aku pun tertidur.
###
Sore ini Roy ingin bertemu denganku. Kali ini aku harus hati-hati. Takut Lena berfikir yang tidak-tidak seandainya kami bertemu. Aku menelpon Lena, menanyakan ia dimana. Ternyata hari ini dia tidak di rumah. Katanya terlalu sepi di rumah sendiri, ia pergi ke rumah orang tuanya.
Aku menunggu Roy di tempat aku biasa bersama mereka bertemu. Karena tempat ini berlawanan arah dengan rumah orang tua Lena.
‘Win..’ panggil seseorang. Suara Roy!
‘hhh, lama kamu di sini?’ tanyanya.
‘gak kok.. duduklah..’
Kami memesan minuman, gak enak ngobrol serius sambil makan.
‘aku masih mencintai Lena, Win.. tapi kenapa dia gak bisa berubah ya..’ keluhnya.
Dalam hati, aku ingat suamiku. Berbeda sekali dengan Roy. Kasian Roy.
‘maaf Roy, tapi rasa-rasanya aku masih belum bisa percaya Lena seperti itu..’
‘jangankan kamu, aku saja gak Win…’
Dia menarik tanganku, menciumnya. Aku terhenyak.
‘maaf Win, aku begitu ingin Lena seperti kamu..’
‘maksudnya?’
‘setia, gak macem-macem’
Ooh, aku fikir.
Ternyata gak terasa, sudah malam. Roy mengajak aku ke rumahnya. Aku menolaknya karena aku ingin pulang. Tapi, aku gak enak sama Roy. Dia masih ingin bercerita. Akhirnya aku menuruti kemauannya.
Sempat berfikir takut Lena tau. Tapi kemudian tersadar, Lena di rumah orang tuanya.
Akhirnya sampai di depan pintu rumah Roy. Ternyata pintunya tidak terkunci.
‘kok gak dikunci?’ tanyaku.
‘gak tau, mungkin Lena lupa..’ jawabnya.
Aku dan Roy masuk, ruang tamunya berantakan. Aku melihat sepatu Lena di dekat sofa.
‘Lena ada di rumah Roy, aku pulang ya..’ kataku berbisik.
‘tunggu, ada sepatu laki-laki di depan kamar..’ ia pun berbisik.
Aku deg-degan. Ternyata Roy benar. Rasanya jantungku mau copot. Aku mendengar suara Lena di kamar.
Dia tidak menyadari ada yang masuk ke rumah ini. Pintu kamar pun tidak terkunci.
Roy membukanya, aku buru-buru menarik tangan Roy.
‘gak papa Win, aku mau buktikan ke kamu siapa Lena sebenarnya..’
Aku bergetar, takut, bingung, cemas, semua menjadi satu.
Aku menelan ludah, pintu kamar pun dibuka.
Lena bersama seorang laki-laki. Berada di kamar yang sama. Aku melihat jelas botol J’adore di meja rias Lena. Dan laki-laki itu berbalik.
Astaga! Dia suamiku.

0 Comments