Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Irfania Lubis, Mengangkat Derajat Penenun Songket Melayu

 

Irfania Lubis, Mengangkat Derajat Penenun Songket Melayu

Kalo ke Medan, siapa yang masih suka teriak Horas Medan? Jangan sampai gak tau bahwa Medan dikenal sebagai Tanah Deli yakni Budaya Melayu. Salamnya? Ahooi...

Salamnya udah kenal, sekarang sudah tau belum baju khas Melayu selalu memakai kain jenis khusus yang cantik molek desainnya? Namanya Kain Songket. 

Harganya beragam tergantung motif dan jenis benang yang dipakai pada proses tenun songket. Tapi jangan cepat bilang mahal karena umumnya kain songket bisa diwariskan karena dibuat dengan tangan dan juga berumur panjang.

Selain itu, songket ini salah satu kekayaan budaya. Gak mungkin harganya murah. Bukankah kita mestinya mengangkat tinggi derajat budaya kita.

Irfania Lubis, Anak Muda Peduli Budaya

Awalnya Emak kaget saat pertama bertemu Fani, nama sapa Irfania. Apa pasal? Tentu saja bayangan Emak, Fani pasti wanita paruh baya yang memiliki usaha Songket Melayu.

Ternyata Fani masih tergolong anak Muda karena umurnya belum tiga puluh. Loh saya semakin penasaran, bukan kah anak muda lebih suka bisnis cafe atau makanan kekinian ya? Kalo pun fashion, tentu yang up to date dengan kehidupan anak muda.

Saat Emak datang pun, Fani mengenakan baju desainnya sendiri yang merupakan songket modern agar disukai generasi milenial. Sehingga songket, kata Fani bukan hanya dipakai di acara adat saja. Tapi bisa casual juga.

Satu Indonesia Award
Beberapa Penghargaan yang Fani Terima


Dijebak Ibunda

Dijebak mama! Itulah jujurnya Fani saat Emak tanya kenapa bisa tertarik dalam mempertahankan Songket Melayu. Eh dijebak gimana ini?

Jadi dulu itu, Ibunda Fani adalah pemilik usaha Songket Melayu. Ketiga saudara sekandungnya lelaki. Jadi Ibunda merasa Fani lah yang bisa 'dijebak' untuk melanjutkan usaha Songket Melayu.

Beberapa jenis Songket
Beberapa Jenis Songket Melayu

Songket Melayu
Indahnya Songket Melayu


Latar Pendidikan Animasi

Kuliah di ibukota alias jauh dari Medan dan juga berlatar pendidikan animasi awalnya berat untuk Fani menerima titah Ibunda. Meski awalnya "sekedar disuruh bantu", ternyata disitulah jebakannya.

Awalnya juga sedih lah, sukanya animasi, cinta sama karya animasi sekarang kok malah main songket. Aku Fani. Tapi setelah dijalani ilmu animasi di awal semester kuliah masih bisa diterapkannya dalam menjalankan bisnis Songket Melayu.

Latar Keluarga Melayu

Selain masih muda, ada lagi kejanggalan saat ketemu dengan Irfania Lubis. Tau kan marga Lubis? Ini salah satu marga Suku Batak. Apa hubungan orang Batak melestarikan budaya Melayu? Kok tidak menenun Ulos? Pikir Emak.

Ternyata Ibunda Fani lah yang suku Melayu. Bahkan masih berkerabat dengan Sultan Melayu Deli. Baru lah bibir Emak membentuk huruf O.

Peduli Penenun

Mencari penenun Songket atau " "memproduksi" penenun juga gak mudah. Tau kenapa? Ya karena pekerjaan menenun itu identik dengan orangtua. Tapi gak menyurutkan semangat Fani untuk mengajarkan siapapun untuk menenun dengan menghadirkan pelatihan.

