Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Zinia Part 3 (End)

Zinia Part 3


Aku tak tau apa yang dilakukan Zain dengan perempuan tersebut dan entah siapa perempuan itu. Memang tak lama mereka berada di rumah ini, hanya sekitar 15 menit. Tapi apa ya yang mereka lakukan. Duh Zinia kamu kok lama sekali kembali nak..

Tak lama setelah Zain dan perempuan itu meninggalkan rumah, terdengar suara Zinia mengucapkan salam. Sepertinya Zinia kembali sekaligus menjemput anaknya. Rumah terdengar riuh kembali dengan suara kedua cucuku. 

Zinia menjumpaiku kemudian. Meski senyum yang tetap terurai di bibirnya, tapi aura lelah terasa di wajahnya. Ya.. Zinia pasti lelah. Dengan semua pekerjaan rumah ditambah mengurusku pula, sekarang ia harus mencari uang agar kami tetap makan. Sementara suaminya Zain tak terlihat pernah membantu pekerjaan rumah. Yang aku dengar hanya keluhan. 

"Kamu ngapain aja? Rumah masih terus berserakan!"

"Kamu cuma masak ini aja? Gak ada yang lain?" Dan segala macam keluhan atas kerja Zinia di rumah. Apakah Zain sanggup dititipkan anak hanya dalam satu jam saja? Ah kenapa juga baru sekarang aku tau semua perilaku Zain pada Zinia. Andai dari dulu aku tau, pasti aku akan sering mendatangi Zinia dan membantunya di rumah. 

"Ibu.. sedikit lagi makannya nih.. yuk habiskan" ucap Zinia karena aku menggeleng untuk lanjut makan.  Zinia masih saja terus merayu agar aku menghabiskan makan.

"Gak enak kah Bu?" Tanyanya. Aku menggeleng. Entah kenapa perutku memang terasa kenyang. Entah juga karena terus memikirkan Zinia. Andai aku bisa bicara, aku pasti sudah mengatakan pada Zinia apa yang telah terjadi saat ia tak di rumah. Aku pun akan meminta Zinia untuk tinggal bersamaku saja daripada terus didzolimi suaminya.

"Bener Bu, gak mau lagi?" Tanya Zinia membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng.

Sepanjang hari ini aku merasa tak enak badan. Mungkin saja karena terlalu banyak memikirkan keadaan Zinia. Bagaimana aku bisa tenang bila melihat Zinia hidup seperti ini? 

"Kuberi waktu satu bulan ya! Bila ibumu masih belum juga ikut dengan Abangmu, aku akan talak kau!" Suara Zain memecah malam.

"Mengapa tidak berkata pelan saja mas.. ibu sedang sakit. Jangan lagi menambah beban pikirannya.." Zinia berkata hampir tak terdengar.

"Apa kau tak pikirkan beban pikiranku bila ibumu ada di sini?" Balas Zain.

"Mas.. ibuku hanya punya diriku di sini. Tolong mas beri waktu padaku. Aku takut akan kehilangan ibu.."

"Oh jadi kamu gak ada masalah kan kalo kehilangan aku!"

Ya ampun Zain kok gitu sih? Mana mungkin Zinia memilih antara aku ibunya dengan dirinya. Istri mana yang bisa memilih antara ibunya dengan suaminya? Itu sesuatu hal yang gak mungkin bisa dipilih. 

"Sekarang kita tinggal tunggu waktu saja. Kau pilih ibumu atau aku!" Ucap Zain kemudian.

Aku hanya mendengar sayup-sayup isak Zinia di tengah malam. Ah kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang menjadi pemberat dalam pernikahan anakku. Aku tau bagaimana rasanya disalahkan atas sesuatu yang bukanlah sebuah kesalahan. Zinia..maafkan ibu ya nak..

Hari demi hari rasanya badanku semakin lemah. Aku semakin letih dan tidak ada rasa selera makan. Kalau sudah begini, praktis Zinia semakin susah. Tapi sungguh aku tidak ingin keadaan ini berlangsung lama. Aku ingin segera sembuh. Apalagi kuhitung hari, batas waktu yang diberikan Zain tinggal sepuluh hari lagi. Pikiranku semakin kalut. Di satu sisi aku ingin sembuh, di sisi lain aku sedih dengan semua yang terjadi pada putriku.

