Tips Menghindari Marah pada Anak saat Ngantuk dan Lelah
idntimes.com

Punya anak lima, terkadang reaksi orang yang tahu bisa berbeda-beda.  Bukan cuma reaksi orang awam biasa, terkadang orang yang berprofesi "highclass" pun sering memberi feedback berbeda dari yang kita harapkan. 

Bukan cuma saya saja, namun beberapa ibu juga pernah curhat saat dokter kandungan atau yang berprofesi dekat dengan ibu malah mendapat komentar "julid" saat berkonsultasi dengan profesi seperti itu.

Ada yang pernah curhat, saat melahirkan dikatain sama bidan "pas bikinnya diem-diem pas lahiran teriak-teriak".

Atau saat USG ke SpoG,  Dokter perempuan berkata "apa? Anak keempat? jangan hamil lagi ya.. banyak sekali anaknya, gimana ngasih makannya".

Dari dua curhatan itu, terakhir emak mengalami saat bertanya ke Psikolog wanita "bagaimana ya, mengontrol emosi agar tetap positif menghadapi anak saat lelah atau mengantuk". Lalu Psikolog itu memberi jawaban "KB" saat tau anak emak ada 5.

Ia menganggap kebanyakan anak adalah penyebab seorang ibu suka marah-marah di rumah. Padahal di kehidupan nyata, anak yang cuma 1 pun ada yang hobinya marah-marah ke anak. Sebaliknya, yang anaknya 7 saya saksikan sendiri, tidak suka marah-marah sama anak.

Menurut survey kecil-kecil dari hasil curcol sesama ibu di sekitaran rumah atau sekolah anak, biasanya emak-emak lebih sering marah saat lelah dan saat mengantuk.  Apalagi saat posisi sudah "tidur ayam" alias REM. 

Emosi yang positif sudah hilang saat emak bener-bener dalam posisi ngantuk yang sangat. Saat itu pula kesabaran menghadapi tingkah anak menguap entah kemana. Akhirnya ibu membentak,  marah-marah, berteriak dan tak jarang sampai memakai fisik seperti mencubit atau memukul anak.

Emak sendiri memang merasakan, susah nya melawan rasa kantuk dan ingin marah saat malam telah tiba. Namun berangkat dari jawaban tak memecahkan solusi dari Psikolog tersebut,  emak pun berusaha maksimal untuk mencari tips agar menjadi solusi bagi emak lainnya. Bagaimana sih, agar emak tetap beremosi positif saat lelah dan mengantuk? Here we go...

★ Diam saat marah

Saat ingin ngomel di ubun-ubun sudah tak tertahankan lagi, cobalah untuk keep silent. Susah loh. Yes, awalnya berat sekali. Saya sampai mencoba berakting tak terjadi apapun di depan mata saya yang membuat emosi memuncak. 

Setelah menjadi kebiasaan, menahan amarah dengan diam, lama kelamaan semuanya lebih terarah. Emosi negatif bisa menjadi emosi yang positif saat kita berusaha diam tanpa mengeluarkan satu kata pun, minimal ketika kita men-delay ngomel, ada sesuatu hal positif yang bisa ditangkap oleh anak. Emakku bukan pemarah.


★ Tahan untuk Tidak Berteriak dan Memukul

Di tempat umum, saya pernah melihat seorang ibu yang berteriak memarahi anaknya, lantas mencubit dan memukulnya. Saya berkata dalam hati,
"Begitulah tampilan saya bila saya marah-marah" Anak pun saat itu akan terluka.  Memang saya tidak pernah melakukan di depan umum seperti itu, namun apa bedanya ketika saya ternyata berpura-pura menjadi ibu yang sabar di luar, namun menjadi monster di rumah.

Meski setiap malam, setiap tersadar saya memeluk, mencium dan meminta maaf pada anak, namun sakit hati mereka saat saya bentak pasti masih tetap terasa.
Maka,  saya pun pensiun dari berteriak, membentak dan memukul /mencubit anak.

