Cerita Pengasuhan : Waspada Kejang Anak tanpa Demam
Ilustrasi from Google


Jumat lalu, adalah hari yang cukup mengaduk-aduk perasaan emak.

Gimana gak, habis shalat subuh masuk ke kamar rencana mau bangunin anggota keluarga yang lain untuk shalat subuh, emak malah mendapat salah satu anak sudah terbangun. 


Terbangun dalam keadaan yang tidak biasa, mata melotot melihat ke sebelah kiri.
"Eh, abang kapan bangun? Kok tumben gak manggilin mama?" Tanyaku pada si nomer 3.

Dia hanya diam tanpa respon.
masih melihat ke sisi sebelah kiri. 
"Abang lihat apa?" Tanyaku lagi.
masih diam tanpa respon. 

Aku menggoyang tubuh baba (ayah) nya, memberi isyarat tentang si anak.
"Bang.. abang kok diem aja, abang marah atau ngambek?" Tanyaku lagi.

Baba nya pun ikut menanyai. 
"Bang.. abang kenapa?"
Masih tetap sama. 
Jam belum menunjukkan 5.30 saat itu.

Aku instruksikan baba nya mengendong ke sofa, sementara aku me ngambil air.

Anak ini suhu badannya normal, ku isi air di gelas, membacakan beberapa surat Al Quran, tak lupa meletakkan 7 lembar daun bidara. 

Begitulah antisipasi awal seandainya si anak terkena gangguan jin. Karena awalnya tak merasa ada gangguan medis.


Setelah itu ku minumkan pada bang Alzam.
terdengar beberapa tegukan.  
Namun tak lama kemudian,  drolling (keluar kembali).

Si Anak masih dengan  tetapan melotot miring kiri, ku peluk kubacakan beberapa ayat Al Baqarah. 
Aku kata kan pada baba nya shalat dan doa dulu buat anaknya.

Sempat Kutelpon ibu dan adik ku menanyakan pendapat mereka, kenapa si anak kok bisa begini.

Tak lama, jam hampir menunjukkan pukul 6, si anak mulai kejang. 
Kejang tak begitu kuat, namun bahagian kiri wajah,  termasuk mata dan mulut tampak miring.  
Panik mulai melanda. 

Air mata mulai berjatuhan melihat reaksi si anak.
memanggil-manggil sambil istighfar,  tahlil,  dan semua ucapan berserah padaNya. 

"Bang, pinjam mobil kita bawa secepatnya ke rumah sakit.." kata ku pada suami.

"Kayak mana kita soal rumah sakit? " Ia balik bertanya. Mengingat kami memang tak punya dana.
kartu bpjs hanya ada atas nama kami dan si kakak nomer 1.


"Kita bawa dulu, nanti kita pikirkan"

Dia pun terburu meminjam mobil tetangga.
(Jazakillah bu Ulan, karena selalu jadi langganan kami pinjam kalau terdesak).


Anak2 yang lain pada bangun.
si sulung dan nomer 2 ku suruh shalat dan berdoa.

Tak lama yang paling kecil bangun.
Aku amanah kan si kecil pada si sulung.

Melihat aku terus berdoa untuk adiknya, si sulung yang perasa menangis melihat keadaan adiknya.

"Kakak jangan nangis, doa yang terbaik buat Alzam " kata ku padanya. 

Aku tetap memeluk sambil membaca ayat, tak sanggup bila melihat keadaan si anak. 
Beberapa saat ia tenang.

kami hanya membawa barang seperlunya,  lalu langsung tancap gas ke rumah sakit.

Aku katakan pada adik ku untuk menunggu kami di ruang ugd rumah sakit yang biasa anak-anak bertempat dengan dokter spA mereka.

Sayang, setelah kebut-kebutan di jalan, ugd di sana sudah tidak ada lagi.

Dokter spA juga kehabisan obat anti kejang.

emak gak tau, berapa kali Alzam kejang dan tenang.  Namun, saat terakhir memutuskan membawa ke ugd terdekat, kejang nya belum berhenti. 


