Hati-hati memilih properti
economi.okezone.com



Tempat tinggal merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Ia nya bukan hanya melindungi dari panas dan hujan tetapi juga tempat bagi keluarga untuk bersosialisasi,  berkembang dan juga melihat semua perubahan yang dialami oleh penghuninya.

Atas dasar itu, mungkin ibuku sedikit memaksa kami untuk tinggal dan menempati rumahnya. Sebenarnya rencana,  rumah itu akan dihuninya bersama alm. Bapak namun karena kami hobi menjadi kontaktor (alias ngontrak rumah sana sini) ibu jadi mengubah rencananya. 

Karena rumahnya adalah perumahan cluster di sebuah komplek, rumahnya belum dibangun. Ada beberapa rumah yang di bagian depan sudah selesai dan beberapa keluarga sudah tinggal di dalamnya. Sebelum rumahnya jadi, ibu dan bapak mengontrak salah satu rumah di bagian depan.

Setelah setengah jalan, kami lah yang jadinya menghuni rumah tersebut sembari menunggu rumah yang di belakang selesai dibangun. Tidak ada yang aneh saat kami menempati rumah kontrakan tersebut. Tidak ada kejadian apapun yang mengkhawatirkan. Hal yang menjadi sorotan hanya retakan di dinding meskipun rumah tergolong baru. 

Hingga akhirnya kami pindah ke rumah ibu. Retakan yang terlihat di dinding kami complain ke pengembang. Tak lama pekerja datang memperbaiki (tak lama retak kembali).

Beberapa hari kami menempati rumah, hujan deras datang. Aku tak punya firasat apapun. Saat itu siang hari, suami pun masih pergi bekerja. Tiba-tiba lampu dapur mengeluarkan air. Anak-anak menjerit memberi tau, 
"Mama, bocor.. Lampunya ada air.."

Aku berlari ke belakang dan menyuruh anak-anak masuk kamar. Saat mau melintas mengambil kain pel,  plafon satu dapur ambruk beserta air tumpah ruah memenuhi rumah. Hanya bisa membuka pintu rumah agar air segera keluar.

Tetangga datang membantu mengangkat remahan gypsum yang hancur basah terkena air. Baru lah aku tau, salah satu tetangga memberi tahu,  saat rumah masih dibangun,  sudah pernah plafon dapur jatuh juga. Persis sama satu dapur. Aku masih berucap syukur ini bukan kejadian malam hari. Dan kemudian komplain kembali ke pengembang.

Yang aku sesalkan, pengembang tidak memperkirakan debit air yang akan jatuh memenuhi talang air dan tumpah ruah ketika kepenuhan. Pelajaran pertama, jangan hanya desain rumah saja yang terlihat cantik, tapi juga harus menghitung perkiraan banyaknya debit air yang akan mengisi talang. Apalagi pipa dari talang ke bawah termasuk pipa yang standar padahal bentuk atap rumah membuat air hujan sekitar 80 persen jatuh ke talang belakang dapur). 

Datanglah pekerja beserta mandor mereka untuk melihat. Kondisi rumah sudah bersih ya, meskipun akhirnya lemari piring menjadi rusak tertimpa gypsum yang berat. Mandor bertanya, apakah kebocoran terjadi akibat banyak sampah daun memenuhi talang air. Aku jawab saat plafon jatuh tidak banyak sampah daun. Memang belakang rumah persis berbatasan dengan tanah kosong dengan beberapa pohon rambutan.  Namun saya yakin karena hujan yang begitu lebat makanya ini terjadi. Salah mereka yang tidak memperkirakan air hujan bisa sampai melewati muatan talang air.

Sempat pula aku mendengar mandor berujar, 
"Mungkin ada hantunya", ketika aku langsung mencecarnya dengan pertanyaan "Kata tetangga, sudah pernah kejadian begini ya sebelum kami masuk ke rumah ini?"
Ingin saja aku berkomentar "Pekerjaan kalian yang asal kayak hantu, kok malah menyalahkan hantu?"
Namun akhirnya kutahan. 

Selang beberapa lama, mulai muncul masalah-masalah lain. Atap rumah bocor dan gypsum menjadi menghitam di beberapa tempat, retakan yang muncul bukan di satu dinding, dan banyak lagi.
Perumahan ini dulunya bekas rawa. Masih ada beberapa monyet suka datang memanjat dari satu atap ke atap lain.  Kalau malam datang, sering musang berlari di atas rumah.