Karena,  di saat kita berteriak, seperti ada dorongan untuk bermain fisik kepada anak, maka saya pun mengontrol diri agar suara yang keluar dari mulut saya tidak lagi berupa teriakan atau bentakan. 

★ Bedakan marah dengan marah-marah

Setiap ibu adalah manusia biasa. Insan,  artinya adalah lupa.  Kita sering melakukan khilaf. Namun perlu diingat, ibu boleh marah.

Bayangkan saja bila kata marah tidak boleh dimiliki ibu. Tentu anak tidak bisa membedakan mana yang baik atau yang benar. Tapi bukan marah-marah. Marah adalah hal yang wajar, namun pengelolaannya harus benar. 

Marah-marah tanpa arah tentu akan berakibat buruk dan membuat aura negatif terus berkembang dalam diri seorang ibu. Marah lah dengan  elegant. Yakni marah tanpa teriakan,  tanpa omelan,  tanpa pukulan.

Saya terinspirasi dari almarhum ibu mertua saya. Anaknya bercerita bahwa ibunya tidak pernah marah-marah, mengomel,  bersuara besar apalagi mencubit anaknya. 

Saya diberi tahu suami, saat anaknya berbuat salah biasanya ia akan memanggil anak tersebut jauh dari saudara yang lain.  Berbicara empat mata saja, menasehati dengan baik tanpa terlihat menghakimi di depan saudara yang lain.  Dan ini efektif sekali untuk merubah sikap anak.

★ Peluk Saat Marah

Saat sedang kesal sekali dengan  anak, yakni di saat lelah dan mengantuk, coba peluk saja anak tersebut. Ingatlah saat kejadian buruk menimpanya.  Misalnya saat ia sakit dan kita merasa sedih.  

Katakan padanya, emak ngantuk sekali, atau emak lelah sekali,  bantulah emak dengan menjadi anak yang baik. InsyaAllah amarah akan hilang seketika. Oh ya mak, memeluk anak juga melepaskan hormon baik yang membuat ibu dan anak menjadi sama-sama nyaman. 

Oh ya,  terapi peluk juga sedang emak jalani untuk anak emak yang super jail. Alhamdulillah,  pelukan, kalimat baik dan harapan baik yang saya transfer ke dia membuahkan hasil bahkan di hari pertama. 

Ini terinspirasi dari ibu almarhum ustadz Jefri. Ketika anaknya adalah anak yang nakal, sang ibu hanya punya dua pilihan.  Marah seperti biasa, atau memeluk anaknya. Ternyata pilihan kedua yang ibu tersebut ambil, dan menjadi wasilah taubatnya alm.Uje. 

★ Doa

Doa ini adalah senjata pamungkas.  Apalagi doa emak ke anaknya. Mudah-mudahan langsung dijawab tanpa ada halangan. 

Ketika marah, marah semarahnya dalam diam saya berdoa kepada Rabb yang Maha Kuasa. Saya berdoa untuk anak yang sedang membuat kesal, mendoakannya menjadi anak baik dan menyenangkan, anak yang patuh pada orangtua dan doa baik lainnya. 

Saya pernah membaca tentang doa seorang ibu Imam Masjidil Haram saat anaknya kecil.  Anaknya ketika membuat ibunya marah, ia menahan amarahnya dan berdoa agar anak tersebut menjadi Imam Besar di Masjidil Haram. Ternyata doa sang ibu diijabah.  Jangan sepelekan doa..


Itulah beberapa tips yang sudah emak jalankan dan Alhamdulillah sudah memberi hasil. Anak-anak tak lagi ingat pada emaknya yang garang seperti Kak Ros nya Upin Ipin. 

Dan anak-anak ketika berbuat salah, cepat mengaku karena emaknya bukanlah pemarah. Semoga image ini selamanya,  emak tetap istiqomah.  

