Tips Menjadi Konsumen Cerdas

 

Tips Menjadi Konsumen Cerdas

Rutinitas Emak anak lima terkadang membuat Emak cukup ngos-ngosan membagi waktu untuk diri, pasangan, anak bahkan orang sekitar. Tak jarang me time dengan update blogpost pun dilakukan malam saat anak-anak tengah tidur. Suami yang memang selalu tidur lewat tengah malam pun secara tak langsung terkadang menjadi kawan, ya.. karena nemenin juga sambil punya aktivitas lain.

Temen kami yang lain adalah segelas kopi. Bukan.. bukan biar gak ngantuk, kebetulan Emak ini jenis manusia yang gak berefek terhadap kopi. Kalo ngantuk ya tetep aja ngantuk. Kopi terkadang menjadi alasan suami buat komunikasi di saat anak-anak sudah lelap. 

Sekedar bilang "Yang.. bikinin kopi.." adalah kalimat pembuka percakapan di malam hari saat ia pulang ke rumah. Kopinya macem-macem. Kadang minta buatin kopi susu, kadang kopi instant seperti Luwak White Koffie. Jujur sejak pertama kali brand Luwak White Koffie beredar di pasaran, merk ini sering menemani malam kami. 

Bagaimana tidak? Sejak pertama kali keluar di pasaran, merk ini melakukan promo iklan besar-besaran (hingga sekarang). Tak jarang melakukan blocking time di saat prime time pada program televisi rating tinggi pula. Selain itu, juga rutin memiliki varian baru. Jadi, kami tak jarang membeli satu pak dengan varian bermacam-macam.

Tanggal 26 Februari lalu, seperti biasa.. sebelum pulang suami melipir dulu ke Indomaret yang di sekitar Jalan Karya Helvetia, membeli satu package Luwak Tarik Malaka. Sesampainya di rumah Emak pun langsung membuatkan 2 gelas kopi tarik tersebut.

Tidak ada yang aneh, sama seperti biasa Emak membuatnya. Saat terakhir menuang Krimer Kental Manis pun Emak seperti biasa selalu mencicip ke mulut tetesan akhir dari krimer tersebut. Krimer yang pertama tak ada masalah. Krimer kedua kok terasa asam? "Coba dulu cicip.. kok asam.." kata Emak pada paksu. "Ehm.. buang aja deh.." katanya setelah mencicip.

Emak penasaran donk.. satu package kan ada 8 sachet, jadi mulai buka kemasan kecil lainnya. Ternyata ada kemasan kental manis yang menggembung. Buru-buru Emak perhatikan kapan tanggal kadaluarsa yang tercantum di kemasan. Masih lama, Januari 2022. Mh.. kenapa ya? Trus jadi agak horor karena ada tulisan for export to Malay. 

Aaah sebagai konsumen Emak harus jeli. Jangan asal upload ke sosial media apa yang kita temukan. Memang kita berada di pihak yang dirugikan. Tapi.. langsung atau buru-buru upload  ke social media tidaklah memecahkan masalah. Silap kata, kita masuk pada pencemaran nama baik dan melanggar UU ITE.

Nah.. sebagai manusia yang menggunakan ponsel pintar, kita jangan mau kalah dengan smartphone yang kita pakai. Penggunanya juga harus lebih cerdas dari perangkat yang digunakan. So.. apa yang harus kita lakukan bila sebagai konsumen ada hak kita yang tercederai?

Tips Jadi Konsumen Cerdas

1. Tabayyun

Bahasa mudahnya, tabayyun itu mencari informasi yang jelas akan sesuatu langsung ke sumbernya. Pada masalah yang Emak alami, ke manakah Emak harus bertanya?

Setidaknya Emak harus bertanya pada dua pihak. Yakni Indomaret dan langsung ke pihak Luwak White Koffie. Syukurnya kita berada di zaman serba mudah terhubung. Kedua pihak ini bisa kita tanya melalui akun media sosialnya. Emak pilih Instagram. 

Maka Emak bertanya ke kedua pihak melalui DM Instagram mengenai apa yang Emak alami.


2. Sertakan Bukti

Ceritakan apa keluhan kita sebagai konsumen ditambah dengan bukti yang kita punya. Nah, Emak punya struk pembelian di mana membeli produk tersebut serta foto produk kental manis di dalam luwak tarik Malaka yang mengalami penggembungan. 