Selain itu penenun biasanya dibayar murah. Ini yang menjadi titik balik Fani untuk mnghargai jasa penenun. Bukankah mereka adalah orang yang berada di balik layar dalam melestarikan produk budaya?

Tantangannya, komitmen! Ungkap Fani. Banyak yang ikut pelatihan yang sering ia selenggarakan banyak pula yang tidak lanjut untuk menggeluti tenun Songket Melayu.

Yang membuat Emak takjub adalah para generasi Z ada loh yang menjadi salah satu penenun di tempat Fani. Bukankah zaman now generasi Z terkenal bosenan dalam bekerja? Ternyata tergantung personalnya, kata Fani.

Satu Indonesia Award

Atas keuletan Fani menjaga budaya tetap lestari, di tahun 2017 Irfania Lubis pernah menerima Anugerah Satu Indonesia Award. Teman-teman tau itu apa?

SATU Indonesia Awards adalah program pemberian apresiasi untuk generasi muda Indonesia yang berprestasi dan mempunyai kontribusi positif untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Apresiasi Astra yang diberikan kepada anak bangsa yang senantiasa memberi manfaat bagi masyarakat dalam lima bidang, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi, serta satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.

Saat itu Fani masuk kategori di bidang Kewirausahaan. Tapi tak berhenti sampai di situ Mak. Di tahun 2019 Fani mendapatkan lagi amanah mengembangkan Desa Sejahtera Astra.

Desa Sejahtera Astra

Desa Sejahtera Astra yang dikelola Fani berada di Desa Bandar Khalifah, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Awalnya Fani bekerja sama dengan Desa Setempat dalam mengadakan banyak sekali pelatihan untuk masyarakat dalam membuat Songket Melayu.

Atas usahanya tentu saja hal ini dapat meningkatkan ekonomi untuk masyarakat yang bekerja pada Fani sebagai penenun. Fani menghargai hasil kerja mereka dengan upah yang baik. Bukan seperti yang pernah ia saksikan bagaimana penenun Songket Melayu diupah.

Feedbacknya buat Fani? Pekerja yang sangat loyal. Tak peduli pasang surut dunia Songket, namun mereka tetap bersama Fani. Fani menganggap mereka sebagai klien bukan sekedar pekerja sehingga layak mendapat bayaran yang baik.

Sempat Emak bertanya pada salah satu penenun, gimana sih pribadi Fani? Ia menjawab betah bekerja karena personalnya yang sangat baik pada siapa saja.

Penenun Songket Melayu
Penenun Songket Melayu


Selain penenun yang loyal, Fani mengaku ia mendapat balasan yang tak disangka-sangka dalam mempertahankan produk budaya. Fani pernah mendapat beasiswa 3 bulan di luar negeri hingga mengikuti event Internasional untuk mengenalkan Songket Melayu. Luar biasa Fani.

Semoga Fani tetap teguh dengan visi yang ia sampaikan. Yakni merevitalilasi Budaya Melayu Deli serta Melestarikan dan memberdayakan penenun. 






blogger parenting
blogger parenting Emak anak 5. belajar terus jadi istri dan emak yang baik..

17 komentar untuk "Irfania Lubis, Mengangkat Derajat Penenun Songket Melayu"

  1. Meski awalnya karena dijebak mama, tapi sekarang sudah bisa menginspirasi kita semua ya.
    Saya ada koleksi satu kain songket dan saya jaga. Paling saya ambil kalau mau foto, hehehe.... awalnya karena harganya lumayan, hihi. Tapi sekarang, merasa bertambah tanggung jawab, bahwasanya saya juga memiliki peran untuk melestarikan budaya bangsa.

    Ga apa meski saya Sunda tulen, kan?

    Jangan kalah sama Fani. Meski tentu saja yg saya lakukan hanya seujung kuku dari apa yang sudah Fani lakukan untuk melestarikan kain warisan leluhur kita

    BalasHapus
  2. salut dengan mba Fani meski terjebak tapi tetap menekuni apalagi ini bisnis keluarga smapai mendapat apresiasi berupa award masya Allah. Dan saya sendiri suka sekali dengan tenun yang dibuat asli dari buatan tangan begini seperti songket.