Demikian mak, semoga bermanfaat.

52 Comments

  1. wudhu dan shalat kalau memungkinkan bisa jadi tambahan tipsnya kak. heheheh
    soalnya tiap kali kesal sama suami tips ini selalu jadi andalan awak. awalnya sih diam aja. tapi diam malah bikin makin gondok. si kawan gak paham juga didiemin. biasalah lelaki yakan. sifatnya kalau marahnya kita ada didalam hati mana dia tau kita marah.

    Ah tipsnya bakal awak ingatlah ini. hehehehe

    ReplyDelete
  2. Bisa juga Lance... ♥ kalo ke suami biasanya kakak pake jampi2 "ya latif ya latif" dihembus ke air minum.
    Sekarang suami mah aman InsyaAllah hehehe

    ReplyDelete
  3. Wah, tips yang sangat berguna. Kalau marah atau kesal biasanya saya memilih untuk diam. Memilih untuk berdoa juga lebih tenang ketimbang marah marah atau memukul. Terima kasih tulisannya keren...

    ReplyDelete
  4. Penghuni syurga itu bicaranya lemah lembut.
    Penghuni neraka sukanya ngomong bentak2 menyakitkan hati.
    Itulah yg selalu awak sounding ke anak..

    Ehhh pas next awak ngomel2, abang Lintang suka ngingetin, " Kita ini calon penghuni syurga lho mama.. Ngomong selalu lemah lembut..

    Anak pintarrrr...

    ReplyDelete
  5. Exactly sama persis kak vivi..

    Anak2 memang pinter ihh ♡

    ReplyDelete
  6. Menahan marah itu perlu dilatih juga. Terkadang teori tak seindah realita yang ada. karena jika kondisi kita capek dan stress plus mudah sekali tersulut emosi.

    ReplyDelete
  7. Baru aja nih kemarin ngalamin ngantuk gimana biar gak marah. Terimakasih mak tips lainnya

    ReplyDelete
  8. Saat ikutan kelas self emotional healing kalo kita merasa mau marah,kita lakukan inhale-exhale.
    Tahan diri,jangan berbicara apapun.
    Lalu, coba lakukan self nurture...

    Anyway,TFS ya sist

    ReplyDelete
  9. Ya Allah, saya membaca ini sembari berkaca-kaca.
    Terima kasih, Mak, postingan ini mengingatkan saya untuk yang kesekian kalinya untuk berusaha lagi bersabar menghadapi anak-anak.

    *mendadak ingat dosa hiks

    ReplyDelete
  10. Kayaknya tau deh psikolog tersebut. Merasa gak setuju juga sih dia kasih jawaban spt tu. Soalnya mertua sy anaknya 7 bs tetap kalem, rumahnya rapi dan anak²nya Alhamdulillah "jadi orang" semua. Krn mungkin memiliki dan mendidik anak itu diniatkan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Selesai deh semua. Titik.

    ReplyDelete
  11. Aku banget deh, yang mudah emosi dan marah saat sedang lelah. Sadarnya setelah emosi reda, berguna banget nih setelah baca ini.

    ReplyDelete
  12. Aku masih labil untuk meredam emosi, terutama kondisi saat kita merasa lelah atau ngantuk. Emosi pada saat kita capek/ngantuk terjadi secara refleks/ dibawah kesadaran kita. Cara yg tepat mengendalikan sesuatu reaksi dibawah kesadaran / alam sadar gimana yac mba??

    ReplyDelete
  13. Ya kak dyah, kalo gak dilatih malah bisa jadi kebiasaan. Anak-anak pun takut dekat dengan ibunya..

    ReplyDelete
  14. Self nurture ya sist..

    ok deh, dicatat nih tips barunya.. ♡

    ReplyDelete
  15. Sama-sama kak Mugniar, saya juga masih terus belajar kok..

    ReplyDelete
  16. Iya kak mia, menjadi pemarah àtau bukan tidak karena jumlah anak, tapi individu itu sendiri..

