Said bin Zaid
kisah teladan.web.id



Pada saat ini,  semua orang berlomba-lomba untuk menjadi terkenal. Tak jarang dilakukan berbagai cara yang kontroversi untuk memuluskan jalan nya menjadi terkenal.

Di postingan sebelumnya, kita sudah mengenal Julaibib.  Salah satu dari tiga manusia yang tidak terkenal di bumi, namun terkenal di langit.

Kali ini pun demikian,  kita akan membahas manusia kedua,  yakni Said bin Zaid. 

Said bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan Syurga.
Ia adalah anak dari Zaid bin Amr. 
Dan ia adalah ipar dari Umar bin Khattab.
Istrinya adalah adik kandung Umar, Fathimah binti Khattab. 

Said bin Zaid dan Fathimah adalah sebab musabab Umar memeluk Islam setelah sebelumnya Umar murka karena adiknya telah meninggalkan agama nenek moyang mereka dan mengikuti Nabi Muhammad SAW. 
Sempat pula Umar memukuli keduanya,  dan saat darah mengalir di wajah Fathimah,  barulah Umar sadar dan meminta dibacakan/diperdengarkan surat yang sedang dibaca Fathimah sebelum Umar datang.

Itulah surat Taha, ayat 1-8 yang membuat Umar menjadi lembut hatinya dan menemui Rasulullah dan berbaiat. 

Kembali lagi pada Said bin Zaid.
Sebelum masuk Islam, Said bin Zaid memang adalah orang yang mengasingkan diri dari berbagai ritual agama nenek moyang. 

Dahulu,  ayahnya sebelum wafat Zaid bin Amr pergi menemui Rahib untuk bertanya tentang agama yang lurus.

Rahib tersebut mengatakan, pulanglah.. Agama murni yang lurus sudah kehilangan pengikutnya. Sekarang sudah waktunya agama yang murni akan datang (Islam) Pulanglah ke asal mu. 

Namun sayangnya,  ketika di jalan pulang ia wafat karena dibunuh.
Ia pun berdoa:

"Ya Tuhan,  bila Engkau mengharamkanku memeluk agama yang lurus, jangan pula Engkau haramkan untuk anakku"

Tampaknya, doa sang ayah benar-benar terkabul.

Begitu pula dengan doa sang anak, Said bin Zaid.

Said bin Zaid tak lagi suka dengan kehidupan yang tampak mewah setelah Rasul dan beberapa Khalifah berganti.
pernah pula ia menjadi gubernur.  
Namun kehidupannya yang terbiasa sederhana, membuat nya mengasing di pinggiran Madinah. 

Tetangganya, Arwa binti Uwais,  mengadukannya kepada Marwan,  gubernur saat itu bahwa Said bin Zaid telah mengambil tanahnya,  ia mengatakan bahwa Said bin Zaid telah merubah batas patok tanahnya.

Ketika Said bin Zaid menghadap Marwan dan dipertanyakan tentang hal itu, Said bin Zaid pun berkata:

Apakah mungkin aku mau mengambil tanahnya , padahal jelas nabi mengabarkan bahwa

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tujuh lapis bumi kepadanya"

Marwan pun tidak berani lagi menghakiminya. 
Kemudian Said berdoa
"Ya Allah,  bila Arwa binti Uwais sengaja memberi kabar untuk menjelekkan nama ku,  butakanlah ia dan jatuhkan ke sumur di tanahnya"

Setelah waktu berlalu, datang lah banjir besar dan membuat batas patok tanah antara Said bin Zaid dan Arwa binti Uwais terlihat.

Orang-orang pun menyaksikan kebenaran ucapan Said bin Zaid.
Ia tidak mengambil sedikitpun tanah Arwa binti Uwais, dan Allah kemudian membutakan mata Arwa.

Di tengah tanahnya ia pun merangkak-rangkak karena buta, akhirnya masuk ke dalam sumurnya sendiri.

MasyaAllah,  Begitulah kisah Said bin Zaid. 
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita hidupnya. 
Dan jangan lupa,  doa orangtua kepada anaknya adalah doa yang tanpa hijab.
semoga kita pun selalu mendoakan anak kita yang baik-baik seperti ayahnya Said bin Zaid,  yakni Zaid bin Amr.

2 Comments

  1. Selalu terpesona dg akhlaq para sahabat. Thanks artikelnya kak icha

    ReplyDelete