Jejak cerita

Pagi ini masih dingin, mungkin krn
belakangan ini setiap malam selalu
turun hujan.
Kulihat istriku menyeduh kopi dengan
tangan yang ujung jari mengeriput
karena ia habis mencuci.
Aih.. Pasti dingin sekali.
Senyumnya mengembang karena pagi
ini aku tidak susah dibangunkan.
Entah, entah berapa tahun sudah
kami menikah. Entah berapa ribu kali
ia membangunkan aku. Tetap saja
aku masih sulit bangun pagi.
"Ini kopinya, tapi gak ada roti atau
ubi.." Katanya.
Aku sudah tahu, semalam pulang
menarik becak hanya membawa uang
lima belas ribu. Pagi-pagi sudah
dibaginya dengan si sulung yang
harus berangkat sekolah naik angkot,
lalu si bungsu yang minta uang
jajan.
Masih bersyukur anak kami cuma
dua. Yang besar sudah SMA, yang
bungsu kelas tiga SMP. Sekolah si
bungsu dekat rumah.
Ia cuma minta uang jajan saja, dan
aku tahu.. Uang jajan itu ia simpan
untuk keadaan darurat. Kalau tiba-
tiba ibunya bilang "sabar nak, uang
SPP bulan depan aja ya.." Atau "uang
bukunya dicicil dulu boleh?"
Aku menghela napas, berterimakasih
karena ia tidak pernah mengeluh-di
depan orang tuanya- entah di
belakang kami.
Karena dalam hati tidak mudah
diduga. Mudah-mudahan ia tidak
tumbuh rendah diri karena orang
tuanya yang berpenghasilan pas-
pasan.
Selesai kuseruput kopi buatan istriku,
aku mengambil jaket hendak pergi
mencari nafkah.
Kusorong becak keluar dari halaman
kami, kulihat ia di depan
pintu,menatapku. Tidak mengatakan
apapun. Namun aku tahu, ia berdoa.
Benar saja, dingin langsung
menyergapku begitu mesin becak ini
jalan sekitar sepuluh meter.
Keluar dari gang, aku membelok ke
kanan. Ke arah pasar inpres.
Menarik becak ini, kadang ada hal
unik yang kutunggu.
Jejak cerita.. Ya,, cerita para
penumpang yang naik di becak ini.
Begitulah..
Pernah suatu hari, penumpang
becakku seorang ibu dengan empat
anaknya, hihihi repot amat
kelihatannya.
Apalagi saat itu masih pagi, kulihat ia
menggendong yang masih bayi. Tiga
anak lainnya seperti tangga nada.
Mungkin beda sekitar 1 atau 2 tahun.
Semuanya mau berangkat sekolah.
Si ibu bergumam "ginilah bang, kalo
papanya di luar kota, eeeeh tukang
becak yang jemput anak ikutan sakit..
Iiiih rempong amat.. " Curcolnya.
Aku cuma bisa tersenyum.
Dalam hati bersyukur kembali. Anak
kami hanya dua, dan istri tidak
pernah mengeluh soal antar jemput
sekolah.
Bukan naik becak- malah lebih sering
jalan kaki.
Pernah juga ada seorang gadis
remaja naik becakku.
Ia tertawa sendiri menatap layar
handphone-nya. Mungkin asik ber-
bebe-ria, hihihi gitu kata anakku yang
sulung. Katanya zaman sekarang
hapenya harus bebe.
Trus ia sibuk mengetik dan tertawa
lagi.
Terus-terusan sampe menuju
rumahnya.
Dalam hati teringat kedua anakku.
Andai saja,, ya andai mereka punya
orang tua sekaya gadis itu. Mungkin
hidupnya ceria ya.. Punya bebe,
pulang sekolah tidak perlu
kepanasan.
Sampai di teras rumahnya, aku masih
memperhatikannya.
Ia berteriak pada laki-laki
sebayaku,mungkin supirnya.
"Mang!!! Lama amat jemputnya.
Panas nih naik becak! Awas kalo
besok gak jemput lagi!" Aiiiiihhh aku
menelan ludah.
Tidak pernah kesusahan soal uang,
tidak harus menjadikannya anak yang
gak sopan sama orang yang lebih tua
kan? Syukur kembali, anakku tidak
pernah membentak kalau kami tidak
bisa memenuhi kebutuhan mereka.
