Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rindu Suara Mamak

Cerpen Rindu suara mamak


Seperti biasa, Mamak membangunkan kami dengan cipratan air dari tangan yang ia celupkan di gayung. Mengganggu sekali. Tak pernah berubah sejak aku kecil.

Bukan hanya aku, tapi juga adik-adikku merasa mamak sangat tidak gentle dalam pengasuhan bak gaya parenting ala barat. Mamak tak segan melayangkan cubitan bila kesalahan sudah keterlaluan menurutnya.

Hanya satu yang tak pernah ia lakukan. Memaki kami. Belum pernah. Semarah apapun! Bahkan menghardik "Bodoh" pun tidak. Biasanya bila emosi tak tertahan ia hanya mengomel dengan lengkingan. Tak juga bergeming kami, ia tak segan mengambil gasper. Tapi itulah.. Entah kenapa kami tak takut.

"Cepatlah.. Azan sudah siap!" seru mamak karena tak juga kami berangkat ke masjid. Masjid memang hanya selemparan batu dari rumah kami.

Begitu kami membuka pintu hendak berangkat ia berpesan "jangan tidur di masjid habis shalat". Kami serentak menjawab iya. Meskipun biasanya kami molor pulang mulai 15 hingga 30 menit. Pernah hingga matahari terang ataupun hingga mamak menjemput ke masjid dengan gasper di tangan.

Bukan gak pengen bantu mamak sepulang shalat Subuh. Tapi memang sehabis Subuh panggilan untuk tidur di masjid tak terelakkan. Ademnya AC masjid menambah syahduhnya kami tidur.

Tau. Cukup tau mamak bahkan sebelum Subuh sudah bangun. Bahkan satu jam sebelumnya untuk shalat malam. Setelah baca Quran ia pun merendam pakaian karena kami tak memakai mesin cuci.

Tau. Pagi itu ia belum minum air hangat hanya berbekal semangat setelah ibadah untuk melakukan aktivitas main airnya.

Sehabis Subuh, ia lanjutkan cuci piring lalu menyetrika pakaian. Sebenarnya tugasku membuat teh sehabis Subuh. Biasanya mamak request teh diantar ke dapur sambil mencuci ia minum teh karena perutnya kosong dan dingin.

Adik-adik juga bertugas mencuci peralatan makanan untuk bekal mereka. Tapi tak jarang kedeluanan mamak karena mereka lambat melakukannya dan mamak kehabisan energi menyuruh kami.

Entahlah kadang heran mamak setiap pagi tak lelah mengomel. Mamak lebih friendly selepas adik-adik berangkat sekolah. Sementara aku juga sibuk dengan belajar mandiri di rumah.

Pagi ini terasa berbeda. Mamak membangunkan masih dengan percikan air namun suaranya lebih rendah. 

"Pergi Subuh ke Masjid.." perintahnya.

Sepulang dari masjid aku masih menunggu-nunggu untuk membuat teh. Sementara adik-adik terlihat malas-malasan melakukan tugas juga malas-malasan bersiap ke sekolah.

Kulihat mamak menyetrika sambil terisak. Padahal ia baru saja mengomel meski dengan nada lebih rendah. 

"Mak kenapa.." tanyaku.

Mamak hanya menatapku kemudian kembali menyetrika sambil terisak. Sesekali ia menggaruk kepalanya. Sesekali ia tampak bengong. Ini jelas bukan mamak!

"Mak kenapa?" tanya adik. Mamak hanya menggeleng. Kami pun saling bertatapan kemudian menjalankan tugas kami.

Apa mamak kelelahan mengomel? Sampe gak sanggup lagi berkata? Apa ada sakit seperti itu?

Selesai menyetrika ia lanjut mencuci pakaian, masih dengan isakan, masih dengan berkali-kali mengelap air matanya. 

"Mak.. Mamak mau teh?" tawarku begitu teh siap sedia.

Mamak cuma menggeleng. Padahal biasanya ia minta teh di dekat ia mencuci agar tak kedinginan. 

Selesai mencuci ia memandikan adik yang hendak pergi ke tadika. Taman pendidikan Kanak-kanak.

"Mak..tidur saja kalo lelah.." ucapku lagi. Mamak seakan tak mendengar. Ia pun memandikan adik tanpa suara. Biasanya ia selalu bernyanyi dengan lirik tak jelas sambil memandikan adik. Intinya bernyayi bahagia.

Saking diam tanpa suara, adikku mengecup pipi Mamak ketika Mamak memakaikan handuk ke tubuh adik. Tampak bulir air mata mengalir di pipinya. Adik langsung mengelapnya. 

