Ini Bukan Curhatan….
nb: ditulis sebelum Shasmecka Cheryl Az Zahra lahir..

Tahun lalu, tepat di saat ulang tahunku yang ke 23 keluarganya melamarku.

Mungkin, keluarga lain tidak akan menerima calon menantu laki-laki yang belum memiliki pekerjaan. Namun, berbeda di keluarga kami. Pekerjaan dan penghasilan dilihat dari tolak ukur yang berbeda. Asalkan laki-laki tersebut bertanggungjawab dan berusaha keras untuk bekerja, ia diterima dengan baik.

Akhirnya, dua minggu berlalu dan ia diterima bekerja. Kami berdua sangat bersyukur karena harapan baru telah muncul hingga akhirnya kami menikah.

Seminggu setelah menikah dan tepat di ulang tahunnya, kami pindah ke rumah kontrakan dekat dengan lokasi kerjanya.

Gak nyangka sama sekali, ternyata awal-awal pindah rumah sangat berat di financial. Untungnya ada uang titipan dari keluarganya dan juga pinjaman lunak tanpa bunga dari seorang kakak.

Aku mulai menikmati peran menjadi istri dalam satu minggu bersama di rumah sendiri.

Hingga di suatu hari, jam sepuluh pagi ia pulang ke rumah.

‘kok cepat? Biasanya jam 12? Adek belum siap masak,,’ kataku.

Bukan menjawab pertanyaanku, Ia menarik tanganku ke kamar, kami duduk di pinggir tempat tidur.

‘abang udah gak kerja lagi.. sudah resign..’ katanya.

Ia melihatku, mungkin sedikit cemas akan reaksiku. Aku melihatnya.

‘ya sudah… kita cari kerjaan yang lain aja…’ hanya itu kataku.

Mungkin seharusnya bagaimana? Apa aku harus menangis dan bilang ‘kita mau makan apa?’

Rasanya sangat tidak beriman ketika kata-kata itu dikeluarkan..

Semut saja lahir bisa makan, bagaimana mungkin Tuhan melupakan makhluknya yang berdoa dan meminta?

Ada perasaan lega ia tidak bekerja di sana. Ia lebih relaks dan tidak terkekang oleh atasannya.

InsyaAllah, bakal dapat pekerjaan yang ia sukai.

Seminggu kemudian ia mendapat pekerjaan lain. Pekerjaan mendata dari BPS Sumut.

Lokasinya jauh dari rumah. Kasihan juga melihatnya.

Bulan berikutnya aku mulai ikut ia pergi kerja. Aku dititipkan di rumah mama dan ia pun pergi bekerja.

Saran mama akhirnya kami sering tinggal di rumah mama karena aku hamil muda.

Selepas dari bekerja di BPS Sumut, ia pindah ke BPS kota Medan. Lokasinya sangat dekat dengan rumah mama. Praktis kami seperti tinggal beneran di rumah mama.

Suatu hari teman menelponku. Bertanya bagaimana rasanya diam di rumah tanpa bekerja.

Karena yang ia tau, aku adalah sosok aktif yang tidak bisa berdiam diri. Aku katakan saja itu bukan masalah besar.

Lalu ia bertanya, ‘apa cukup bila hanya suami yang bekerja? Aku dan pacar saja bila menikah nanti rasanya masih kurang walau kami sama-sama bekerja…’

Aku jawab ‘cukup’.

‘cukup’ itu relative dan sangat sensitive.

Tergantung dari seberapa besar kita menghargai pemberian Tuhan.

Tergantung seberapa besar kita mensyukuri nikmatnya. Bila kita merasa cukup, InsyaAllah pasti cukup.

Tapi, bila kita berkeinginan untuk membeli ini itu, layaknya belanja istri direktur mungkin tidak akan cukup.

Bahkan seseorang yang kita rasa berkehidupan sangat mencukupi, terkadang keluar kata-kata ‘tidak cukup’ dari mulutnya.

Apalagi saat ini kami terkadang merasa masih disubsidi orangtua. Semua masih sangat cukup bagi kami.

Bulan berlalu, akhirnya tahun berganti.

Pekerjaan di BPS kota telah berakhir.

Ia pun tidak bekerja.

Ia pun tak mengizinkan aku untuk bekerja, apalagi sekarang kandunganku semakin besar.

Ada sesuatu yang aneh belakangan ini.

Kandungan tidak bermasalah, namun ada infeksi di daerah kewanitaanku.

Aku akan coba periksa ke dokter kandunganku.

Suamiku selalu meyakinkan kalo aku baik-baik saja. Ia selalu mengatakan kalo itu bukan apa-apa.

Ia coba menguatkan aku agar hari senin nanti saat kami periksa, semua baik-baik saja.

Namun cobaan lain datang kembali.

Sepeda motor suamiku hilang di teras rumah.

Satu-satunya harta benda yang kami miliki lenyap sudah.

Aku mulai goyah.. ada apa ini?

Di saat ia tidak bekerja, saat aku belum mengetahui sakit apa yang aku derita, mengapa datang cobaan lain yang kurasa semakin berat?

Senin tiba, dokter hanya bilang infeksi dan memberi obat.

Sungguh aku hanya pasrah saja dan meyakinkan bahwa ini tidak akan berpengaruh pada anakku.

Beberapa hari kemudian, ia bekerja kembali.

Kali ini pergi dengan sepeda motor pinjaman kakaknya. Namun, kami bersyukur.

Aku menghitung hari, sebentar lagi ulang tahunku.

Aku tau, ia tidak punya uang. Apa yang akan ia berikan kepadaku nanti?

Aku tidak berharap banyak.

Saat itu aku tidur lebih dulu, semakin besar kandungan ini semakin sering nyeri di pinggang.

Tepat jam 12, ia membangunkan aku.

Lampu kamar mati, hanya ada nyala lilin di lantai. Berbentuk 24 seperti umurku.

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat surprised lilin ulang tahun tanpa kue.

Namun aku tetap bersyukur, ada dua batang cokelat kesukaanku dan gantungan little bear kecil. Aku berusaha menyembunyikan air mataku, karena aku tau ia tidak suka aku menangis meskipun saat bahagia.

Meskipun dalam keadaan terbatas, aku bersyukur kami masih punya cinta.



Aku, dia dan anak yang akan hadir beberapa minggu ke depan InsyaAllah merasa cukup untuk menjalani hidup ini...

0 Comments