Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keputusan HomeSchooling untuk Si Sulung

 

Keputusan homeschooling untuk si sulung

Banyak sekali pertanyaan yang masuk ke Emak soal kenapa si sulung tidak bersekolah. Beragam pertanyaan senada juga ditanyakan secara langsung maupun melalui chat WA.

Pertanyaan seperti:

1. Kenapa sulung tidak sekolah?

2. Kenapa tidak masuk sekolah negeri zonasi? (bila tidak ada biaya)

3. Kenapa tidak sekolah di Madrasah Tsanawiyah? (Kalo memang enggan sekolah di negeri umum)


Post kali ini memang lebih banyak curhatnya sih. Tapi bisa jadi sebuah masukan sekaligus keresahan sebenarnya dari seorang Emak yang belum berhasil memberikan imunitas pergaulan kepada anak.


Emak yang Lebih Mengenal Anaknya

Meskipun di mata orang lain plus Emak sendiri, si sulung cukup bisa diandalkan mengurus adik sejak kecil tapi ada beberapa sifat si sulung yang Emak ragukan untuk berada di lingkungan yang beragam.

Lingkungan beragam maksud Emak adalah lingkungan di mana pergaulan si sulung terdiri dari background pendidikan keluarga yang sangat banyak. Get it gak Mak?

Misalnya begini, di SD si sulung rata-rata pendidikan keluarganya hampir seragam. Membiasakan anak beribadah, visi misi keluarga hampir seragam. Meskipun gak perfect tapi Emak yakin mulai dari pihak sekolah dan keluarga temannya lebih banyak yang mengutamakan adab untuk anakya.

Kalo masuk Sekolah Menengah Pertama kenapa dengan sekolah negeri? Yang pertama, kebiasaan shalat Dhuha yang dibangun akan sulit diteruskannya karena temannya tidak semua berasal dari sekolah Islam Terpadu.

Sekolah Menengah Pertama Negeri juga tidak mewajibkan siswi Muslim menutup aurat, hal ini tentu berbanding terbalik dengam pendidikan dalam keluarga kami.

Mungkin ada yang berkomentar, loh itu kam tergantung anaknya dan bagaimana pendidikan di rumahnya. Kalo terbiasa pasti akan tetap meneruskan kebiasaan ibadanya.

Makanya dari itu, Emak yang paling mengenal si sulung. Sulung itu masih tergantung lingkungannya. Tergantung temannya. Ia masih mudah terwarnai karena fase pra baligh terasa sekali teman adalah dunianya. Sekali lagi, bukankah ibadah terasa lebih mudah dalam istiqamah bila dilakukan bersama..

Emak Belum Mampu Memberi Imunitas

Ini bentuk pernyataan kelemahan Emak. Imunitas di sini adalah kekuatan dalam deffense dan offense di lingkungan pertemanan.

Deffense artinya bertahan, sulung belum mampu menahan bully yang datang padanya. Belum juga mampu menolak ajakan teman (seandainya kurang baik). Anak seumurnya dengan pandangan hampir seragam yakni pertemanan adalah segalanya.

Offense artinya menyerang. Bukan maksud mengajari anak kekerasan tapi Emak menanamkan pada semua anak untuk menyerang kembali bila bully berupa fisik. Berupa verbal mungkin sebatas mendiamkan.

Belum mampu Emak karena memang selama ini lingkungan kami cukup baik. Tidak ada yang aneh. Mungkin ini juga yang membuat Emak menunda untuk memberinya pemahaman soal dunia luar termasuk dunia LGBT yang sebenarnya sudah bisa dikenalkan padanya. Duh Emak minta dicubit. (Selama ini sulung cuma tau kisah kaum Luth saja tanpa tau aktivitas apa sih yang terlarang yang dilakukan kaum Luth).

Si sulung memang lebih polos dibanding anak nomer dua. Adiknya lebih sering bertanya tentang validasi informasi apapun yang ia dapatkan di luar dari temannya pada Emak. 

Keputusan HomeSchooling

Sebelumnya sudah bertanya pada si sulung, mau kemanakah ia? Ke pesantren menolak (kalo setuju rencananya pengen memasukkan sulung ke pesantren khusus anakperempuan).

Ke rumah tahfidz juga menolak. Sementara Emak ingin memasukkan ke sekolah yang masih "aman" pergaulannya sepengetahuan Emak tapi kantong kami belum sanggup. Gak mungkin juga memaksa suami untuk harus menuruti rencana Emak.

Akhirnya? HomeSchooling lah jawabannya. Emak pun mendaftarkan si sulung ke PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar). Si sulung gak akan setiap hari belajar di sana. Selain hari belajar yang ditetapkan PKBM maka ia akan belajar di rumah bersama Emak dan oranglain.

Rencana Kurikulum yang Emak Siapkan

Kalo ditanya rencana banyak banget. Tapi untuk pelajaran sekolah, biarlah mengikut pada PKBM. Selain itu setiap hari ia belajar Bahasa Inggris melalui aplikasi belajar bahasa di gadget. (Emak ikut mengawasi).

Selain itu, selama 3 tahun ini ada target yang ingin Emak raih buat si sulung, yakni:

1. Menaikkan rasa percaya dirinya.

Bukan tanpa alasan, si sulung cenderung insecure. Makanya Emak menyetujui ketika ia kepengen belajar storytelling. Dengan berada di depan orang lain untuk perform mudah-mudahan insecure miliknya menghilang seiring waktu karena menyadari value yang ia miliki.

