Umair Bin Saad, Gubernur yang Zuhud
Pic by Google


Beberapa hari lagi menuju pesta demokrasi ni..
trus apa hubungannya emak nulis sejarah tentang Umair bin Saad? 
Karena emak gak bosen - bosen mendengar kisah nya ketika menjadi pemimpin (gubernur) di kota Homs/Hims di Syria.

Meskipun beberapa dari kita mungkin sudah biasa mendengar betapa zuhud (sederhana,  ingat mati) Umar  bi Khattab saat menjadi Khalifah.  Beliau suka blusukan tengah malam untuk melihat keadaan rakyatnya (tanpa kamera ya, hihihi) yang susah.

Namun, kita tak begitu mengenalkan Umair yang juga seorang pemimpin yang zuhud.

Flashback dulu ke kehidupan masa kecil Umair bin Saad.
Umair masuk Islam bersama ayahnya Saad Al Qadri yang saat itu umur Umair sekitar 10 tahun.
Namun Umair kecil begitu taat dan semangat dalam menjalankan ibadah. Suka berada di barisan shaf terdepan saat shalat berjamaah.  

Pada saat perang Qadiriah,  ayah Umair syahid.
kemudian hidupnya pun menjadi yatim yang susah. 
Adalah Jullas bin Suwaid bin Shamid menikahi ibunya Umair, sehingga Umair pun berkecukupan. 

Pada saat 9 Hijriah,  Rasul menginstruksi untuk bersiap dalam perang Tabuk menghadapi Tentara Roma.  Umair begitu bangga melihat banyak kaum Muslim yang bersemangat.  Seperti Ustman bin Affan yang menginfakkan ribuan dinar untuk persiapan perang, atau seperti Abdurrahman bin Auf yang menyerahkan 20 Uqiyah emas.

Namun, saat melewati sekelompok orang, Umair mendengar seseorang berkata "Seandainya orang itu benar (Nabi Muhammad SAW), tentulah kita lebih jelek dari keledai.."

Umair sangat marah mendengar perkataan itu, perkataan yang menghina Nabi Muhammad,  namun ia juga bingung ketika akan mengadukannya kepada Nabi, karena yang berkata demikian adalah ayah tirinya Jullas bin Suwaid.

akhirnya ia melaporkan hal tersebut kepada Nabi,  Nabi lalu menyuruh seseorang untuk memanggil Jullas dan menanyakan kebenaran berita yang disampaikan oleh Umair.

Namun Jullas berkata "anak itu berbohong ya Rasul.. Aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa aku tidak pernah berkata begitu"
Umair pun menangis karena ia yang berkata benar.
beberapa orang melihat Umair sebagai anak durhaka. 
Namun Rasul bergantian melihat wajah Umair dan Jullas.
Umair pun berkata lirih "Ya Allah,  turunkanlah saksiMu.."

Seketika Nabi terdiam sambil memicingkan mata, pertanda turun wahyu padanya.
Maka turun lah Surat At Taubah ayat 74.


Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat. mereka jalankan (untuk membunuh Nabi saw., menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka tobat, itulah yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan pembantu di muka bumi.”(Taubah,9:74)


Seketika Jullas langsung bergetar dengan bunyi ayat tersebut.
"Aku  tobat ya Rasul, aku lah yang berbohong.  Aku bertobat, mohon ampun".

Lalu nabi berkata pada Umair, "telingamu nyaring nak, sampai-sampai Allah membenarkan ucapan mu".

Itulah gambaran Umair kecil.
ketika dewasa, Umair menjadi orang yang suka berada di barisan terdepan saat diumumkan perang karena ia bercita-cita mencari syahid.

Waktu berlalu, saat nya Umar menjadi Khalifah saat itu.
penduduk Hims sangat rewel terhadap beberapa Gubernur yang ditunjuk oleh Umar untuk memimpin di sana.