Gunakan bahasa yang sopan dan juga jelas. Dan Emak sekalian bertanya, kenapa ya produk dengan label export bisa dijual kembali ke Indonesia? Daripada penasaran ya kan..

Tips Menjadi Konsumen Cerdas


3. Simpan Struk Pembelian 

Bila diperlukan, jangan buang dulu struk pembelian. Sisa produk yang rusak juga sebaiknya diasingkan agar mudah ketika dibutuhkan. 

4. Sabar Menunggu

Setiap akun sosial media perusahaan besar pasti dipegang tidak hanya satu orang saja. Sebaiknya sabar menunggu hingga admin membaca dan melimpahkan kasus kepada yang berwenang. 

5. Mengikuti Semua Arahan 

Setelah admin membalas pesan yang kita kirimkan, ikutilah semua arahan yang diberikan. Mungkin kita diharapkan akan berhubungan langsung dengan pihak yang sudah ditunjuk dan diminta mengirim data diri berupa alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.


Balik lagi ke kasus yang terjadi pada Emak selaku komsumen, tak lama Emak diminta data diri dan diharapkan bersabar untuk follow up kejadian yang terjadi.

Ternyata, kedua belah pihak baik Indomaret maupun Luwak White Koffie menunjuk perusahaan distributor untuk melakukan follow up ke Emak. Seorang pegawai distributor langsung datang menjumpai Emak dan mengucapkan terimakasih atas keluhan yang sudah disampaikan. Apa yang Emak lakukan akhirnya membuat semua pihak untuk menge-check langsung ke toko yang menjadi tempat suami membeli produk.

Kemudian memberitahukan penemuan mereka, yakni:

1. Tidak ada Luwak Tarik Malaka yang mengalami penggembungan seperti punya Emak. Artinya akan dilakukan pengecekan ulang ke seluruh kode produksi yang sama di seluruh Indonesia.

2. Akan dilakukan pemeriksaan di pabrik langsung apakah ada kesalahan racikan pada produk dengan kode produksi yang sama.

3. Terkait Label ekspor ke Malaysia, hal tersebut dikarenakan pandemi yang berefek domino yakni, membuat produk yang sudah dikemas dengan label tersebut tidak jadi didistribusikan ke luar negeri. Jadi bukan produk retur dari luar negeri. 

4. Berterimakasih karena laporan yang Emak sampaikan, hal seperti ini akan membuat mereka lebih berhati-hati di kemudian hari.

5. Meminta maaf dan memberi ganti produk yang sama plus diberi satu lagi produk dengan varian less sugar untuk Emak.

Tips Menjadi Konsumen Cerdas


Wah senang rasanya, karena Emak tidak gegabah dalam menghadapi keluhan produk yang dialami. Hal ini membuat Emak percaya bahwa label besar seperti Luwak White Koffie tidak akan bermain-main menjaga image baik yang sudah dibentuk di masyarakat dan ke depannya juga lebih berhati-hati. Oh ya, jadi teringat nih pesan dari Kak Elva tentang Menjaga WhatsApp dari Pembajakan.

Baiklah, setelah membaca pengalaman dan tips dari Emak, jadi mau nanya nih..pernah gak mengalami kejadian serupa? Apa yang kamu lakukan, Mak?


43 comments:

  1. Kadang saya salut banget sama seorang ibu yang harus mengurus rumah, suami dan anak, lalu rajin update blog juga. Luar biasa banget semangatnya. Makanya saya terkadang malu, ada waktu banyak, eh malah jarang update blog. Applause buat para mamak di +62, hehehe...

    Wow rupanya penggemar Luwak White Koffie nih ya Mba...

    Kalau saya belanja ke Indomaret atau Alfamaret, saya selalu simpan struk belanjaan, sampai benar-benar yakin semua makanan atau minuman yang saya beli, dalam kondisi bagus dan nggak kadaluarsa, setelah itu, baru deh struk dibuang.

    Saya kalau beli susu cair yang 900 ML, langsung saya cobain di parkiran, kalau jelek, kan bisa langsung dibalikin, nggak bolak balik lagi. Soalnya pernah sekali beli, susunya asem rasanya, karena nggak dicobain dulu. Akhirnya balik lagi deh minta ditukar dengan nunjukkin bukti struk itu.