    ReplyDelete
  17. Mba umidah, saya biasanya melakukan self hypnosis ke diri sendiri.
    Biasanya menjelang tidur, saya katakan saya ibu yang lembut, saya tidak suka memukul anak, saya ibu yang baik, dll.

    Mudah-mudahan ada perkembangan mba..

    ReplyDelete
  18. Ahh,,, aku banget ini mbak. Berusaha untuk diam saat marah sampe poin terakhir berdoa yang baik2 untuk anak agar berubah baik. Tapi ada kalanya saat anak kita ngambek dan teriak saat aku capek, setan datang dan aku balas dengan teriakan, trus pergi wudhu. Banyak nano2nya memang jadi mamak2 ni ya kan..

    ReplyDelete
  19. Maa syaa Allah. Bener banget ini Mak. Aku udah terbayang gimana pecahnya emosi pas anak lagi tantrum dan sebagainya. Sebelum nikah ini udah harus latihan ngrem nada bicara sebisa mungkin supaya ga kebiasaan pas nanti kusudah menikah...semoga kubisa sesabar emak-emak disini

    ReplyDelete
  20. Bagus banget ini tipsnya, saya termasuk ibu yang gampang marah, tapi habis itu menyesal... Hiks.

    ReplyDelete
  21. Saat marah, bisa juga diam sejenak, lalu tarik napas, dan hembuskan pelan-pelan, Mbak.
    Tapi saya ga suka dengan omongan tadi, Mbak "Jangan hamil lagi, ya. Nanti maunkasihbmakan apa?" Hehehe.

    Padahal anaknitu juga anugrah. Kalau dikasih dan dititipin Allah, masa mau ditolak. Dan kalau rezeki buat anak, pasti ada saja jalannya. Tetangga saya ada yang anaknya 9 bahkan 11. Semuanya sukses.

    ReplyDelete
  22. Kayaknya hampir semua ibu pernah ngomelin anaknya ya mbak? Kdng kalau di tempat umum liat ibu2 marah2 saya jg suka berkaca: ooo jd gtu kalau lagi marah ke anak, kok keliatan jelek ya, trus janji gk bakal marah hehe, tapi kdng saat lelah gak bis adipungkiri ada aja pemicunya marah2 huhuhu

    Kalau sudah gtu biasanya saya makan yang banyak atau minum minuman manis kyk sus, teh, kopi ygb tersedia di rumah, menjauh dulu haha

    ReplyDelete
  23. Teorinya sih udah tahu. Namun prakteknya Ini yang kadang masih sulit. Meskipun ya Alhamdulillah udah mulai bisa mempraktekkan sedikit demi sedikit. Semoga kita bisa terus konsisten

    ReplyDelete
  24. Bila tidak bisa berkata baik, diamlah. Ini juga resep biar ga melampiaskan kelelahan dan penat pada anak yang notabene nggak salah apaapa.

    ReplyDelete
  25. Bener nie.. Emang sebagai emak2 harus besar lahan sabarnya.. Aku kalau misal mau marah cm istighfar aja.. Ama doa ama allah...

    ReplyDelete
  26. Menahan marah atau manajemen emosi itu gampang-gampang susah ya mbak. Apalagi pastinya seorang ibu yang banyak tuntutan, anaknya banyak, dan pasti pusingnya ya berkali-kali hehehe. Tapi salut sama ibu-ibu yang sabar. Makasih juga buat tulisannya mbak, jadi aku bisa belajar sebelum jadi ibu.

