Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penanganan Dislokasi pada Anak

 

Penanganan dislokasi pada anak

Punya anak lelaki, apalagi yang aktifnya luar biasa memang memiliki cerita tersendiri. Sama halnya dengan Emak. Anak laki-laki yang tak lain adalah si nomer 3. Emak pernah cerita tentang khawatirnya saat ia mendadak kejang, saat selesai khitan (cara konvensional) esoknya naik sepeda, tahun 2022 ini yang bolak-balik ia ke rumah sakit hingga lolos dari meja operasi karena telinganya kemasukan benda kecil seperti manik-manik. 

Belum cukup sampai di situ. Saat Emak lagi sibuk urusan Sensus Regsosek, tiba-tiba suami videocall memperlihatkan ia tengah meringis karena tangannya terkilir. Karena pemberitahuannya cuma terkilir Emak pun santai saja. 

Qadarullah saat itu, adik Emak sedang berada di Medan. Background pendidikannya fisioterapi. Saat memeriksa keadaan si anak, ternyata dislokasi. Bukan sekedar terkilir biasa. 

Dislokasi 

Dilansir dari Alodokter, Dislokasi adalah kondisi ketika tulang di sendi bergeser atau keluar dari posisi normalnya. Semua persendian di tubuh dapat mengalami dislokasi, terutama bila terjadi benturan akibat kecelakaan atau terjatuh ketika berolahraga.

Saat itu ia mengalami dislokasi saat bermain kemudian pada saat posisi terjatuh, tangan kanan menopang tubuh agar tidak terduduk. Akibatnya tulang siku mengalami dislokasi. 

Sebenarnya, penanganan dislokasi ringan ini bisa saja dilakukan oleh adik Emak. Masalahnya si Alzam, anak Emak gak mau ketika ditangani. Baru dipegang dikit udah nangis. Ndilalah malah memilih opsi penanganan ke RS. Kebayang proses bakalan lama dan panjang. 

Alur Rujukan BPJS

Karena pasien BPJS, Emak harus sabar mengikuti alur rujukan yang panjang. Pasien masih berusia anak makanya dari puskesmas biasanya dirujuk ke dokter anak. 

Saat itu Emak cuma bagian memberi instruksi pada suami, kebetulan karena pagi itu Emak harus mengikuti pertemuan jadi tidak bisa mengantar ke puskesmas. Nah.. Di saat suami mengantar ke rumah sakit Eshmun kemudian ia menelepon bahwa rujukan salah karena bukan dirujuk ke dokter anak. Namun dokter bedah. Laaah? Gimana sih dokter puskesmas. Masak anak kecil langsung ke dokter bedah aja. Lagian dislokasi begini biasanya dirujuk ke ortopedi. 😪🤦‍♀️

Akhirnya suami harus balik lagi ke puskesmas minta ralat rujukan ke dokter anak. Jarak Eshmun ke Puskesmas lumayan sekitar 11 KM. Akhirnya diberikan rujukan ke Dokter anak di RS Sufina Azis. Lumayan tidak terlalu jauh. 

Menunggu sampai sore baru ketemu dokter anak, kemudian tangannya dirontgen agar terlihat jelas apakah hanya dislokasi atau ada fraktur (retakan). Hasilnya baru bisa dibacakan di hari Selasa (mengingat saat itu adalah hari Sabtu). Sebenarnya pun aturan BPJS bertemu dokter sepekan sekali. Namun dokter memberi keringanan agar si anak cepat dapat penanganan. Alhamdulillah.. Terimakasih dok! 

Dislokasi pada anak


Selasa bertemu dokter hasilnya baik-baik saja. Tidak ad fraktur, hanya dislokasi ringan. Namun si anak tidak bisa melakukan beberapa gerakan seperti meletakkan tangan di dada atau memegang bahu. Dokter anak merujuk kembali ke dokter spesialis tulang atau ortopedi. Namun di rumah sakit berbeda karena rumah sakit Sufina Azis tidak memiliki ortopedi. 

Hari Rabu kami pun mengantar anak ke rumah sakit Royal Prima di Ayahanda. Pasien BPJS mendaftar di gedung B. Gedung utama hanya untuk pendaftaran pasien mandiri dan rawat inap. 

Di bagian pendaftaran Emak membuat surat pernyataan kronologi dengan materai (hihi mengingatkan akan pengalaman Emak membawa pasien ke RSJ dan membuat pernyataan bahwa Emak adalah penanggung jawab pasien 😆). 

