Bersama Nabi mendidik generasi Part 2



Bersyukur sekali karena selama kajian Seminar Parenting ini berlangsung, baby Ghazi sangat kondusif. Sehingga emaknya sangat nyaman mencatat materi.

Kita lanjut ya isi kajian nya.. 

Disinggung oleh ummu Hany Hafidzahallahu,  ada 10 karakter Pendidik Sukses, yakni:

Ikhlas 

Quran, Surat Ali Imran ayat 35, 

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"


Di ayat ini, dijelaskan bahwa saat Hanna (ibu Maryam, istrinya Ali Imran) sedang hamil, ia bernazar kepada Allah bahwa ia menazarkan anaknya kelak menjadi hamba shaleh yang berkhidmat di Baitul Maqdis.  

Hendaknya kita para ibu, ketika sedang hamil pun berdoa yang baik kepada Allah, bahwa kita nazarkan anak kita kelak menjadi anak sholih yang akan berguna untuk ummat. 

Dijelaskan kembali oleh ummu Hany,  melihat ayat di atas, hendaknya kita mendidik anak agar ikhlas. Harapkan sebenar balasan hanya dari Allah. Sebagaimana Hanna. Jangan mendidik anak agar anak membalas jerih payah kita lalu berharap balasan dari anak berupa anak baik. Biarlah Allah yang membuat anak kita menjadi anak baik, sehingga ketika anak melakukan kesalahan,  kita tidak serta meta kecewa atau marah-marah apalagi memukul. Ketika anak salah, kita langsung tersadar untuk mendidik lagi lebih ikhlas.


Bertaqwa kepada Allah SWT
Apa tujuan kita mendidik anak? 
Tentunya agar anak-anak menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. 
Nah, sebelum mendidik anak agar menjadi orang yang bertaqwa, hendaknya kita para orangtua lebih dulu menjadi orang yang bertaqwa.

Bagaimana anak bisa bertaqwa bila orangtuanya ingkar?  Dari mana anak-anak bisa mendapat contoh yang baik bila kita tidak mencontohkan. Ketika orangtua sudah bertaqwa, lalu menyuruh anak juga bertaqwa sehingga orangtua menjadi Uswatun Hasanah.  Yakni Role Model yang baik bagi anaknya.


Berilmu
Ada ungkapan "Orang yang tidak berilmu tidak dapat memberikan ilmu".
Ketika kita sebagai pendidik anak di rumah, tidak memiliki ilmu untuk disalurkan atau dipakai untuk bekal mendidik anak, maka apa yang akan kita pakai untuk mendidiknya?  

Ummu Hany pun mengingatkan, hendaknya ibu yang pintar, mendidik dan Membesarkan anak sendiri dengan kedua tangannya. Jangan delegasikan dengan pembantu atau orangtua kita. Karena pembantu biasanya tidak akan mengupgrade ilmu parenting sebagaimana orangtua yang antusias untuk terus belajar. 

Bagaimana dengan orangtua kita?
Orangtua kita mendidik anak kita akan sama seperti mendidik kita dahulu kala. Jadi, tidak akan cocok. Anak adalah milik zamannya.  Ilmu parenting pun disesuaikan dengan zaman.  Namun, parenting ala Nabi selalu up to date dengan generasi mana pun. Tapi sayangnya, orangtua kita dahulu belum banyak yang menerapkan ilmu parenting Qurani.


Tanggung Jawab
Berapa banyak anak yang yatim sebelum waktunya? Banyak.
Lihatlah anak di sekeliling kita, atau jangan-jangan anak kita. Yang merasa tidak memiliki ibu karena waktu ibu sangat mahal. Yang merasa kehilangan ayah karena terlalu sibuk bekerja.

Jawaban orangtua mungkin, saya bekerja karena tanggung jawab atas masa depan anak.

Kembali lagi tanya hati kita, berapa banyak anak kita menghabiskan materi? Cari lah nafkah sewajarnya. Bukan karena tuntutan duniawi.  Harta adalah alat yang mempermudah kita beribadah. Bukan dicari sehingga tak memiliki waktu mengurus aset kita yang sesungguhnya,  yakni anak kita.


Sabar & Tabah
Dalam Surat Az Zumar ayat 10,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. 