Aku berlari tepat di depan ugd, sambil menggendong si anak, hingga lupa dengan kehamilan ku yang hampir masuk bulan terakhir.

Jangankan kehamilan,  sepatu emak pun tak dipakai,  hanya kaki berselimut kaus kaki berlari menjumpai dokter jaga.

Dokter langsung memberi selang bantuan nafas,  perawat membawa obat anti kejang lewat dubur.
tampak tak bekerja dengan baik, obat anti kejang diberi kan kembali dan suntikan dengan bertanya berat si anak untuk menentukan dosis.

Termometer hingga infus dipasang ke anak. Akhirnya nampak tenang, meskipun masih belum tuntas. 

lalu di masukkan si anak ke ruangan yang bertanda KUNING.  Ada 3 ruang, merah kuning dan hijau.

Oooh, berarti anakku sudah cukup mengkhawatirkan.  Pikirku saat itu.

Di pasang pula alat yang untuk memonitor detak jantung dan selang di mulut.

Tak lama, suster menyuruh aku ke meja pendaftaran.

Singkatnya,  si anak harus masuk icu. 
Aku harus membayar 5 juta untuk deposit.
Allah maha Kaya. 5 Juta hanya seperlima debu bagiMu ya Allah.

Aku menelpon kakak dan adik ku.  Diusahakan lah uang tersebut.

emak pun berbagi tugas.
ketiga anak masih di mobil. suami kakak menjemput mereka. Suamiku menjaga Alzam di ugd.
Sementara adik mengantar aku pulang mengambil surat- surat yang dibutuhkan.

sepanjang jalan aku terus berserah diri.
Aku Ikhlas ya Allah, La ilaha illa anta Subhanaka inni kuntum minadzholimin. 

Tak lupa,  aku meminta doa semua keluarga termasuk beberapa komunitas.
Aku percaya,  semakin banyak yang berdoa, semakin cepat Allah kabulkan.  Entah dari mulut siapa yang Allah lebih dulu jawab.


Sebelum sampai rumah, si adik berhenti ke tempat makan. Mengingat dari subuh, seteguk air pun belum kuisi ke perut.

"Makan dulu, jangan  jadi ikut sakit" 

Selesai makan, ke rumah, mengambil beberapa surat penting dan kembali lagi ke rumah sakit.
jarak rumah ke rumah sakit lumayan ya...
mungkin sekitar 13km. 

Rumah kami di bandarsetia,  sedang kan rumah sakit di bilal.

Sekembalinya ke rumah sakit, suami memberi kabar kalau si anak harus segera dipindah ke icu.
Aku pun melihat kateter sudah dipasang ke si anak. Sampel darah juga sudah diambil.

Perawat kembali lagi dan mengatakan si anak harus pindah ke icu.
emak kemudian dipanggil ke ruang admin di ugd.
si anak harus pindah ke icu, tapi berkas belum sampe ke meja mereka.
Emak bilang udah daftar.
Apakah ini karena belum deposit?  Pikir emak.

Emak pun pergi ke meja registrasi Untuk memastikan.
Setelah itu langsung ke meja admin kembali.

Emak bertanya, gimana si anak kalo di ruang inap biasa saja? (Mengingat kalo di ruang icu, emak gak boleh masuk).

Jawab nya sungguh dahsyat..

"Teerserah ibu, boleh di ruang biasa, boleh rawat jalan, tapi gak memenuhi saran dokter"

Tak lama seorang dokter menjelaskan,
"alat di ruang icu gak boleh pindah ke ruang rawat inap bu.. di sana sudah ada perawat yang jaga 24 jam."

Saya kemudian minta boleh diizinkan masuk, kalo si anak dibawa ke ruang icu.
mereka memperbolehkan.
Tak lama si adik mengantar uang deposit.