Mulai jam setengah 9 menunggu dokter yang Emak gak tau kapan jadwalnya. Ketika bertanya ke bagian pendaftaran ia hanya menjawab "tunggu aja di depan ruangan 9. Nanti tanya perawat di situ". Ketus mungkin nama tengahnya. Jam 11 baru tampak perawat memasuki ruangan 9. Ketika Emak bertanya ia pun memberi jawaban "sebentar lagi Bu, dokter sedang visit pasien rawat inap".

Hampir jam 12 dokter spesialis datang. Hanya 5 menit melihat hasil rontgen dari RS rujukan dan berkomentar " Gak ada masalah kok anaknya.. Dikompres saja bisa sembuh". Emak langsung gahar donk. "Gak ada masalah gimana Dok, si anak gak bisa pegang dada dan bahu. Itu artinya ada masalah.. " Dokter pun akhirnya memberi rujukan ke fisioterapi. 

Selesai dengan dokter spesialis tulang, kami pun naik ke lantai 3 ke ruang rehabilitasi medik. Di bagian tersebut ada ruang untuk hemodialisis dan juga fisioterapi. Sayangnya ketika masuk ke bagian fisioterapi kami harus menunggu jadwal dokter konsultasi hingga tanggal 3 November. Lebih dari 10 hari. Lemes donk Emak. Mau gak mau hanya bisa menunggu. 

Di dalam lift saat hendak pulang Emak pun mengomentarinya "Memang kamu ya, ada jalan yang ringkas (cukup diterapi adik Emak) malah pilih jalan yang panjang!"

Konsultasi dengan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Sebelum tindakan fisioterapi dilakukan, pasien diharuskan konsultasi dngan Kedokteran fisik dan rehabilitasi. Dokternya cukup ramah dan teliti. Memeriksa tidak hanya dari hasil rontgen namun juga memeriksa fisik dan keterbatasan fisik apa yang dialami anak. Hasilnya, anak mendapat jadwal 6 X terapi yakni dalam 1 pekan ada 3 x pertemuan. 

Terapi yang dijalani meluputi terapi dengan alat getar yaitu Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulation (TENS),  IR (infra red) dan terapi latihan untuk menguatkan dan mengembalikan fungsi tangan. 

Tens
TENS

Infra Red
Infra Red


Kesannya sederhana saja, namun ternyata selama 6 X menjalani terapi di RS Royal Prima Ayahanda, siku Alzam kembali normal. Sudah bisa memegang bahu dan menggerakan tangan 360 derajat. 

Saat mengikuti terapi terakhir sempat terucap penawaran dari perawat untuk terapi kembali. Namun ditolak suami karena sudah kembali normal fungsi tangannya dan juga sekali terapi menghabiskan waktu (untuk antri) yang tidak sebentar. Hahaha.  Tak jarang mengantri sejak pagi dan dipanggil untuk masuk ruang terapi menjelang maghrib. 

Tips Penanganan Dislokasi pada Anak

1. Pada pasien BPJS, memang sebaiknya mengambil rujukan ke dokter anak. Setelah pemerikaaan dokter anak akan menentukan akan dirujuk ke dokter mana. 

2. Sebaiknya memang dirontgen terlebih dahulu untuk tau apakah hanya dislokasi atau ada retakan (fraktur) pada tulang. Seandainya ada fraktur tentu penanganannya akan berbeda lagi. Biasanya tangan akan dibebat sebelum mendapatkan terapi. 

3. Jangan sungkan protes bila mendapat jalan keluar yang tidak sesuai dengan keadaan anak. Misalnya, saat dokter mengatakan cukup dikompres saja. Langsung minta rujuk ke bagian Kedokteran Rehabilitasi Medis atau fisioterapi untuk mendapatkan second opinion. 

4. Patuh pada jadwal terapi. Jangan sampai terlewat sekalipun untuk mempercepat perbaikan sendi maupun tulang daerah dislokasi. 

5. Saat selesai dengan satu paket terapi (biasanya 6X) cek lagi dengan teliti keadaan tulang anak. Apakah sudah kembali normal atau belum. Bila ternyata belum bisa kembali mengambil paket terapi di rumah sakit tersebut. 

Alhamdulillah selesai juga proses terapi yang dijalani si nomer 3. Alhasil beberapa kali juga tidak masuk sekolah selama 2 pekan ini. Minimal kini ia tau, apapun yang ia lakukan ia memiliki resiko yang harus ia tanggung. Meskipun hanya sekedar bermain. 

Yang punya anak laki, yuk cerita apa aja hasil dari terlalu aktif anak lelakimu Mak.. 



blogger parenting
blogger parenting Emak anak 5. belajar terus jadi istri dan emak yang baik..