Bahkan, pernah tetangga kami gypsum nya juga jatuh karena musang berkelahi di plafon rumahnya.  Syukur saat itu ia sedang tak di rumah. Aku menyadari saat melihat jendela kamar nya berdarah dari dalam dan daun jendela terlepas. Tapak kaki musang pun jelas tergambar di kaca jendela.

Pelajaran kedua, gypsum itu berat. Jangan  sampai memakai tulangan yang kecil untuk menahan berat gypsum. Akhirnya ketika ada hewan di atas plafon, gypsum jatuh menimpa yang di bawahnya. 

Kejadian paling panik yang aku terima adalah saat plafon kamar anak kami jatuh seketika satu kamar. Saat itu jam 11 malam. Anak kami baru tidur jam 10. Aku pun masuk ke kamar ku menemani anak yang kecil tidur.  Suami belum pulang.  Di saat aku baru tertidur, aku mendengar suara "bruk" reruntuhan yang cukup besar. 
Mata ku masih tertutup, kesadaran dari tidur belum lagi pulih namun badan seakan bangkit membawaku ke arah sumber suara. Saat mau masuk ke kamar anak, gelap sekali. Aku mengucek mata.  Masih gelap, berusaha menghidupkan lampu tapi tak berhasil. Aku hidupkan lampu luar agar dapat melihat samar ke dalam.

Astaghfirullah,  pekikku. 
Satu kamar penuh gypsum.  Tempat tidur anakku tertutup gypsum besar. Keringat dingin mengucur aku merinding membayangkan anakku yang kecil-kecil tertimpa gypsum berat.
awalnya kupanggil si kakak. Tidak menjawab, ku coba mengangkat gypsum yang berat dan menarik tubuhnya keluar. Tak kuat. Aku semakin panik dan langsung teringat si nomer 3 paling mudah dibangunkan.  
Kupanggil ia, lalu seketika menjawab. Alhamdulillah. 
Keluar nak, cepat, mama gak kuat angkat gypsum ini. Bangun kan kak Hishshah (anak yang kedua). Akhirnya mereka semua berhasil keluar.
Aku tanya mereka merasa sakit atau tidak, mendengar suara roboh gypsum atau tidak. Alhamdulillah ternyata ketiga anakku terselamatkan oleh tiang tempat tidur. 
Sedikitpun tidak tersentuh padahal nyaris gypsum setengah centi lagi menyentuh kepala mereka.

Gypsum satu kamar ambruk, penyangga gypsum terlalu kecil



Lagi-lagi mendapati tulangan penyangga gypsum terlalu kecil. Padahal saat itu tak ada hujan, tak pula musang berkelahi.
mungkin juga runtuh karena musang berlari.  Entahlah. Aku trauma mengingatnya. 

Kejadian paling akhir adalah sehari setelah anak kami yang kelima lahir, hujan deras. Saat itu malam hari.  Dari mushalla komplek masih terdengar suara bacaan shalat tarawih.  Tiba-tiba dari kamar suara ambruk kembali terdengar, setengah dapur plafon nya runtuh.

Aku pasrah saja..
Belum berniat memperbaiki, takut kejadian yang sama berulang.  
Maka pelajaran ketiga, sebelum membeli properti baiknya membuat surat perjanjian dengan pengembang soal keamanan hunian untuk ditempati. 

Langkah ke depan, Sepertinya kami akan merubah desain atap. Sehingga air hujan jangan dilimpahkan terlalu banyak ke dapur. 
Separuhnya dapur ambruk, talang kepenuhan

Dari beberapa pelajaran yang kami dapati,  sebaiknya berhati-hati pula memilih pengembang.
Jangan sampai setelah ia mendapat uang, setelah ijab kabul jual beli selesai,  ia pun susah untuk kita hubungi kembali meminta pertanggungjawaban atas rumah yang ia jual.



46 Comments

  1. rumahku sekarang juga bermasalah. jalan komplek di blok kami nggak kunjung dikonblok. selain itu, soal IMB juga. Memang harus berhatihati sekali memilih rumah, dari aspek legal sampe pengalaman pengembang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mas. Pengembang nya sering malah buat Perumahan.
      Tapi entah bahan kualitasnya diturunkan entah apa juga gak ngerti,
      lain kali jadi pembenaran memang.