Lihatlah, adik kecilku pun merasa ada yang berubah dari Mamak. Namun Mamak masih seperti robot. Bekerja tanpa suara apapun.

"Mak..apa saja yang mau dibelanjakan?" tanyaku pada mamak yang biasanya minta belanjakan sesuatu untuk bekal dan sarapan. Mamak diam. Bahkan A saja tak sanggup keluar dari mulutnya.

"Pak.. Bapak bantu Mamak. Jangan cuma tidur ketika Mamak menyiapkan semua kerjaan rumah." saranku. 

Bapak tampak tak setuju. Saranku seakan menyerangnya. Tapi mau bagaimana lagi, Mamak memang kelelahan.

Selepas adik-adik berangkat setelah aku siapkan sarapan, aku melihat mamak menjemur baju dan membersihkan rumah. Masih dengan tatapan kosong mamak. Mamak persis manusia yang biasa kusaksikan di lakon film layaknya odgj.

"Mak. Tidur lah.." entah berapa kali aku menyuruhnya menghentikan kegiatannya. Tapi mamak tetap bergerak. Setelah semua tampak selesai, ku lihat ia masuk ke kamar dan menutup matanya di sudut kamar berbaring.

Mh.. Mak, ternyata suara omelan setiap pagi yang kudengar belasan tahun lebih indah daripada kusaksikan kau diam membisu.

Mak, aku rindu suara mu.

Semoga setelah istirahat, suaramu dapat kembali lagi. Aku kangen dimarahin Mak! Ternyata ucapanmu beberapa pekan lalu terbukti Mak! Kau bilang padaku:

"Kalo masih ngomel Mamak mu, masih waras lah itu! Tapi kalo sampe dah diam tak bersuara, berarti dah gilak Mamak mu! "




blogger parenting
blogger parenting Emak anak 5. belajar terus jadi istri dan emak yang baik..

13 komentar untuk "Rindu Suara Mamak"

  1. Kok aku jadi sedih ya mbak, baca tulisan ini. Jadi ingat Ibuku yang sedang ada di rumah. Beliau sudah lansia dan senang banget bercerita. Kadang suara Ibu kita begitu dirindu manakala beliau sudah tidak ada

    BalasHapus
  2. Iya bener kak Maria. Kita selalu begitu ya, sering sekali dirindukan sesuatu yang telah hilang.. Hikss

    BalasHapus
  3. Saya saat ini justru sedang menjalani peran yang dilakukan Mamak. Saya biasanya bawel sama anak, kini, saya diam saja. Cuek anak mau ngapain juga. Memang ada hal yang membuat hal ini harus terjadi. Saya pikir jika demikian (kediaman saya) yang diinginkan pihak tertentu, saya bisa kok melakukannya

    BalasHapus
  4. Saya sedih awalnya.
    Tapi pas baca quote mamak di akhir tulisan, kok jadi pen senyum lebar.
    Saya rasa saya agak mirip sama mamak.
    Merepet tiap pagi.
    Dan kalo awak dah diam aja, anak-anak pasti pada ketar-ketir. Sampe bapaknya pun gemetar.
    Apa yang salah sama emak hari ni hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan.. Anak dan suami sebel pas mamak merepet. Tapi begitu diam, langsung takuuut

      Hapus
  5. Karena dah merantau sejak lulus SMA ku jarang denger ibuku merepet...kangeeen!
    Sebagai gantinya kalau telpon sengaja nanya itu ini, biar ngalir cerita tentang tetangga itu tetangga ini, gantinya suara ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ibu kak dian sehat selalu ya kak.. Aamiin

      Hapus
  6. Keayang sedih dan degdegannya. Ya Allah Mamak kenapaaa???

    Iya sih ya. Kadang aku pun merasa kalau sering cuek bebek sama ocehan mamaku. Nggak sanggup ngebayangin kalau Mama berubah diam dan nggak menggubris aku sambil terus menangis tanpa suara begini. Bikin panik, Asli sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Langsung megang semua kerjaan rumah tanpa disuruh..

      Hapus
  7. Setelah kehilangan baru biasanya kita tahu rasanya ya kak, akun pun sama setelah jauh dari rumah baru rasanya kangen banget sama ibu, kangen sama omelannya tiap pagi nyuruh kita makan, bangun, atau apalah dan sekarang lagi jauhan, kangen banget kayak rela deh diomelin tiap hari juga asal bareng bareng atau ga mau banget kalau didiemin

    BalasHapus
  8. Kadang Sampai ter/bawa mimpi pun terasa masih mendengar suara mama. Beliau sudah meninggal sejak 2008 ngga terasa sudah 15 tahun. Hiks

    BalasHapus

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️