Lalu Lintas Medan
Secara Emak cuma bisa naik kereta A.K.A motor kalo dalam Bahasa Indonesia, maka aktivitas sehari-hari ya di jalanan. Antar jemput anak dan berkegiatan ke mana-mana ya naik motor.
Emak memang tipikal pengendara Medan. Ehh gimana-gimana? Itu loh kalo menurut orang Pulau Jawa, jalanan kota Medan ini keras Mak. Pengendara motor suka di tengah. 50Km/jam adalah kecepatan Standar. ๐ซฃ
Pokoknya di jalanan musti sat set. Orang Medan bilang "ligattt sikittt" kalo pengendara kendaraan bermotor gak lihai di jalan.
Kayak apa sih lalu lintas di Medan menurut pengamatan Emak..
8 Gambaran Lalu Lintas Medan
1. Padat Merayap
Semacet-macetnya Kota Medan, gak pernah sampe diam di tempat berjam-jam. Tetap ada celah untuk pengendara kendaraan baik mobil maupun motor untuk nyelip sana sini.
Orang Medan kebanyakan bawa kendaraan ya terburu-buru meski sedang tidak terburu-buru. Bayangkan kalo memang sedang terburu-buru, lebih kencang lagi deh injak/tarik gas.
2. Angkot dan Betor Raja Jalanan
Meski setiap pengendara saja lihai bawa kendaraan, tapi angkot dan betor alias becak bermotor adalah raja jalanan. Gak bisa disalahkan saat angkot tiba-tiba ambil jalur kiri berhenti atau betor yang tiba-tiba belok tanpa aba-aba.
Berdebat dengan keduanya bikin kita habis tenaga dab habis masa. Gak ada menangnya. ๐
3. Pengendara Motor Suka Jalur Tengah
Mungkin untuk pengendara motor atau kereta istilah Medan. yang ada di Pulau Jawa seringnya bawa motor di lajur kiri. Nah di Medan gak berlaku. Mana suka silakan jalan. Haha.
Jadi, ada beberapa jenis pengendara sepeda motor, yang pertama yang suka di tengah tapi cepat. Ada pula yang suka di tengah tapi lambat (standar lambat di Medan agak lain sama di tempat lain ya).
Ada yang cepat tapi suka lajur kiri, ada juga yang lambat dan milih selamat di jalur kiri saja.
Kebanyakan tipe pengendara motor Medan suka balap. Milihnya pun jalur tengah biar bisa nyalip sana-sini ๐
4. Klakson Banyak Fungsi
Kalo di Bandung atau Jogja jarang dengar suara klakson, main sini ke Medan. Apalagi supir angkot. Klakson ada banyak kegunaan dan juga maksud. Lucunya walaupun begitu biasanya saling mengerti ketika Klakson dibunyikan.
Pertama, klakson untuk menyapa pengendara lain. Kedua, klakson sebagai warning untuk pengendara lain minggir. Ketiga, klakson kadang dibunyikan untuk bilang "ehh aku duluan ya yang lewat.." saat nyalip sana-sini.
Kalo supir angkot, klakson untuk memanggil penumpang. Yang terakhir klakson panjang tukang angkot biasanya dibunyikan kalo lagi terburu-buru kejar setoran dan minta kita minggir. ๐
5. Tetap Peduli
Motor mogok? Gakpapa. Dorong dikit, InsyaAllah ada yang peduli mau setut atau dorong kita dari belakang. Meski orang Medan tampak cuek tapi tetap peduli bila terjadi sesuatu di jalan.
Pernah motor Emak mogok karena kehabisan bensin, yang nolong tau siapa? Seorang pengendara yang kalo diliat dari covernya mirip preman lengkap dengan tato. Tapi MasyaAllah peduli banget mau dorong kereta Emak hingga ke SPBU.
Pernah juga mogok karena busi kena banjir. Anak remaja sekitar ternyata membantu dorong hingga lepas dari banjir plus businya dikeringkan dan dibantu dinyalakan kembali motornya. Alhamdulillah wa MasyaAllah
Pokoknya gak terhitung berapa kali kesusahan di jalan, pasti adaaa aja yang bantu meski tidak saling kenal. Itulah yabg mendorong Emak juga ikut bertanya ketika melihat pengendara lain kesusahan di jalan. Semoga kebaikan seperti ini terus menular.