      Delete
  2. Ciamik x judulnya Kak, ber-rima ya... Hati² Memilih Properti. Mantap

    ReplyDelete
  3. Betul mbak. Saat akan membeli rumah memang harus hati-hati. Sebelum menempati harus tahu betul gimana kualitas bangunan, san perkiraan bisa bertahan berapa lama. Sehingga kita tahu kapan sebaiknya rumah direnovasi sebelum kejadian yang tidak kita inginkan menimpa. Semoga selalu mendapat keselamatan dan kemudahan ya mbak

    ReplyDelete
  4. Memang saat membeli rumah di perumahan, harus selektif. Kalau bisa cek lokasi dan reputasi pengembangnya ya, Mbak. Soalnya kadang di brosurnya keren, ternyata kenyataannya berbeda.

    Tapi memang sih, Mbak. Kebanyakan beli rumah di perumahan itu ada reovasinya dulu, sebelum ditinggali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, janganter tertarik hanya pada desain..

      Delete
  5. Astaghfirullah Mbaaak, serem banget sampai berulang-ulang gitu. Sampai sekarang masih tinggal di situ kah? Duh yaa Allah. Semoga baik baik saja semuanya ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih mba Ida, ini masih proses mengamati sekalian, kira2 apa saja yang harus dibenahi sebelum renovasi. Biar gak berulang lagi,

      Delete
  6. hhhhhh... cuman mau menarik napas panjang saja.
    Saya pernah kerja di kontraktor specialis rumah mewah, yang kami bangun rata-rata rumah dengan bugdet konstruksi minimal 800jt-1M.

    Bos saya lulusan arsitek, dan saya hampir tiap hari dongkol ama si boss, ye kan..
    Arsitek itu cuman mikirin model doang, terus percaya ama mandor, yang mana mandornya hanya pakai ilmu kira2.

    Sedang kami para tehnik Sipil, apa-apa kudu dihitung.
    apa-apa kudu di test, metodenya kudu berdasarkan teori.

    Jangankan perumahan yang sudah pasti pembangunanannya sistem borongan se kompleks, rumah mewah yang kami bangun dulu, bermasalaaaahhhh mulu setelah serah terima.
    Ya bocorlah, retaklah.

    Sudahlah boss nya arsitek yang banyak maunya dimodel2in, yang bertanggung jawab mandor pula, saya aja kalau lagi keliling ngawasi, selalu kesal liatnya, dan semua pekerja selalu kesal liat saya, soalnya cerewet wkwkwkw.

    Tapi ini mengenai nyawa juga, kalau rubuh kayak gitu?
    Semoga ke depannya, orang2 lebih mawas lagi kalau mau beli rumah.

    Saran saya, kalau beli perumahan gitu, sebelum deal, masukan di item perjanjian, kalau kita hanya mau nerima rumah sesuai spek, dan kita berhak mengawasi pelaksanaannya.

    Kalau kurang ngeh ama pelaksanaan bangunan rumah, mending bayar orang yang ngerti deh, gapapa ngeluarin biaya ekstra, tapi kita puas nempatin rumah tersebut :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.,
      saya juga pernah dengar dari temen yang arsitek soal kejadian real di lapangan sering begini,
      kalau ya mba..
      seharusnya tiap orang yang bekerja mesti merasa bahwa rumah ini adalah rumah yang sekolah olah ia tinggal di dalam, jadi tidak semena2.

      Delete
  7. Aih kejadian yang lumayan bikin parno.Rumah - rumah yang dibangun pengembang emang sering ngeselin.Semoga gak ada kejadian gypsum ambruk lagi ya

    ReplyDelete
  8. Duhhh kok serem gitu ya. Itu artinya kita harus semakin hati hati untuk memilih segala sesuatau

    ReplyDelete
  9. Kalau surat perjanjiannya dibuat setelah setahun kita menempati gmnn ya?Komplen ke bank gak bisa? (aku KPR sih)
    Huhuhu aku punya duka lha kalau soal properti hahaha.
    Rumah yang skrng alhamdulillah udah strategis tapi emang bangunannya agak2 gmn gtu, blm setahun dah retak2. Gak tau ada apa ya dengan pengembang skrng. Kalau ada rezeki mau pindah ke perumahan yang pengembangnya dah gede aja yg udah terkenal banget :D #malahikutancurcol haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak tau ini yang nakal siapa mba..
      yang main2i kualitas bangunan sebagaimana mestinya.

      baca deh komen mba rei, bahkan utk rumah mewah pun begitu..
      yang harga 800an juta ke atas.