Seharusnya dengan kelebihan materi,
ia mesti lebih mengerti keadaan si
supir. Mungkin saking banyaknya
masalah, si supir jadi terlambat
jemput, atau mungkin kebanyakan
kerjaan, saking capeknya jadi
kelamaan istirahat di teras.
Oh iya, si eneng tadi kan punya
bebe, kan bisa tuh nelpon supir atau
ke rumahnya ingetin si supir. Auuuk
ah..
pernah juga,, ada laki-laki sekitar tiga
puluh tahun, naik becakku.
Aneh, dari kantor yang besar, dengan
pakaian yang rapi, sepatu masih
mengkilat kok naik becak? Ooo
mungkin mobilnya lagi mogok atau
masih di bengkel.
Tiba2, hapenya berbunyi..
"Iya sayang, ini udah di jalan. Eehm?
Mobil? Aku tinggal di kantor. Kan
alesannya masih rapat. Istriku?
Hahahahaha, ya di rumah lah.
Kubilang masih rapat, ya pasti
percaya lah.. "
Dasar edan!! Dalam hati aku terus-
terusan memaki laki-laki ini.
Rupanya ia mau menemui
selingkuhannya..
Dasar laki-laki brengsek!
Di luar bagaimana istrinya, yang pasti
ia bilang istrinya ada di rumah dan
percaya kalau ia masih ada rapat.
Wong edan! Istri full di rumah, kok
malah rapat sama perempuan lain!
Dari wajahnya tidak terlihat ekspresi
bersalah sama sekali.
Sesampainya di sana, aku melihat
perempuan berpakaian tipis
menampakkan beha kolornya
membuka pintu.
Entah apa yang akan mereka lakukan.
Aku jadi teringat istriku, ia di rumah
karena tak kuizinkan kerja. Aku pun
gak pernah macem-macem di luar, ia
pun tidak pernah menerima tamu
yang bukan-bukan.
Sebelum sampai ke pasar inpres, di
simpang jalan seorang ibu muda
menggendong anaknya hendak naik
ke becakku. Dari alamat yang
disampaikan aku agak ragu karena
jarang mengantar orang ke daerah
sana.
Ia bilang akan mengingatkan kapan
waktunya akan belok.
Ternyata ia sedang hamil tua.
Sepertinya ada yang sedang ia
pikirkan, karena dari tadi sudah lebih
dari dua kali ia lupa mengatakan
belok, sehingga kami keterusan
daritadi.
"Kenapa bu? Kok melamun terus?"
Tanyaku ingin tahu.
" Ehhh, oh gak kok bang.." Jawabnya.
Nampaknya ia gak ingin masalahnya
diketahui orang lain. Pintar sekali
menjaga rahasia.
Umurnya sekitar dua puluhan. Lagi-
lagi teringat istriku saat kami baru
menikah.
Sering sekali aku membuatnya
menangis. Memang aku tidak tahan
cerewetnya istriku. Tapi setelah setua
ini, aku baru tau kenapa ia cerewet.
Ia di rumah terus, tidak ada kawan
berbagi. Setiap ada masalah
denganku tidak pernah cerita ke
keluarganya.
Memang, aku sebal sekali hanya
karena kencing berdiri saja dia
merepet seharian. Tapi ternyata,
kencing jongkok memang seharusnya,
apalagi menghindari dari kanker
prostat dan batu ginjal.
Kadang, karena masalah kecil tak
jarang aku membentaknya.
Setelah tua begini, aku kangen
cerewetnya, tapi ia sekarang tak
banyak berkata-kata. Aku jadi
menyesal.
"Bang, belok kiri.." Si ibu muda tadi
menyadarkanku dari lamunan.
Setelah aku perhatikan, sepertinya
aku mulai hafal alamat ini.
Akhirnya si ibu muda menyuruh
berhenti di depan sebuah rumah.
"Loh rumah ini kan.. " Dalam hati
aku bergumam.
Ia menyerahkan ongkos, aku masih
termenung.
Kulihat dari jauh, seorang perempuan
membuka pintu disusul oleh laki-laki
yang..
Loh itu kan laki-laki brengsek itu!
Itu rumah selingkuhannya.
Laki-laki itu bersujud di kaki istrinya.
Si istri hanya diam. Tanpa teriakan,
tanpa makian, tanpa tamparan!

0 Comments