6. Lampu Lalu Lintas adalah Anjuran
Serius.. Lampu lalu lintas atau lampu merah bukan kewajiban di Medan. Cuma saran aja (ini kata pengendara). Kalo masih bisa jalan ya jalan saja. ๐
Makanya gak heran kalo liat orang Medan melanggar lampu lalu lintas. ๐Kadang bukan cuma motor. Bahkan angkot dan betor juga gak kalah dalam menerobos markah.
7. Jalan berlubang adalah wahana
Jalan berlubang seakan wahana di Medan. Jangankan motor dan mobil, bahkan truk aja cuek ambil jalan zig zag untuk menghindari lubang.
Mungkin inilah kenapa sering terjadi kecelakaan karena jalan berlubang. Bukan karena pengendara yang jatuh ke lubang tapi karena jalan zig-zag yang tidak diprediksi oleh pengendara di belakang maupun di samping.
8. Pengendara Motor Malas pake Helm
Nah, kalo cuma jalan sekitar rumah radius 3 kilo gak ada pengendara motor pake helm di Medan. Helm dipake kalo jalan jauh atau jalanan yang rawan bertemu polisi. Hahaha.
Beda sama di Jawa. Bahkan tetangga kami yang dulunya tinggal di Jawa suka ngomong "kami ke sawah aja pake helm.. Takut di depan gang ketemu pak polisi langsung ditilang".
Nah.. Sekian dulu cerita jalanan di Medan. Kalo jalanan di kotamu gimana mak? Kuy cerita ya..

Jakarta masuk (pulau) Jawa tapi enggak seperti Jawa yang disebutkan di artikel ini hihihi...Jakarta beti, 11-12 sama Medan, lalu lintasnyaaaa...banyak ngawurnya. Tapi, makin ke sini makin tertib sih, bukan karena sadar diri tapi di beberapa titik ada Alat tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) , kamera AI yang mendeteksi pelanggaran, mencatat data plat nomor, dan mengirim notifikasi ke basis data Polri untuk diproses. Jadi jangan kaget kalau mengemudikan kendaraan terus melanggar aturan, beberapa hari kemudian datang surat cinta ke rumah, ada e-tilang, 500 rb melayang. Kalau enggak dibayar (lupa atau enggak tahu) ditagihkan pas bayar pajak kendaraan...
BalasHapusJadi inget cerit temen soal jalanan medan, ternyata memang begitu kenyataannya ya, Mba. Aku yang orang jawa kayanya bakalan Culture Shock kalau ke medan, deh. Maklum jarang denger klakson bunyi dijalanan, sama macet juga, tapi jam sibuk saja.
BalasHapusSederhana tapi menghangatkan hati. Dari cerita-cerita kecil di jalan justru terlihat betapa empati masih hidup di sekitar kita. Kadang orang terlihat cuek dari luar, tapi saat ada yang kesusahan, tangannya lebih dulu bergerak membantu. Kisah ini jadi pengingat kalau kebaikan itu nyata dan menular. Semoga semakin banyak orang yang tergerak untuk saling peduli, sekecil apa pun bantuannya.
BalasHapusAku bayangkan klakson banyak dibunyikan itu mirip mirip di India gak sih, mbak? btw kakakku tinggal di medan, dan suaminya kalau nyetir emang berani gitu sih. Mungkin terbawa sama kebiasaan di Medan ya (maria tanjung)
BalasHapusbikin senyum-senyum sendiri, Mak ๐ Ada sisi “keras”-nya jalanan Medan, tapi juga ada sisi hangatnya yang bikin terharu. Bagian tentang orang-orang yang sigap menolong meski tidak kenal itu benar-benar bikin hati adem. Kadang yang terlihat sangar justru paling ringan tangan ya.
BalasHapusSoal lampu merah yang katanya “anjuran” dan jalan berlubang jadi wahana itu juga relate banget, antara pengen ketawa tapi juga miris ๐ Semoga kehangatan warganya tetap lestari, tapi kesadaran tertib lalu lintasnya juga makin meningkat.
Pernah waktu zaman sekolah dulu naik angkot, trus pas angkotnya liat ada mobil baru n bagus di jalan, lgsg kasih lampu dim kayak flirting gith ke mobil cantik yg papasan,, wkwkwk
BalasHapusMemang gak ada obatlah lalu lintas Medan.
Orang medan ni baik2 lo cha apalagi pengendaranya perempuan salah lampu sen aj org segan negor nya kek apa gt merasa bersalah aja hahaha
BalasHapus