Evaluasi Target Ramadhan
Ramadhan sudah berjalan sepekanan, gimana dengan target Ramadhan mu, Mak? Apakah berjalan dengan lancar atau banyak hambatan.
Jujurly, hari pertama Romadhan rasanya badan Emak remuk redam. Semua yang menjadi target Ramadhan dikejar habis-habisan beserta dengan kegiatan harian. Sayangnya kegiatan harian Emak bertambah banyak. Mulai dari masak buat jualan takjil sampai mengantar mama belanja.
Rasanya 24 jam benar-benar gak cukup untuk melakukan berbagai aktivitas yang orientasinya dunia dan orientasi akhirat. The real "dunia dan akhirat gak bisa dikejar bersamaan".
Di hari kedua Ramadhan, Emak dapat jadwal menstruasi bulanan. Ini jadi titik balik agar Emak berfikir dan mengulang kembali apa saja target yang ingin dicapai dalam Bulan Ramadhan.
Akhirnya ada beberapa kegiatan harian yang harus Emak koreksi. Bukan target ibadah Ramadhan yang dikurangi tapi rutinitas harian yang bisa ditinggalkan maupun dikurangi.
Tips Evaluasi Target Ramadhan
1. Muhasabah Sebelum Tidur
Sebelum tidur adalah saat yang paling tepat untuk me-rewind aktivitas apa saja yang telah kita lakukan. Apakah aktivitas yang dilakukan sesuai dan sejalan dengan target kita ataukah aktivitas kita membuat target semakin jauh.
Sebelum tidur juga adalah waktu yang paling pas untuk memikirkan langkah apa yang tepqt untuk dilakukan keesokan harinya agar esok lebih baik dari hari ini.
2. Koreksi Target
Apakah target kita sudah sesuai dengan beban aktivitas yang kita lakukan setiap harinya. Bila ternyata ada target yang malah membuat kesehatan kita terganggu sebaiknya dikoreksi kembali aktivitas kita agar kesehatan tidak semakin memburuk.
3. Kualitas Lebih diutamakan
Jangan sementang mengejar target langsung ngebut kejar kuantitas tapi lupa kualitas. Misalnya mmebaca Al Quran atau shalat sunnah. Rakaatnya atau bacaannya banyak tapi lupa memperbaiki kualitas bacaan atau kualitas dalam kekhusukan beribadah.
4. Hindari Distorsi
Jauhkan diri kita dari hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari target ibadah Ramadhan. Misanya gadget. Hindari scroll media sosial tanpa juntrungan yang gak jelas. Boleh sih buka youtube untuk mengikuti kajian. Tapi hindari melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena memang waktu cepat banget berlalu. Sementara target ibadah kita belum kelihatan hasilnya.
5. Evaluasi lagi, perbaiki lagi
Setelah melakukan step satu sampai empat, maka jangan lupa untuk evaluasi lagi di watu tertentu. Bila masih ada kekurangan dalam pelaksanaan maka perbaiki lagi semampunya. Tidak ada memang yang benar-benar sempurna. Tapi ibadah memang harus dipaksakan karena tidak ada jaminan apakah kita aka bertemu lagi di Ramadhan nendatang. Makanya manfaatkan Ramadhan ini sebaik yang kita mampu.
Jadi Mak, bagaimana sudah target ibadah Ramadhan mu? Lancar sesuai rencana atau melesat menjauhi target? Kuy ngobrol di kolom komentar ya.

Tahun ini Ramadan versi kami berbeda dengan tahun sebelumnya. Sekarang anak pulang dari pondok mulai Syaban kemarin sampai nanti sepuluh Syawal ia balik lagi ke Solok Sumatera Barat
BalasHapusJadinya, fokus kami memprioritaskan anak ini. Haha... Balas dendam selama 10 bulan kemarin kehilangan, kini pulang sekolah ada waktu buat memanjakan (dalam arti tetap disiplin)
Sama, pas mulai ramadan saya juga pas datang bulan. Jadinya rencana semua berantakan deh
Jadi ya menjalankan semua apa adanya aja. Ada target sih, khususnya melanjutkan bacaan Al-Quran almarhumah ibu yang belum sempat khataman. Sejak matanya operasi beliau baca baru sampai juz 22 dalam waktu dua mingguan
Insyaallah saya lanjutkan dulu itu. Ini baru juz 29 menuju khatam. Insyaallah
Semoga pahala sampai kepada almarhumah ibu
Benar banget mbak, evaluasi target Ramadan seperti ini penting banget supaya ibadah kita makin tertata dan nggak cuma sekadar rutinitas. Cara refleksinya sederhana tapi bikin saya ikut mikir ulang tentang apa yang sudah dicapai dan apa yang bisa diperbaiki. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya soal target kuantitas, tapi juga kualitas dalam menjalankan ibadah.
BalasHapusBagian “dunia dan akhirat gak bisa dikejar bersamaan” itu jleb, karena memang seringnya kita ingin semua target tercapai sekaligus, tapi lupa tubuh juga punya batas. Justru momen haid yang diceritakan jadi titik refleksi yang kuat—bahwa evaluasi itu penting, bukan untuk menyerah, tapi untuk menyusun ulang strategi.
BalasHapusSaya suka poin “kualitas lebih diutamakan”. Ini pengingat penting supaya kita nggak sekadar checklist ibadah, tapi benar-benar menghadirkan hati. Juga soal distorsi gadget, duh ini musuh bersama banget ya, Mak 😄
Dunia dan akhirat ga bisa dikejar bersamaan...huhu benar adanya.
BalasHapusSemangat Ka Icha, terus mengevaluasi lalu memperbaiki diri kita
Semoga bisa tercapai target Ramadan kali ini ya, paling tidak bisa lebih baik dari Ramadan tahun lalu.
Banyak yang mungkin punya target ibadah tinggi di awal, tapi ternyata aktivitas harian juga ikut menumpuk. Jadi pas ada yang bilang rasanya 24 jam nggak cukup, itu relatable sekali mbak. Aku pun begitu. Hehehe
BalasHapusHindari distorsi ini penting banget ya, apalagi di pekan terakhir masuk malam2 ganjil yg di antaranya terdapat malam lailatul qadr. Namun apa daya, kerjaan gak ada pause-nya, masuk pekan cuti bersama baru agak lega, hiks. Bismillah kembali fokus ke ibadah Ramadhan.
BalasHapus