    Nice sharing Mba....

    ReplyDelete
  2. Kemungkinan barang sisa ekspor yang karena kekeliruan salah satu pihak, jadi balik lagi terdistribusi.

    Untung ketemunya sama konsumen cerdas ya. Kalau konsumen yang berusaha menuju cerdas seperti saya, kayaknya ya udah aja dibuang. Hiks.

    Untungnya karena merasa enggak cerdas, jadi dibuang aja, daripada mengunggah di media sosial dan menjadi masalah kemudian hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi ingat pengalaman membeli barang yang kualitasnya buruk di minimarket. Cuma ya gitu, karena struknya udah dibuang, jadi gak bisa diklaim atau mengajukan komplain. Untung harganya gak mahal2 amat.

      Delete
  3. Asik juga yaa jadi konsumen cerdas selain melirik harganya, juga bisa melirik suatu branda apabila ada kekurangan entah itu stok ataupun keluhan.

    ReplyDelete
  4. Beruntung banget sih ini produsennya kooperatif banget. Dulu sempat gontok2an krn pihak toko malah ngga mau ganti rugi. Sempat ngomel2 ke penjaganya. Tapi kan penjaga ngga tahu jg. AKhirnya setelah 3 bulan, duitku kembali. Itu setelah aku koar2 di blog. Persis yg kayak emak ini lakukan sih. Tapi yg ini enak dpt ganti rugi. Kalo aku ya beneran rugi krn capek ngurusnya dan hrs telpon sana sini buat konfirmasi. Buat pembelajaran semua aja sih ya.

    ReplyDelete
  5. Pernah, dulu sekali. Lebih ke kelalaian saya juga sih sebenernya. Misalnya kemasan yang rusak atau barang yang sudah kedaluarsa. Akhirnya setelah kejadian itu saya lebih teliti setiap membeli. Ternyata cek tanggal kedaluarsa lebih penting dari pada cek harga barang. :D Senang membaca tulisan ini. Terima kasih telah berbagi pengalaman. Jadi pelajaran baru.

    ReplyDelete
  6. Makanya aq sekarang lebih teliti, belanja lebih lama dikit buat ngecek produk masih bagus apa nggak, ngecek tanggal kadaluarsa dll.

    ReplyDelete
  7. Pernah... Komplain soal diskon ke gramedia via email... Orang gramedianya langsung datang ke rumah, ngasih selisih uangnya plus goodiebag, heuheu...

    ReplyDelete
  8. memang harus cerdas ya mbak klo jadi konsumen ya mbak
    harus teliti klo mau belanja

    ReplyDelete
  9. Memang sebagai konsumen kita harus jeli ya, Mbak. Soalnya apa yang masuk ke dalam tubuh kita kan, harus prima dan nomor satu. Dan saya pun begitu. ngecek kedaluarsanya dulu. Dan yang Mbak Icha lakukan keren memang. Selain melaporkan produk, juga dapat penjelasan, kalau produk itu bukan retur dari Malaysia, tetap produk yang seharusnya dieksplor ke Malaysia, tapi karena pandemi, akhirnya dijual di sini.

    ReplyDelete
  10. Kalau soal jadi konsumen cerdas, aku banyak belajar dari suami. Karena doi terbiasa dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan layanan.

    Mulai dari pembelian, cek ricek struk dan lainnya.

    Memang penting sih jadi konsumen cerdas agar kita tahu barang apa yang kita beli .

    ReplyDelete
  11. Kumpulkan buktinya lalu sampaikan secara baik-baik ya, kepada kedua belah pihak agar menemukan solusi yang win win solution. Jadi reminder juga sih agar kita selalu menjadi konsumen cerdas

    ReplyDelete
  12. Ternyata memang mesti cerdas ya mak. Harus kepala dingin supaya tiada siapapun yang tersakiti. Trims sharingnya Mak...

    ReplyDelete
  13. Pilihan kopi kita berbeda. Hehe.... Tapi merek apa pun selalu ada kemungkinan cacat produksi ya. Aku pernah beli varian cappucino sebuah merek, tapi bungkus latte-nya kosong.