Singkat cerita, Masuklah si anak ke icu. Sebelumnya ia dibawa untuk ct. Scan kepala dan rontgent thorax.
Setelah dibawa masuk ke ruang icu,
Emak cuma bisa lihat dari kaca di pintu.
Menunggu baba nya pulang shalat jumat, emak pun menunggu di kursi dengan kakak ipar.

Terlihat ibu dan anak tertidur di lantai di depan kamar operasi (si ibu juga menunggui pasien icu), langsung teringat pada anak bungsu.  Duh, dek Zia apa kabar.. (Resiko punya anak banyak).

Pulang shalat jumat, aku pun berganti mau shalat dzuhur.
kubisikkan doa keinginan ku bila nanti aku wafat, anakku Alzam adalah imam shalat jenazahku..

Selesai shalat, aku ke ruang icu, mencari kesempatan mencuri masuk saat perawat sedang sibuk mengeluarkan atau memasukkan pasien.

Ternyata, alat pembaca detak jantung tak dibenerin meskipun sudah bunyi notif error. Aku melengos.
Aku melihat anakku.
ku katakan padanya "Bang,  mama tunggu abang di luar ya.."

Ia mengangguk.
Aku takjub.
"Abang bisa dengar mama kan?" Ulangku.
Ia mengangguk kembali.
rasanya terharu sekali.
"abang cepat sehat, abang anak kuat kan. Nanti kalo abang bangun,  mama ada di luar ya. jangan nangis.."

Aku pun keluar,
suamiku kembali membawa makan siang kami.
sebungkus berdua, bukan romantis.
Kami Sama2 tak bisa makan banyak.

Aku bercerita padanya tentang anggukan respon anak kami. Semoga ia segera sadar.

Azan ashar, kami berganti shalat.
Setelah ia shalat, Ia masuk sebentar ke ruang icu.
Ia mengabari si anak sudah sadar.
Alhamdulillah.  Aku takjub sekali lagi.
Kalimat pertama nya "baba.. Minta makan.. Lapar"

Aku katakan pada suami, minta pindah ke ruang rawat inap.
Dokter spA belum ada menjumpai kami. Dan lagi belum dibacakan hasil lab darah.

Aku bertanya, kapan dokter datang? Perawat bilang sebentar lagi.
Aku pun segera shalat takut nanti tak bisa bertanya banyak.

Aku bersujud syukur.
Setelah shalat ternyata dokter sudah berlalu.
suami bilang hasil darah tidak ada yang mencurigakan.  Tinggal menunggu hasil ct scan kepala dan rontgent thorax.


Aku menjumpai anakku. Kutanya beberapa pertanyaan, Alhamdulillah ia menjawab dengan baik.
Kami segera memindahkan si anak karena ia meminta makan terus menerus.

Akhirnya si anak pindah ruangan, makan dengan lahap hingga perawat takjub ia menghabiskan sayur.
orang yang menjenguk menjadi heran, baru di icu, ternyata sudah pindah ke ruangan inap.

Saat kakak ipar (bou anak2) datang, ia minta makan lagi.
kami hanya merasa lucu. Memang sih dia makan banyak, tapi baru keluar dari icu kok bisa selera makan dengan lahap,

Dia makan lagi jam 8 malam dengan lauk telur dadar permintaannya.  Habis lah setengah bungkus nasi.

Jam 12 malam minta makan lagi, kuberikan sisa setengah bungkus yang tadi.

Akhirnya mulai sibuk minta pulang , minta lepas infus, mulai tak betah.
Disuruh tidur, sudah kenyang seharian di ugd dan icu.
Jam 5 pagi minta makan. Ku katakan belum ada kedai yang buka. Ngemil gak mau. Maunya NASI.

Syukur jam 6.30 sudah datang makan pagi. Makanlah ia dengan lahap.
Akhirnya dokter datang jam 8.30

Melihat perkembangan Alzam ia pun takjub.
Emak dipanggil ke ruangan.
Membaca hasil ct scan kepala dan rontgent thorax.

Tidak ada masalah.
Hanya takut ada Kemungkinan epilepsy.  Dokter menyarankan untuk test eeg.