Dikatakan bahwa pahala sabar adalah tanpa batas. Seringkah kita mendengar " Sabar itu ada batasnya ". Ternyata ini keliru. Sabar tak berbatas.  Makanya pahalanya pun tanpa batas. 

Ketika kita sabar menghadapi anak kita, lemah lembut bahkan ketika mereka membuat emosi, ternyata Allah sangat suka melihat kita. Ibarat kita menitipkan anak kepada oranglain. Apabila orang tersebut sabar terhadap anak kita, bukankah kita menyukainya? Begitulah perumpamaannya




Lemah lembut dan Tidak Kasar
Dikutip dari Asy Syurga ayat 30,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). 

Ayat ini menjelaskan bahwa apa-apa yang kita alami karena dosa atau maksiat yang pernah kita lakukan. Misalnya saat anak kita berlaku kasar kepada kita, jangan kita  berubah menjadi kasar.  Bisa jadi itu adalah cara Allah menegur kita. Husnudzon adalah sebaik-baik sikap kita.



Penyayang

Ibu adalah makhluk penyayang.  Tak salah bila Allah memberikan rahim padanya.  Rahim adalah satu-satunya sifat Allah yang dianugerahkan kepada ibu menjadi bagian dirinya.

Fungsi rahim, seperti yang kita tahu adalah melindungi dan memberi kebutuhan janin. Tak pernah sekalipun janin yang memberi kepada rahim. Maka, implementasikanlah rasa sayang kita kepada anak sebagaimana Allah anugerahkan rahim kepada kita.



Lunak dan Fleksibel 

Ada beberapa contoh yang bisa kita ambil dari sikap Nabi Muhammad SAW saat mendidik anak. Beliau sangat tegas mendidik urusan tauhid,  namun tidak selalu terlihat "bak pemimpin" otoriter. 

Beliau sangat fleksibel terhadap anak-anak.  Tegas dalam urusan shalat, namun tidak marah ketika dinaiki punggungnya ketika shalat di masjid. 


Di satu waktu kita boleh bersikap tegas,  namun di waktu santai jadilah sahabat anak yang menyenangkan.



Tidak Mudah Marah 

Masih ingat kan, hadist berikut?



لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الجَنَّة

“Jangan marah maka bagimu surga.” 


Kita tidak boleh cepat marah, karena ketika marah kita sering kehilangan kendali. 

Maka ketika marah kepada anak, terkadang ibu sering kehilangan kendali untuk tetap bersikap lembut. 
Menahan marah berat? 
Jelas Mak, karena ganjarannya syurga.
Kalo mudah, mungkin cuma dispenser,  hehehe


Akrab dengan Anak namun Berwibawa
Siapa yang paling akrab dengan anak-anak? Tentunya Nabi Muhammad SAW.  

Beliau sangat berwibawa,  namun menjadi teman yang baik bagi hasan husein dan cucu beliau. Dengan menjadi akrab dengan anak, kita dapat memberi nasehat tanpa terdengar menggurui. Sambil membangun bonding dengan anak, namun tak membuat kita kehilangan waktu untuk tetap mendidik. 

Berikut adalah Kurikulum Tarbiyah Islamiyah:


1. Rukun Islam
2. Rukun Iman
3. Akhlak
4. Bahasa Arab
5. Ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat

Demikian isi kajian dari ummu Hany Hafidzahallahu. 
Semoga 

42 Comments

  1. Wah mbak ini ngena banget buat saya sebagai pendidik. Sebagian besar sudah saya lakukan sebagai pendidik. Sekarang mulai mendidik anak sendiri, dan bacaan bacaan seperti tulisan ini sangat sangat berguna. Terima kasih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mas erfano. Saya juga begitu. Masih belajar.

      Delete
  2. Thanks much sharingnya mbaaa
    Rasul memang teladan paling sempurna untuk kita semuaaa

    ReplyDelete
  3. Thanks mom sharingnya. Saya sebagai ibu masih jauh dari kata sempurna dalam menjalankannya. Tetapi mencoba memberikan yang terbaik untuk anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba.. Saya nya juga masih belajar ♡
      Semoga kitab semakin baik setiap harinya ya..

      Delete
  4. Lengkap sekali bahasan di kajian ini...Bermanfaat sekali.
    Terima kasih sudah berbagi Mbak
    Reminder banget nih pada pertanyaan: apa tujuan kita mendidik anak
    Tentunya agar anak-anak menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dan memang sebelum mendidik anak agar menjadi orang yang bertaqwa, hendaknya orangtua lebih dulu menjadi orang yang bertaqwa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba dian.. saya juga menulis buat mengingatkan diri sendiri.