    BalasHapus
  3. Songket melayu emang bagus banget, sayang rasanya jika tidak ada yang mempertahankannya. Bersyukur masih ada anak muda seperti Irfania Lubis ini ya kak.

    BalasHapus
  4. Mba Fani mengingatkan saya sama kak Mumu.
    Seorang Hasibuan tapi melestarikan kuliner melayu hehehe
    Btw, saya juga mau la belajar menenun songket.
    Mau ikut kalo ada pelatihan lagi.
    Info info please

    BalasHapus
  5. Jadi dapat 2 sekaligus ya?
    apresiasi untuk nama pribadi dan juga desa sejahtera karena Fani sebagai penggeraknya. Wuah ini menginspirasi siapa saja pastinya untuk bisa diikuti jejaknya

    BalasHapus
  6. Keren ya Fani ini sebagai generasi muda yg peduli dan mengangkat budaya lokal. Sy selalu suka kain² berbagai daerah, termasuk songket yg terlihat mewah dan unik

    BalasHapus
  7. Sangat menginspirasi apa yang dilakukan oleh Fani, semoga terus dapat dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah nih

    BalasHapus
  8. Kadang malu sebagai putri Melayu asli dari Buya dan umi tp gada keahlian apapun.. dengan skrg dapat suami yg juga Melayu bertekad tidak akan menghilangkan panggilan seperti Yong dan lain lain.
    Btw keren banget Fani di usia muda keren banget begini, semoga kebudayaan kita tidak akan pernah luntur khususnya Melayu iniii

    BalasHapus
  9. Terindah banget ya.. kain songket ini.
    Selain memang proses pembuatannya yang gak mudah, butuh waktu yang panjang, pas uda jadi, mashaAllaa, indah nian.

    Semoga kain songket semakin dikenal dunia sebagai salah satu fashion item terbaik warisan budaya bangsa.

    BalasHapus
  10. Kagum.banget sma anak2 muda yang melestarikan kain daerah supaya dikenal dunia karena songket memang indah banget yang merupakan warisan budaya bangsa

    BalasHapus
  11. inspiratif story banget.. kain songket kita tuh bagus bagussss jadi kudu dipromosikan ke dunia international.. jangan sampe kena klaim negara lain

    BalasHapus
  12. Salut deh dengan banyak nya persaingan di era modern budaya pun tak boleh pudar ya kak dan wajib banget di lestarikan sampai ke generasi selanjutnya nya lagi

    BalasHapus
  13. Kebetulan suamiku orang Sumatera nih jadi koleksi songket aku banyak, katanya sih kain songket itu dibuatnya susah ya makanya aku support bgt akan aksi sosial dari Fani

    BalasHapus
  14. Mbak Fani bisa jadi tokoh inspiratif anak muda nih sangat pantas dapat penghargaan dari media dan Pemerintah karna udah melestarikan budaya bangsa

    BalasHapus
  15. Keren banget nih sepak terjang mba Fani, walaupun dijebak ortu untuk mewarisi toh usahanya tetap dilanjutkan karena pasti ada unsur seni yang telah diwariskan ke Fani dan ia semakin menyukainya. Cari bibit untuk meneruskan ini sih yang susah kalau gak cinta sama budaya dan seni :)

    BalasHapus
  16. Ini terlalu keren menurut saya karena Irfania selain menerima penghargaan SATU Indonesia Awards secara individu, dia juga mengelola desa sejahtera dan juga meraih penghargaan

    BalasHapus
  17. Setiap penerima satu award memiliki kemampuan yg luar biasa mbak. Selain menjaga budaya juga memberikan kontribusi agar desa menjadi sejahtera.

    BalasHapus

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️