Lalu Umar bertanya kepada beberapa sahabat, Kira-kira siapa orang yang tepat untuk menjadi Gubernur di sana.
Akhirnya diputuskanlah Umair bin Saad untuk menjadi gubernur. 

Umair langsung menolak ketika dipanggil menghadap Khalifah Umar. Ia lebih suka mencari Syahid daripada harus menjadi Gubernur.
Namun Umar memaksanya.  Dengan berat, ia pun  meninggalkan keluarganya di Madinah dan pergi ke Hims Syria. 

Ia membeli sepetak tanah dan mendirikan gubuknya di tengah masyarakat. 
Ia mengumpulkan rakyat dan berbuat adil dalam menarik zakat,  dan membagikan kepada yang membutuhkan.  
Intinya, rakyat Hims sangat menyukai nya. 

Setahun berlalu, Umar cemas karena Umair bin Saad tak jua melapor hasil zakat atau semacamnya. 

Akhirnya ia menulis surat kepada Umair agar segera meninggalkan Hims dan menghadapnya. 

Umar pun bergegas menghadap ke Madinah.
membongkar gubuknya, mengembalikan tanah yang ia beli tanpa meminta uangnya kembali, lalu berjalan dengan menggendong perlengkapan dapur nya,  ember dan perbekalan air.

Hingga sampai ke Madinah, Umar dikejutkan dengan kedatangan Umair yang berantakan. Ia nampak lusuh tapi semangat.

"Wahai Umair apa yang terjadi?" Tanya Umar.
"Seperti yang engkau lihat, aku baik baik saja Khalifah"
"Apa yang kau bawa itu?"
"Dunia dan isinya.."
"Apa maksud mu?  Mana laporan Selama setahun di Hims?"
"Kalau yang engkau maksud hasil pajak dan lainnya , semua sudah habis aku bagikan kepada rakyat Hims. Kalau ada sisanya,  tentu sudah kukirim ke madinah"
"kenapa engkau berjalan? Apakah rakyat mu tidak memberi tunggangan? "
"Tidak ya Umar, dan aku pun tidak meminta.."
"Sungguh buruk penduduk Hims"
"Tidak, itu hak mereka ya Umar"

Umar pun tertegun dan membuat perpanjangan untuk Umair kembali menjadi Gubernur. 
Namun Umair menolak dan meminta untuk pindah ke pinggiran Madinah bersama keluarganya.

Umar menyetujuinya. 

Umar masih penasaran dengan kehidupan Umair, lalu ia mengutus Al Harits,  untuk melihat keadaan nya.  
Dan menyuruh memberi 100 dinar bila kehidupan nya sulit.

Maka Al Harits pun berangkat.
Ia menjadi tamu di rumah Umair.
Umair sangat menghormati tamu. Ia menyediakan makanan yang terbaik yang dimilikinya meskipun hanya memiliki roti yang terbatas untuk keluarganya. 

Di hari ketiga,  ia berkata kepada Al Harits bahwa ia takut tidak lagi bisa menghormatinya dengan baik sebagai tamu karena sudah kehabisan bahan makanan. 

Al Harits pun akhirnya memberi 100 dinar kepada Umair dan mengatakan ini pemberian Khalifah. 

Umair menolak nya. 
Lalu istri Umair berkata 
"Terima lah Umair, bila kau tak membutuhkannya kau bisa membagikannya kepada orang yang membutuhkan".

Umair bingung di mana meletakkan uang tersebut.
lalu istrinya merobek sedikit pakaiannya untuk meletakkan uang tersebut. 

Al Harits pulang ke Madinah.  
Umair pun  habis membagikan seluruh uang tersebut kepada yang membutuhkan. 

Ketika Umar bertanya kepada Al Harits mengenai uang tersebut, Al Harits menjawab tidak tahu, mungkin hanya 1 dinar yang ia ambil untuknya. 

Akhirnya Umar mengirim surat agar Umair segera menghadap. 