14 comments for "Penanganan Dislokasi pada Anak"

  1. Alhamdulillah siku Dik Alzam sudah kembali normal setelah rutin terapinya yah, semoga tak ada masalah atau keluhan apapun apalagi biasanya anak pemulihannya ini cepat.

    Aku setuju sekali dengan tindakan Mbak yg rujuk ke RS sampai mendapatkan penanganan yang tepat. Soalnya perihal tulang ini jgn sampai disepelekan, mana akhir-akhir ini sering baca perihal penanganan yg salah d linimasa Twitter.

    Nah kalau kayagini kan jd terpantau yah perkembangannya, di masa depan jg nggak bakal ada keluhan yg datang terlambat. Akhirnya setelah menyelesaikan sesi terapi, hasilnya membaik, perjuangan ngantri2 jd membuahkan hasil yaah hihi. Yeaaay bs beraktivitas kembali dan hati2 yah Alzam :D

    ReplyDelete
  2. Nggak kebayang repotnya bolak balik Puskesmas karena salah rujukan. Mana jauh pula 11 KM. Btw, untungnya Emak ngegas saat dokter bilang nggak apa2, jadi bisa dibawa ke fisioterapi. Btw, makasih ya, Mak. Aku jadi tahu apa iti dislokasi.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, udah sembuh sekarang ya mak, tangannya Azzam

    Sungguh emang pake BPJS itu menguras waktu dan batin 😅
    Kebayang deh saya nunggu dari pagi dipanggil maghrib karena saya juga pernah konsul kehamilan di RS pake BPJS diakhirkan banget, sampean tidur siang di RS 😭

    ReplyDelete
  4. Waduh, seram juga ya mba kalo salah rujukan 😔 tapi infonya bermanfaat kali mba. Jadi bisa lebih berhati-hati menggunakan BPJS

    ReplyDelete
  5. Sehat terus yaa Alzam, anak pintar itu banyak history macem2nya hihi, akan manis utk diingat kl udah gede ya Nak.. hehe... emaknya semangat dan sabar terus ya,, kan udah berhasil bersabar jg menghadapi suster yg middle name-nya Ketus, wkwkwk

    ReplyDelete
  6. Duh ... "mengantri sejak pagi dan dipanggil untuk masuk ruang terapi menjelang maghrib" ... betul2 menguji kesabaran ya, Mbak. Semoga tidak pernah terjadi lagi yang seperti ini kepada ananda.

    ReplyDelete
  7. BPJS itu bukannya singkatan dari Bantu Pasien Jadi Sabar yaaa, haha.
    .
    Tapi emang bikin kesel alurnya yang bikin pasien makin kesana makin kesini.
    Tapi Alhamdulillah alzam udah sembuh ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi tadi sempat gak abis pikir juga saat dokter bilang cuma masalah kompres biasa. Duh, dislokasi itu kalo gak ditangani efeknya berat. Kayak salah ngeletakin barang, tentunya bakal muncul komplikasi kedepannya

      Delete
  8. Nggak nyangka dokternya kasih saran kompres aja.
    Cepat sembuh ya Zam.
    Lain kali kalau diobati ami jangan nangis-nangis lagi

    ReplyDelete
  9. Kak, dislokasi ini sepertinya bahaya ya. Adiknya temenku meninggal karena tulang ekornya geser akibat jatuh. Dan dia pun tidak langsung bilang saat jatuh. Sedih sih kalau ingat adiknya temenku itu.

    ReplyDelete
  10. Baca artikel ini berguna sekali nambah lagi ilmu parenting saya mba, bisa jadi anak-anak di rumah juga mengalami dislokasi ini ketika jatuh, dan memang harus hati-hati alias wajib diperhatikan ketika anak-anak di rumah bermain, semoga keluarga kita selalu dijaga ya mba

    ReplyDelete
  11. Kesel sih... Udah nunggu lama, tapi begitu dokternya datang malah bilang ga masalah. Sementara si anak udah ga bisa apa apa. Mungkin memang karena pake BPJS. Tp sebenarnya meski pake BPJS harus tetap dilayani dengan baik karena pasien juga bayar

    ReplyDelete
  12. Semoga ananda terus sehat selalu ya Mba. Alhamdulillah saya make BPJS belum pernah kena masalah yang berkaitan dengan pelayanan. Sejauh ini dilayani cepat dan dapat sesuai hak pasien sih.

    ReplyDelete
  13. Salfok pas cerita menunggu di ruang 9, Ketus mungkin nama tengahnya haha

    ReplyDelete

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️