Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pantai Buaya, Wisata Memori Masa Kecil

Pantai Buaya

 

 Memori.. Membawaku ingin mengulang beragam kisah... 

Entah dimana awalnya.. Tapi saat itu minta suami bawa kami jalan. Ditanya suami mau kemana, Emak hanya menjawab "Pantai Buaya.. "

"Di mana sih pantai buaya?" Suami bertanya kembali. Di Besitang. Jawab Emak singkat. "Laaaah jauhnya. Sungai lain yang dekat kan ada.. " Kata suami lagi. Kami sekeluarga memang suka sekali main air di sungai.

Mungkin maksud pak suami cari wisata sungai yang dekat seperti Wisata Alam Armaya. Namun kali ini Emak menjawab tidak. Kenapa ya, Emak pun tak tau. 

Tiba-tiba Emak teringat saat berusia 10 atau sekitar kelas 4 SD. Saat itu diajak almarhum Bapak untuk wisata ke hutan. Beneran hutan. Di kaki Gunung Leuser. 

Taman Nasional Gunung Leuser

Btw, sudah tahu kah Mak? Taman Nasional Gunung Leuser menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2004. Meskipun secara administratif Taman Nasional Gunung Leuser berada di wilayah Aceh. Namun secara nyata, Taman Nasional Gunung Leuser berada mulai dari Subussalam hingga Aceh Tamiang. Meliputi daerah Sumatera Utara yakni Dairi, Karo dan Langkat. Luas bukan? 

Nah.. Tahu juga gak Mak,  kalo pendakian terlama /terpanjang se-Asia Tenggara berada di Taman Nasional Gunung Leuser ini.. Pendakian yang dimulai dari Kedah ke Puncak Leuser membutuhkan waktu 6-8 hari loh. Gak kebayang deh bawa itinerary sebanyak apa 😆. 

Pantai Buaya

Pantai Buaya


Tiba-tiba Emak teringat akan Pantai Buaya ini. Salah satu jalan masuk ke Taman Nasional Gunung Leuser yang pernah Emak datangi bersama almarhum Bapak. Dulunya setelah sampai di Pantai Buaya akan ada penduduk sekitar yang menjemput kami anak-anak dan perempuan untuk dibawa masuk ke tujuan tempat kami berkemah dengan  menaiki motor boat. Sementara Bapak dan juga lelaki dewasa lain berjalan menyusuri jalan setapak ke hutan. 

Tapi lain cerita kali ini. Emak hanya membawa anak-anak bermain di tepi sungai. Apa aja sih kegiatan kami seharian di Pantai Buaya.. Yuk terus ikuti 

Pantai Buaya, cuma itu yang Emak ingat. Iseng cari di browser tentang Pantai Buaya ternyata tidak banyak info yang didapat kecuali merujuk pada sebuah nama jalan di sebuah desa di Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. 

Lebih gawat lagi, ketika mengikuti maps hanya sampai sekitar 200 meter dari jalan lintas Medan-Aceh. Makanya setelah sampai, suami sempat melirik seakan bertanya "Di mana lagi jalannya? Kok cuma sampai sini? ".

Sebelum bersuara Emak langsung mengatakan " Biar adek tanya ke orang lewat.. " Padahal Emak tahu lelaki itu paling anti bertanya lokasi meskipun ia sendiri masih bingung. 

"Adek liat di mana? Coba baca lagi di blog mana.. " Katanya kemudian. Emak cuma berbisik.. "Gak ada.. Adek cuma pernah ke situ pas masih kecil.. " Jawab Emak jujur. 

Saat itulah paksu langsung menepuk jidatnya tertawa. "Ya udah kita cari tempat lain.. " Kata Emak. 

Setelah menghilangkan rasa malu beliau bertanya ke penduduk sekitar, dari jalan tersebut hanya mengikuti jalan terus hingga bertemu pamflet "Wisata Pantai Buaya".

Pantai Buaya Besitang


Sayang.. Setelah sampai ternyata sungai sedang banjir. Air Pantai Buaya sedang keruh. Suami lagi-lagi menyindir, " Jauh kali ke sini yank.. Airnya kayak Sungai Deli.. " (Sungai di tengah kota Medan, yang keruh banyak sampah mengalir hingga ke Belawan). 

"Ya udah kita cari sungai lain yang dekat sini.. Atau putar balik ke tangkahan aja.. " Emak mulai kesal. "Wah gak bisa.. Kesorean kita nanti, gak sempat mandi sungai anak-anak.. ". 

" Ya udah habis makan bekal siang, kita pulang yuk.. " Anak-anak langsung protes. 

"Jangan ma.. Mandi aja.. Di pinggiran sungai gak bahaya kok.. " Kata si sulung.

"Airnya deras, nanti hanyut loh... " Kata Emak. 

"Itu ada orang mandi kok ma.. " Anak yang lainnya menimpali.. 