"Bu.. ibu.. Bu.. sadar Bu.." suara Zinia sayup-sayup terdengar. Ia menggoncang tubuhku kemudian membawaku ke rumah sakit. Lama kelamaan kesadaranku semakin rendah kemudian semua berubah menjadi putih.


Surat Cinta Zinia untuk Ibu..

Ibu, maafkan Zinia yang sudah sebesar ini masih menyusahkan pikiran ibu. Maafkan Zinia karena di akhir sisa hidupmu, engkau harus tahu masalah yang kuhadapi, Bu. 

Ibu, Zinia anak yang kuat. Jangan pernah khawatirkan Zinia akan semua perlakuan yang Zinia terima dari mas Zain. Zinia hanya perlu doa ibu agar selalu memiliki sabar tak berbatas.

Ibu, Zinia tak ingin menjadi perempuan biasa. Yang berbuat baik hanya ketika suami berbuat baik, namun memilih untuk menggugat suami karena didzolimi. Zinia mau jadi perempuan sempurna. Yang dengan segala perlakuan suami Zinia ikhlas mengharap ridho Allah. Hanya ridho Allah yang Zinia harapkan agar nantinya menjadi penyelamat kita di sana,Bu.

Ibu, Zinia meyakini bahwa suami adalah rezeki. Jadi, apapun bentuknya suami Zinia adalah rezeki yang harus Zinia syukuri Bu. Bila ia baik, maka Zinia bersyukur atas kebaikan yang Zinia terima. Bila ia memperlakukan Zinia dengan tidak baik, maka Zinia pun harus bersyukur bahwa Zinia diberi kesempatan untuk bersabar.

Ibu, Zinia juga sudah paham sejak awal bahwa menikah bukan sekedar mencari kebahagiaan dari pasangan kita Bu. Tapi mencari keberkahan yang Allah titipkan. Bisa saja Allah menitipkan keberkahan pada buruknya perilaku suami agar Zinia menjadi insan yang sabar. Siapa yang menjamin bila mas Zain adalah lelaki sempurna, Zinia akan tetap bersabar seperti ini, Bu?

Ibu, Zinia juga tidak pernah bercerita pada ibu atas keburukan mas Zain, karena mas Zain adalah pakaian yang menutupi Zinia. Bila Zinia membukanya, tentu Zinia akan malu. Bu,Zinia tidak akan berhenti berdoa agar mas Zain berubah menjadi lebih baik lagi. Agar hatinya dilembutkan Allah untuk bersikap seadil-adilnya padaku, Bu, insyaAllah..

Salam sayang Zinia buat Ibu, semoga Allah selalu menjaga Ibu, Aamiin.  


blogger parenting
blogger parenting Emak anak 5. belajar terus jadi istri dan emak yang baik..

2 comments for "Zinia Part 3 (End)"

  1. Kok antiklimaks giniiii kak
    Ku tak Terima 🤣🤣🤣🤣🤣

    ReplyDelete
  2. Aku ga setuju sama pola pikir Zinia, boleh kan ya..hahaha

    Pengalaman kakakku sendiri. Dia guru, menikah ada anak 3, bertahun-tahun sabar, berusaha kuat menutupi banyak keburukan suaminya. Nyaris tinggal nama juga, karena KDRT fisik dan mental. Keluarga besar hanya bisa mengir-ngira karena mereka tinggal beda pulau dengan ortuku.
    Akhirnya dia merencanakan pelariannya. Karena kalau urus pisahan bakalan kehilangan nyawa.
    Lalu dia jujur ke ortu, ortuku dukung apapun yang dia putuskan.
    Diam-diam selama setahun dia mengurus semua, kepindahan kerja, sekolah anak-anak (2 yang masih sekolah, yg kuliah ga ikut)
    Lalu hari H berbekal tas pergi doang pulang ke Jawa dan ga balik lagi.
    Dia ga bawa apa-apa cuma bawa anak-anak dan pakaian sekedarnya, yang utama nyawanya masih ada, urus cerai dari jawa
    Udah 5 tahun dia kerja dan urus dua anaknya

    ReplyDelete

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️