2. Memiliki Keterampilan

Keterampilan yang direncanakan banyak, seiring berjalan Emak biarkan ia memilih. Emak mau dia belajar menulis seperti Emak, belajar menjahit juga merajut. Hal lain tentu saja belajar masak di dapur.

Meskipun tidak ahli, pekerjaan di atas akan ia pakai untuk kehidupannya kelak dalam kehidupan rumah tangganya. Apalagi memasak. Keterampilan dasar ini juga Emak ajarkan pada anak lelaki di rumah. Rumah Emak, pekerjaan rumah tidak memiliki gender.

3. Menyadari Value Dirinya

Menghindari bully di sekolah menengah atas yang wajib dimiliki sulung adalah menyadari value dirinya sehingga bully berbentuk verbal tidak akan membuatnya bertambah insecure karena menurut rencana sulung akan kembali sekolah umum di masa SMA.

4. Menyiapkan Dirinya Memasuki Usia Baligh

Bukan hanya baligh secara fisik atau umur tapi juga baligh secara mental dan menyadari tanggungjawabnya. Sulung juga harus belajar mengikuti jadwal dan tau mana prioritas yang harus diikuti.

Sejauh ini, target dalam 3 tahun yang harus dicapai si sulung ini saja. Mengenai bagaimana nanti ia mencapainya akan Emak bantu dan terus follow up dalam beberapa waktu.

Begitulah kira-kira beberapa alasan kenapa Emak akhirnya membuat si sulung homeschooling untuk jenjang sekolah menengah pertamanya. Bukan karena Emak merasa sekolah di luar tidak bagus atau Emak merasa terlalu over protective juga terlalu under estimate dengan lingkungan luar tapi karena Emak menyadari bahwa pendidikan anak adalah tugas Emak. 

Sebagai bentuk ikhtiar menjaga dan mendidik anak sesuai dengan standar kemampuan kami. Hasilnya memang tergantung dengan Ridho Allah SWT. Kembali lagi, anak yang dibiasakan berbuat baik saja belum tentu baik apalagi yang tidak diusahakan, kan?

Kalo kalian Mak.. apa sih yang menjadi alasan untuk memasukkan anak ke sebuah lembaga pendidikan? Cerita yuk di kolom komen..





blogger parenting
blogger parenting Emak anak 5. belajar terus jadi istri dan emak yang baik..

8 komentar untuk "Keputusan HomeSchooling untuk Si Sulung"

  1. Kalo saya tantangan besar 'pembulian' malah dari guru.
    Mnrt saya, guru si bungsu kurang bisa menghadapi anak. Tak seperti guru si sulung dulu. Padahal di sekolah yang sama.
    Rencananya juga taon depan pas smp, saya masukkan pkbm juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena sampai saat ini, saya belom nemu smp yang sekiranya cocok untuk si sulung, cocok di hati emaknya, dan cocok di kantong emak bapaknya.
      Btw, pkbm mana kah cherryl?

      Hapus
    2. Pkbm yang sama dengan yumna dan adiknya. kebetulan lebih dekat dari rumah kami sini kak

      Hapus
  2. Fahmi putra saya dulu tidak masuk paud atau TK. Melainkan homeschooling juga di rumah. Padahal saya gak punya kemampuan apapun, selain mengajarkan baca tulis berhitung
    Lalu kenal dengan WNI di Jepang, yang ternyata ia juga mengajarkan anaknya homeschooling. Bayangkan, di jepang yg negara maju, ia memilih anaknya belajar di rumah saja.
    Atas kebaikannya saya dikasih kurikulum homeschooling yang kalau dilihat sekarang, mirip kurikulum merdeka belajar gitu deh

    Semangat dengan homeschooling nya ya Kakak

    BalasHapus
  3. Semangat Kak Icha, semoga dimudahkan ya proses belajar anak-anak lewat homeschooling. Apapun pilihannya adalah bentuk ikhtiar menjaga dan mendidik anak sesuai dengan standar kemampuan orang tua. Kalau saya dan suami pilih SD swasta dan SMP swasta Islam (bukan terpadu) karena sekolah umum tapi Islam, jadi pelajaran masih berimbang dan lokasinya dekat sekali dari rumah

    BalasHapus
  4. Iyes, orang tualah yang paling tahu mengapa memilih sekolah A, B, C, dan seterusnya. Mengapa ke sekolah negeri, swasta, atau homeschooling. Dan memang tiap anak sih unik yaa, jadi bisa orang tua sendiri yang mengambil keputusannya.

    BalasHapus
  5. Menyekolahkan anak berarti kedua irang tuanya pun harus turut berlajar, apakah sekolah formal, informal dan non formal. Semoga kebutuhan homeschooling yang didasari pada kebutuhan anak adalah cara terbaik untuk mak icha dan si kakak untuk belajar, dan setiap keluarga punya pertimbangan masing-masing. Semoga tetap open mind dengan proses belajarnya ya..enjoy dan sukses..

    BalasHapus
  6. Duh, auto tercerahkan bahwa memang kebutuhan anak tentang pendidikan ini bisa dinilai oleh ortu, ya, Mak. Keputusan memilih homeschooling tentu bukan keputusan tiba-tiba. Sudah ada pembicaraan hangat sebelumnya tentu saja. Semoga si Sulung makin semangat belajar dan berhasil sesuai harapan, ya, Mak.

    BalasHapus

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️