"Ya mereka memang tinggal di sini.. Jadinya jago berenang. Kamu kan belum sejago itu.. " Kata Emak. 

"Gakpapa.. Pokoknya mau mandi setelah makan.. "

Kompak dari anak pertama hingga yang kelima. Setelah selesai makan, penduduk sekitar menyapa kami.. 

"Bang.. Ke sana saja.. Aman kok.. " Katanya menunjuk ke kumpulan penduduk yang juga berniat main air meski sedang keruh. 

"Lagi banjir bang.. Tadi malam hujan deras. Kalo biasanya air cantik, jernih dan tidak dalam seperti sekarang. " Ucap orang tersebut pada suamiku. 

Akhirnya Emaknya cuma bisa legowo melihat anak-anak nyemplung ke air.  Gak lama melihat mereka main air, mereka pun memakai ban mengikuti arus sungai. 

Wah Emak mau coba ah.. 



Ternyata enak juga main air di Pantai Buaya meskipun air sedang tidak secantik biasanya. Anak-anak tetap bisa bersenang-senang di air. 

Terkadang memakai ban, terkadang memakai swim board malah di jam terakhir sebelum pulang mereka mengikuti arus tanpa keduanya. Mulai lancar berenang tanpa bantuan. Wahh 

Hari menjelang senja, kami pun bersiap pulang. Anak-anak makan sembari mobil berjalan. Di perjalanan pulang Emak bertanya, enak kah main di Pantai Buaya? Mereka serempak menjawab enak.. Lalu Emak berkata, lain kali kita cari sungai yang airnya lebih baik ya.. 

Eeeh malah kompak minta balik ke Pantai Buaya lagi. Haha. Dalam imajinasi Emak.. Seandainya saja Sungai Deli di Medan bebas sampah dan limbah.. Airnya dinormalisasi, pastilah bisa dibuat wisata air yang tak kalah menyenangkan. Soalnya arus Sungai Deli lumayan bagus menuju ke Pelabuhan Belawan di ujung Kota Medan. (Eeeh paragraf terakhir jangan serius banget 🤣🤣). 

Penutup

Wisata Sungai memang sangat menyenangkan buat anak dan keluarga. Pastikan sebelum datang cek ricek deh agar tidak mengalami kebingungan soal lokasi dan juga kondisi air. Disarankan agar anak mendapat pengawasan meski air terkesan dangkal karena air sungai memiliki arus yang tampak tenang namun menyimpan kekuatan yang luar biasa bila kita lengah. Selamat libur(an) kembali 🥰🥰

Pantai Buaya




blogger parenting
blogger parenting Emak anak 5. belajar terus jadi istri dan emak yang baik..

10 comments for "Pantai Buaya, Wisata Memori Masa Kecil"

  1. Namanya aja Pantai Buaya, tapi ga ada buayanya kan ya?
    Saya dan keluarga pun suka main di sungai. Tapi yg dekat saja disini. Alhamdulillah masih bersih dan ada pasir jadi seperti di pantai saja

    ReplyDelete
  2. Bermain air selalu menarik, pantai menjadi tempat yang kesannya khas apalagi jika ada hubungannya dengan masa lalu.

    ReplyDelete
  3. Dulu awal tinggal di Sumatera bingung kok bilangnya pantai padahal jelas-jelas sungai hihihi...Karena selama jadi warga Jawa Timur (dan Bali) pantai itu ya tepian laut. Tapi memang sungai yang di daerah di Sumut masih bersih, enggak ada sampah...beda sama Sungai Deli yang ya begitulah
    Senangnya anak-anak bisa main di sungai, kalau kami mesti pas mudik ke Kediri main air sungai, kalau sungai di Jakarta ya begitulah kwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi bener.. Di sini pantai sering juga tepian sungai.

      Delete
  4. Kalau arah akses menuju ke Pantai Buaya belum banyak yang tahu, bisa banget tuh Kak dimasukkan ke google maps melalui akun google local guide. Biar makin banyak orang yang eungeuh sama lokasinya.

    Penasaran sih. Kenapa nama tempatnya Pantai Buaya ya? Emang banyak Buaya ya di sana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide menarik nih kak.
      Btw gak ada buaya kok 🤣🤣🤣

      Delete
  5. mungkin dulunya ada banyak Buaya di situ ya hehe, penasaran kl jernih kekmana. Aku jdi ingat wisata di pantai/pulau Buaya di Tanjung Balai. pengen ngebolang haha

    ReplyDelete
  6. Itu knp dinamakan pantai buaya ya,, sungei kan ya,, kayaknya airnya dangkal ya cha,, tp seneng sih main di air,, apalagi pantai di laut.

    ReplyDelete
  7. Orang kita kl wisata perairan alami pasti menyebutnya pantai ya Cha,, kayak Pantai Karomah eh rupanya sungainya,,hihi.. unik. Termasuk Pantai Buaya ini, sungai buaya yg gak ada buayanya, wah liburan yg seruuu

    ReplyDelete

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️