      Delete
  10. Bener banget nih memang ya perumahan makin kemari kualitas nya makin sedih banget yaa tp jangankan perumahan rumah yg di bangun lewat pemborong juga aduhai ampun juga deh mesti bener2 di awasin banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba sefa, entah kenapa kualitas bahan dimain-mainkan.
      Padahal kan fatal banget

      Delete
  11. Punya niat buat nyicil rumah dari pengembang. Awalnya gak tahu ada yang seperti ini masalah diperumahan. Selama ini mikirnya bagus-bagus aja rumah yang dibuat pengembang. Untung baca tulisan ini. Jadi bisa lebih berhati-hati memilih rumah.

    ReplyDelete
  12. Sayabpribadi ndak minat beli rumah di kompl, selain spt kasus mba icha, rumah komplek dah mihil, kok kecil..

    Haizzz.. Makanya sampe skrg blm punya rmh, hbs byk maunya saya hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak vi, kami sebenarnya masih nyaman jadi kontaktor, tapi orangtua nih..

      Dan kami memilih bertahan, karena tetangga yang baik-baik kak..

      Delete
  13. Ya Allah..semoga cepat tertangani ya mbak..masalah rumah dengan pengembang. Memang ada aja kendala kalau rumah dibikin massal begini. Jadi ngasal. Tapi mau gimana lagi, praktis kalau beli rumah lewat pengembang daripada bangun sendiri. Saya pun sempat ada masalah, jalan masuk ditutup penduduk sekitar duh 2 tahun berjuang dengan penghuni lain akhirnya dimediasi Pemda dan boleh dibuka.

    ReplyDelete
  14. Aku baca nya sambil merinding membayangkan kalau rubuh nya tepat di atas kita . Terima kasih informasi nya juga mbak , jadi bekal ilmu aku kalau seandainya di kasih rejeki untuk punya rumah sendiri di suatu komplek .

    ReplyDelete
  15. Ya Allah ngeri2 sedep bacanya kak chaaa. Smoga kita smua slalu dilindungi Allah ya <3

    ReplyDelete
  16. Ini bukan postingan endorse kan cha hahahaa. Alhamdulillah bersyukur Bpk awq tukang jd pas ada masalah2 dirumah tinggal manggil dia aja. Semoga rumah icha baik2 saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bukan kak echy...
      siap-siap manatau abis ni dapet..
      Aamiin

      Hihi

      Delete
  17. Duh mba aku deg2an banget baca ceritanya :(
    Beruntung anak2 gak kenapa2 ya mbaa. Huhuhu..

    ReplyDelete
  18. Pembangungan rumah sekarang memang asal2an kak, seperti rumah awak karena gak diawasi pembangunannya pintu rumah bolong, besi penyangga jendela berkarat, memang gak mudah percaya gitu aja sama pekerja bangunan saat ini, mereka suka sekali pakai barang yg murah padahal anggaran bangunan kan sudah besar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak iid..
      kita yang tinggal di dalamnya yang jadi korban ya..

      Delete
  19. Iya bener kak, pengembang sekarang asal-asalan kalo bangun rumah,blm lagi tukangnya yang asal2an ngerjainnya

    ReplyDelete
  20. Suka banget ini sama tulisannya. Investasi properti itu memang menggiurkan ya. Tapi, untuk memilihnya memang harus hati-hati.

    Sama kaya kita pilih pasangan 😀

    ReplyDelete
  21. Bahaya banget ya perumahan begitu. Bener banget harus bijak membeli properti. Dan paling utama kenal dengan seseorang yang tahu perumahan tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang paling utama sebenarnya harus Jujur juga mba tika. Kadang ada yang kenal, tapi tetep curang di bahan bangunan.

      Delete
  22. Dua kali kami coba beli properti, selalu ada masalah. xixixi.. emang lebih enak bangun sendiri. tapi ya itu, untuk di daerah perkotaan susah dapat tanah strategis harga ekonomis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kak, enaknya emang bangun sendiri ya,.
      Kalo awak mengandaikan, buat rumah tumbuh. Misal, kotak sabun dulu, lama2 nanti bertumbuh sesuai kebutuhan dan ke mampu an kita.

      Delete
  23. Memang gitu rata-rata sih kak, nggak yang murah atau mahal, kebanyakan pengembang nggak terlalu mikirin kualitas. Yang penting tampak luarnya oke. Memang kita yang harus cerewet liat kondisi rumah sebelum serah terima. Tetap semangat mak!!!!

    ReplyDelete