Umair meninggalkan 2 sha' gandum untuk keluarganya sebelum berangkat.

Ketika sampai dan Umar bertanya, "kau apakan uang 100 dinar tersebut?"
Umair hanya menjawab itu adalah hak nya, dan ia sudah membelanjakan uang tersebut untuk masa depan ketika uang tidak lagi laku (sudah habis dibagikan kepada fakir miskin).

Umar sangat tersentuh dan memberikan Umair 60 sha' gandum dan dua helai pakaian.

Umair menolak,  hanya menerima 2 helai pakaian untuk istrinya. 
"Aku sudah meninggalkan 2 sha' gandum untuk keluarga ku ya Umar,  itu sudah cukup. Aku terima 2 he lai pakaian ini untuk istriku,  karena ia hampir telanjang karena pakaiannya sudah lusuh"

Umar pun merelakan Umair kembali pulang.

Saat Umair meninggal, Umar sangat sedih dan berkata
"Aku butuh orang seperti Umair bin Saat untuk membantu ku membangun masyarakat".


Demikian kisah Umair bin Saad. 
Semoga nantinya saat pesta demokrasi selesai, kita bisa mendapat pemimpin yang zuhud seperti Umar dan Umair.

Semoga kezuhudan Umair menginspirasi kita semua...

24 Comments

  1. masyaAllah...
    semoga next pemimpin kita amanah ya mba icha.... Aamiin ya Allah...
    semoga anak-anak kita juga kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin yang amanah.... Aaamiiin ya Allah

    ReplyDelete
  2. Kita perlu membaca lagi siroh2 seperti ini. Pertahankan.

    ReplyDelete
  3. Masya Allah tabarakallah...selalu rindu pemimpin2 spt Umair ra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ning.
      Semoga pemimpin kita nanti amanah

      Delete
  4. Sudah susah menemukan lagi pemimpin yang bisa zuhud seperti Umair

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang day, tapi yakin masih ada pemimpin baik di dunia ini walau gak banyak.
      semoga kita dapet juga nantinya, ,,
      Aamiin

      Delete
  5. Suka dengan ceritanya kak, jadi ingat buku cerita sahabat2 nabi, saya pun merindukan punya Pemimpin yg amanah kak, tapi manusia gak ada yg sempurna ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kak iid, semoga mendekati ada ya.. ♥♥

      Delete
  6. Pemimpin yang zuhud yang dicari sekarang ya mba, gak kebayang negeri ini kalo udah dipimpin sama pemimpin yang zuhud

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini aja masalah pemilu belum selesai 2, ya..
      hikssss

      Delete
  7. Wah, kita belajar sejarah nih!

    ReplyDelete
  8. Pernah denger kisah ini dari video ceramah ust Khalid kalau nggak salah kak. Tp sulit memang punya pemimpin seperti Umair, faktor diantaranya adalah sistem yang sudah berbeda.
    Berdoa saja kita diberikan pemimpin seperti Umair

    ReplyDelete
  9. banyak kisah kisah tenang pemimpin hebat. salah satunya seperti kisah Umair bin Saad ini. tapi terkadang pemimpin di negri kita tidak mentaati pemimpin sebelumnya atau mungkin pemimpin kita belum mempelajari sejarah yaaa. sepertinya pemimpin kita harus membaca tulisan ini

    ReplyDelete
  10. Semoga gubernur kita pak Edy Rahmayadi punya sifat kayak gini cukup amanah dgn rakyatnya 🙏🙏

    ReplyDelete
  11. Andai kita punya pemimpin seperti atau setidaknya mirip walaupun sedikit akhlaknya denfan para khalifah tentu indonesia tak akan seperti ini.

    ReplyDelete
  12. Jarang ada ditemukan pemimpin yang Zuhud. Semoga Indonesia bisa dipimpin oleh orang yang memiliki sifat seperti itu

    ReplyDelete