Tapi dilakukan di rumah sakit lain yang punya pembaca hasil eeg ahli syaraf otak anak.


Ok.
Siang jam 11.30 dia makan kembali.
Jam 2 siang akhirnya ia tidur.
Bangun tidur sore, minta pulang.
Sudah tidak bisa kooperatif lagi.

Pagi sempat ganti tempat infus karena tangannya bengkak.  Hasil dari satu malaman minta buka infus.

Akhirnya kita putuskan pulang sore itu, apalagi setelah menerima notif, uang deposit kami sudah mau habis,  heheheh.

Alhamdulillah,  Allah Maha Kaya.
Uang rumah sakit tertutupi dari Kiriman semua kakak ipar.

Sooooo.
kesimpulan yang bisa didapat dari cerita ini adalah:
1. Berserah dulu atas semua ke tetapan nya.
2. Segera bawa anak ke rumah sakit sebelum kejang, bila dirasa ada keanehan.
3. minta keluarga ikut berdoa
4. Yakinkan dalam hati, Allah yang beri ujian,  Allah pula yang memberi kemudahan.
5. Ingat  Al Insyiroh,  dua kali Allah mengingatkan dalam kesulitan ada kemudahan.
6. Banyak istighfar.
7. Lakukan pengecekan tahap lanjut bila tak ditemukan penyebab kejang pada anak, padahal tidak demam.


Sekian cerita emak kali ini.
tetap waspada terhadap keadaan medis anak.
tetap sabar dan tegar.
Semoga bermanfaat. 

18 Comments

  1. Ya allah saya koq merinding ya baca ceritanya kak, aduh gak kebayang deh klo anak saya kejang dan terdiam melotot gitu pasti panik bgt, kata dokter spA anakku, klo kejang itu ada genetik dr keluarganya jadi gak semua anak sakit kejang2 ataupun ada sakit di syarafnya dugaanku pun begitu, coba dites eeg aja menurut anjuran dokter 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak iid, memang eeg itu harus dilakukan biar tenang juga emaknya.

      Delete
  2. Syukurlah hasil darah dan CT Scannya gpp mba. Smg anaknya selalu sehat

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah terlewati dengan baik ya....
    bang Alzam sepertinya anak yang kuat... semoga selalu sehat....

    ReplyDelete
  4. Semoga bang Alzam dan yang lainnya sehat terus kak. Ikut nangis bacanya. Ga bisa terpikirkan ada hal yang seperti ini. Kejang san drooling gitu. Kakak dan abang juga sehat sehat ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Sama2 kak alfie.
      kak alfie sekeluarga pun Sehat2..

      Delete
  5. Pengalaman liat sepupu kejang2 kirain step. Sampe opname dia. Makasih cha uda buat artikel ini.

    ReplyDelete
  6. Biasanya riwayat kejang itu berulang ya mak... mesti tetap aware nih. Semoga selalu sehat ya anak-anak kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kejang demam iya kak dyah..
      ini kejang tanpa Demam...

      Delete
  7. Semoga bang Alzam cepat sehat kembali, dan kakak beserta keluarga selalu di mudahkan rezeki untuk menjaga buah2 hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. Makasih kak oem.
      Kak oem sekeluarga juga Sehat2 selalu ya..

      Delete
  8. Masya Allah mbak...semoga si abang dan mbak sekeluarga selalu sehat ya...keluarga saya juga ada yang pernah gitu mbak. Alhamdulillah penyebab kejangnya sudah diketahui. Anak ponakan saya akhirnya minum obat rutin nggk putus. Lama kelamaan dosia obat menurun. Alhamdulillah nggak pernah kambuh lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti ponakan mbak ning positif epilepsy?
      Ini saya belum jadi cek eeg, secepatnya memang mau eeg.
      Biar gak berulang.

      Delete
  9. Waduh kak, sudah terbayang gimana kalapnya. Syukurlah, Alzam sudah sehat. Jadi, nambah pengetahuan ttg epilepsi... Thanks sudah berbagi

    ReplyDelete