    ReplyDelete
  14. Wah setuju banget sama tulisan ini
    Kita harus lebih teliti sebagai konsumen agar mendapatkan produk yang baik sesuai harapan
    Dan ya, kalau kebetulan menemukan produk yang tidak layak konsumsi/kadaluarsa/cacat memang sebaiknya tidak perlu koar-koar sampai viral di medsos. Lebih baik dikomunikasikan langsung dengan produsennya

    Btw keren ya cara kopi luwak menanggapi complain pelanggannya

    ReplyDelete
  15. kalau saya pribadi selalu mengecek semua label yang ada dimakanan, apalagi sesuatu yang baru dan belum pernah dikonsumsi, termasuk expire date atau best before. beneran dicek berulang sih

    ReplyDelete
  16. Udah lama nggak minum Luwak White Koffe.. soalnya setelah kenal kopi hitam.. kopi lain terasa kurang nendang hehe.

    Btw, respon dari Luwak bagus banget ya. Dan cara mbak menyampaikan pengalaman juga oks banget. Jadi pembelajaran buatku.

    ReplyDelete
  17. baca tulisan ini jadi ingat kejadian yang sama. beberapa waktu lalu beli buku dan di beberapa bagian kosong, tidak ada tulisan sama sekali. saat itu saya coba hubungi pihak penerbit. Alhamdulillah, responnya bagus dan mereka janji mengirimkan buku yangs ama tanpa perlu saya kirim kembali buku yang rusak. setelah sampai, ternyata dik asi bonus 1 buku lagi.

    Sejak itu kalau dapat produk rusak tidak langusng asal sebar, tapi konfirmasi dulu. :)

    ReplyDelete
  18. Saya juga pernah kejadian dua kali beli susu cair kemasan 800 ml yang menggembung,dan pas dibuka beneran ternyata udah masam, padahak tanggal kedaluwarsanya masih lama. Sayangnya saya malas ngurus retur atau protes lagi ke swalayan karena jarak dan gak mau repot. Kekeke. Padahal kan itu sejenis edukasi juga kan harusnya, buat konsumen dan perusahaan. Dududu, beginilah emak-emak. Kadang merasa rugi dikit diabaikan saja karena lebih mending begitu ketimbang waktu yang bisa dihabiskan buat yg lain dipakai buat ngurusin hal yang harusnya udah beres kita kerjakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sama.. males ngurusnya hiks.. jadinya berakhir dengan "yah sudahlah"...

      Delete
  19. Jd pelajaran nih. Saya kadang gak aware sama expired. Pernah beli coklat, blm expired tp kek dah tengik. Trus bau kcoa. Akhirnya saya buang, harusnya ngadu ya kan hehe

    ReplyDelete
  20. awak dulu komplen soal pelayanan petugas indomaret yang kurang sopan.
    mengadu ke call centre gak diangkat angkat.
    komplen pake email gak dibales.
    jadi sekarang awak ifil aja gitu sama indomaret.

    kalo komplen produk ke call centre produk tsb belom pernah sih cha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah ke callcenter indoxxxt coz harga beda antara lebel and kasir, tp yg dibela harga kasir hehe

      Delete
  21. aku juga pernah tuh beli buat refill pengharum ruangan, eh pas dirumah ternyata ujung spraynya ga ada, aku auto balik ke supermarket dengan struk dan malahan ak minta ganti varian dikasih hihihi

    ReplyDelete
  22. Saya jadi baca baca komentarnya juga. Banyak ya keluhan dan solusinya dari pengalaman teman teman juga. Saya sendiri sampai sekarang belum ngalami. Tapi kalau minum luwak white kopi keluarga saya suka itu hehehe

    ReplyDelete
  23. Saya pernah nih dapat susu kemasan bubuk yg menggumpal walaupun masa kadaluarsa masih lama saat itu jmn belum ada medsos tapi sy hub layanan konsumen dan langsung dapat penggantian juga..

    ReplyDelete
  24. Kayaknya udah lama ngga minum luwak white coffee. Padahal dulu kalo ibuku bikin aku ikutan bikinn sihh 😂😂.
    Btw setuju banget sama poin2 yg disampaikan mba. Terutama soal tabayyun yaaa.