    ReplyDelete
  27. yang jarang dilakukan itu mendoakan, kebanyakan lebih memilih memaki anak...
    padahal kan ada baiknya mendoakan saja agar anak jadi lebih baik

    ReplyDelete
  28. Tips yang sangat bermanfaat. Terkadang kalau habis marah-marah, rasanya memang sangat menyesal sekali kok bisa seperti itu. Menahan kesabaran memang pelu latihan,tapi pasti bisa

    ReplyDelete
  29. Nah saya sering sekali ngalamin pas di posisi tidur-tidur ayam eh dibangunkan anak hiks emang emosi jadi Susan banget dikontrolnya. Kan sudah bunda bilang, jangan diganggu kalau lagi tidurrr 😂

    ReplyDelete
  30. Iya Dev.
    Dikarenakan iman naik turun terkadang bisa kecolongan.

    Kadang karena tilawah kurang banyak mau juga tuh jadi pemarah.

    ReplyDelete
  31. @mas Bambang, iya itu komennya perih sekali.. hihihi apalagi dokter kandungan yang ngomong.

    MasyaAllah, anak lebih dari 10 tapi amanah itu ya mas..

    ReplyDelete
  32. Iya ya mba April, cari Me time sejenak ♥

    ReplyDelete
  33. Hehe, iya mba Qoty , yang berat itu konsisten alias istiqomah. Hehe

    ReplyDelete
  34. Iya bener mas pringadi. Itu juga anjuran Sunnah.

    ReplyDelete
  35. Semoga kita terus konsisten ya mba Rachmanita

    ReplyDelete
  36. Bener itu mba annisa, semoga nantinya mba annisa jadi ibu yang sabar ya ♡

    ReplyDelete
  37. Setuju mas Ilham. saya pernah terkejut saat ada ibu yang memaki anaknya "anak setan"

    Sedih juga melihatnya.

    ReplyDelete
  38. Iya mba windu. Nyesal sekali kalo udah habis marah-marah sama anak.

    ReplyDelete
  39. Bener mba Nanie. Mungkin di posisi baru tidur kita gampang emosi karena kepala berat sekali rasanya. Terkadang pusing.

    ReplyDelete
  40. Mba Sapti Nurul, mudah2an ke depannya kita lebih banyak sabar ya mba.

    ReplyDelete
  41. Terima kasih banyak sudah diingatkan , kadang memang kalau sudah cape kerjaan dll liat anak bertingkah suka bikin kesel. Kalau dulu marah2 ke teriak2 kalau sekarang cukup sekali ngomong dan lebih baik diam soale takut khilaf.

    ReplyDelete
  42. Kebetulan sekali kak, kemaren baru dapat pelatihan tentang "Mindfullness"
    Jadi sebenarnya tidak boleh juga kita marah kepada anak, apalagi membentak sering dan memukulnya. itu akan memberikan memory kepada anak (walau dia belum faham). efeknya, anak bisa mengikutinya (trauma). Akhirnya dia suka menyendiri dan sulit beradaptasi dengan lingkungannya.
    Alangkah baikanya jika menasehatinya, atau memberikan contoh yang seharusnya. Jangan melarang saja. tapi kasi option lain yang bisa dia lakukan.
    Then, jika kelepasan marah. Minta maaf. Ajarkan anak untuk mengakui kesalahan. Agar besar nanti "rasa egonya" tidak tinggi.
    but overall, that's so benefit kk

    ReplyDelete
  43. Iya mba kurnia, kalo marah udah di ubun-ubun seringnya jadi kasar ngomong ke anak..

    ReplyDelete
  44. Iya bener tu syafriana, apapun kesalahannya ketika dipukul pun gak akan merubah habbit. Jadinya anak semakin nakal.

    ReplyDelete
  45. Duh! Kok berasa bercermin nih. Tipsnya bagus mbak , kadang susah diterapkan. Suka khilaf.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya latihan terus ya kak yanti.. semangat kak ♥

      Delete
  46. Tipsnya mantul kk....tpi yang susah itu adalah menerapkannya
    Akan tetapi ketika kita sering memarahi seorang anak...
    Bukannya dia makin baik malahan tambah nakal dan prustasi karena dimarahi teruss..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas. Dia akan merasa selalu salah. Akhirnya jadi anak bandel.

      Delete