      Delete
  5. Kalau dicari ilmunya, subhanallah di AlQuran ada semua ilmunya ya mbak. Makasih buat sharingnya mbak.. buat tabungan aku pas punya anak kelak

    ReplyDelete
  6. Barakallah fiikum. Terima kasih artikelnya ya mba, mengingatkan saya bagaimana seharusnya orangtua itu. Mengatur emosi itu yang paling menangang deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba Des. Paling berat, tapi selalu harus dilatih

      Delete
  7. MasyaAllah. Lengkap sekali artikelnya. Kena banget di poin tanggung jawab. Karena aku pernah dalam lalai dalam posisi itu. Semoga kita bisa lebih baik lagi menjadi orangtua ya mak.

    ReplyDelete
  8. Kajiannya sanhay bagus dan bermanfaat ya, Mbak. Dan memang selama masa kehamilan, sangat diwajibkan menjaga sikap. Makanya orang tua dulu ada istilah pamali ini dan pamali itu.

    Dan memang hal wajibnya, selalu mendoakan si Jabang Bayi selama masa kehamilan Insya Allah akan membawa kebaikan bagi kelak anak nanti.

    Terima kasih sharingnya, Mbak.

    ReplyDelete
  9. Sabar dan tabah itu belom lulus lulus saya mba icha..
    Hiks..

    Doakan saya..

    ReplyDelete
  10. Waduh,, saya masih banyak yang harus saya benahi ini. Masih suka marah-marah sayanya. Kadang juga suka ga sabar. Semoga Allah memampukan saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Aamiin...

    ReplyDelete
  11. Bagus mbak kajiannya. Kadang saya sebagai ibu juga suka putus asa, apalagi kalau beban kerjaan berat. Cuma bisa sabar2 membagi tanggung jawab emang ya. Apalagi saat memutuskan jd ibu udah gak bisa mundur lagi. Betul banget, gak ada ortu yang sempurna krn ilmu parenting jg berkembang terus dan menuntut kita belajar terus sampai nanti anak2 bisa mandiri (barangkali).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mba April. Karena jadi ibu kita gak ada sekolahnya.
      Semoga kita mau terus belajar

      Delete
  12. Thanks For sharing, moga bisa kita aplikasikan ya mak. Soalnya emang udah keren banget dah cara nabi mendidik anak-anak mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak dyah..
      tulisan ini juga jadi pengingat supaya terus belajar saya nya

      Delete
  13. Hendaknya kita para ibu, ketika sedang hamil pun berdoa yang baik kepada Allah, bahwa kita nazarkan anak kita kelak menjadi anak sholih yang akan berguna untuk ummat.

    setuju banget bagian ini.... banyak doa saat kehamilan

    ReplyDelete
  14. Eh udah ada part 2nya, sharingnya berguna bgt nih buatku sbg ibu dari 3 anak

    ReplyDelete
  15. makasih sharingnya. bisa saya bagikan ke kerabat yg muslim ^_^

    ReplyDelete
  16. Terimakasih mbak atas share materinya. Bermanfaat sekali walaupun buat saya yg baru menikah. Emang nilai islam harus ditanamkan sejak dini pada anak ya.

    ReplyDelete
  17. Tidak mudah marah, susah sekali ini umm, huhuu
    benar-benar harus lapang dada dan kepala dingin jadi orangtua tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes mba Nuniek. Kadang kita suka lupa.. Maklum ajakarena manusia.. hehe

      Delete
  18. Bener banget Mak..kita mau kemana lagi kalau bukan balik ke agama yaa ngurus anak gitu...

    ReplyDelete
  19. Noted bgt setiap sharingnya Mba.. Ada contoh teladan yg udah diberikan , yaitu Rasululloh, semoga kita dapat mengaplikasikannya dlm kehidupan sehari2 aamiin

    ReplyDelete
  20. MasyaAllah, aku menunggu yang selanjut selanjutnya mbak :D agar menjadi seorang bapak yang baik dengan memberikan pendidikan terbaik untuk anak suatu saat nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya mas semoga nanti mengupdate ilmu parenting buat bapaknya ya..

      Delete