    ReplyDelete
  25. Wah mantul ni tips cerdasnya ya Mak,, saya kl abis transaksi di kasir minimarket selalu menyempatkan membaca struk, benar gak jumlah item dan totalannya

    ReplyDelete
  26. Pelajaran yang kuambil dari sini adalah tidak gegabah. Nggak langsung bikin press con (ealah emang artis, wkwk) tentang produk yang nggak oke, tapi mengirimkan info ke pihak terkait. Jadinya perusahaan malah senang karena dapat info penting. Konsumen pun jadi dapat apresiasi.

    ReplyDelete
  27. Untungnya jadi konsumen cerdas. Dapat barang return, dan perusahaan pun juga dapet input positif

    ReplyDelete
  28. memang ya, urusan ginian sering bikin kita emosi. tapi baiknya memang harus diatasi denga kepala dingin. Thank mbak ulasannya, lumayan menambah wawasan baru buat saya

    ReplyDelete
  29. Belum pernah ngalamin produk gagal kayak gini sih, tapi jadi nambah wawasan biar jadi konsumen cerdas dan simpan bukti yg ada, pernah nemu produk kadaluarsa di minimarket tapi dicuekin aja sama mba2 kasirnya

    ReplyDelete
  30. krimernya udah asam ya is iss... trus setelah diperiksa ada kemasan dan menggelembung pula ya, ckck... export to Malay udah entah kapan2 tuh ya... padahal Januari 2022 expired date nya ya, mesti jadi konsumen cerdas ah kayak Icha.

    ReplyDelete
  31. Hihihi kopi sebagai sarana berkomunikasi, unik juga ya Mak. Salut sama Emak yang masih bisa ngurus blog di tengah pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, bela-belain ngeblog tengah malam. Artikelnya inspiratif, mengingatkan diri saya untuk tetap berkepala dingin ketika mendapatkan hal yang tidak sesuai saat menjadi konsumen. Jadi tetap berusaha menyampaikan keluhan dengan bahasa yang santun.

    ReplyDelete
  32. Bener banget mbak, kita harus jd konsumen yg cerdas. Btw keren banget sm emak, selain super sibuk masih teliti dengan hal2 kecil. Sejauh ini saya n semoga tidak mengalami hal sprti itu. Mudah2n semua produk yg masuk ke supermarket atau minimarket bisa lebih hati2.

    ReplyDelete
  33. Konsumen cerdas mank wajib, ya white coffe kemasan untuk ekspor berbeda dengan lokal. Aku pernah ke Malaysia produk kemasan Indonesia di Malaysia berbeda dengan lokal, mungkin dikarenakan segi harga berbeda

    ReplyDelete
  34. Mantap masukannya Mak. Memang dari pada koar-koar gak jelas, mending melakukan tabayyun. Biar kalau ada kesalahan bisa diperbaiki secara baik-baik dan tidak ada yang merasa dipermalukan.

    ReplyDelete
  35. Alhamdulillah ditanganinya enggak lama dan enggak bertele-tele ya, kak. Kalau aku sayangnya masih kurang telaten kalo harus lapor. Soalnya sering banget kelupaan naro struk belanja. Jadi susah pas ditanyain bukti belanjanya.

    ReplyDelete
  36. Mbak langsung gercep ya menginformasikan ke pihak distributor dan juga Indomaret. Untungnya nggak jadi sakit karena produk yang gagal produksi. Well noted mbak jika semisal mengalami hal yang sama.
    Untuk jaga-jaga memang sebaiknya struk disimpan dulu ya sampai produk yang beli dipastikan "aman". Terkadang saya gak minta struknya sih.

    ReplyDelete
  37. Aku udah paling malas kalau simpan struk nih mbak. padahal itu hal yang perlu banget loh. hehehe. Next time inget ah untuk simpan struk pembelian

    ReplyDelete
  38. Saya jg kl belanja pasti tak simpan dulu struknya, thanks banget nih mbak infonya

    ReplyDelete
  39. Thanks infonya kak, jadi tahu harus bagaimana kalau ada satu kejadian ini menimpa kita. Sebagai konsumen cerdas memang harus begini ya kak

    ReplyDelete
  40. Untung mba nya masi bisa berpikir jernih ya dengan tidak up di medsos yaaa.. biasanya klo udah ada yang salah ama produk langsung up di medsos

    ReplyDelete

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️

Total Pageviews