Demensia Alzheimer Bukan Penyakit Normal

 "Apa sih dari tadi mondar-mandir?" Tanyaku pada suami. 

"Lupa.. di mana tadi ya kunci motor"

"Uuh udah tua sih.. pikun.." ucapku seraya mengambil kunci di atas kulkas.



Sering kan ya kita merasa kalo udah tua ya pasti pikun lah.. tau gak Mak? Ternyata pikun itu bukan hal normal loh..

Dalam rangka memperingati Alzheimer Awareness Month pada bulan September ini, maka PT Eisai Indonesia (PTEI) dan PERDOSSI mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang merupakan bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun. Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini dapat diikuti oleh dokter spesialis saraf, dokter umum, dokter seminat serta masyarakat awam. Festival dibuka secara virtual oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K), dan President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi. 


Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Masyarakat kerap kali menyebut kondisi tersebut sebagai pikun. Pikun sering dianggap sebagai hal normal yang dialami oleh lansia, sehingga seringkali penyakit tersebut tidak terdeteksi. Padahal berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70% kasus. 


Oleh karena itu, deteksi dini dapat membantu penderita demensia dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik. Selain itu penanganan demensia sejak dini juga penting untuk mengurangi percepatan kepikunan. 


Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia akan mengangkat berbagai topik mengenai apa itu Demensia Alzheimer, deteksi dini serta penanganannya. Topik yang disampaikan pada festival ini adalah: 


1.Untuk Dokter (dokter spesialis saraf, dokter umum, dokter seminat) : 

-Pentingnya Pengobatan Sejak Dini Pasien Demensia 

-Kendala dan Tantangan Dokter dalam Pengobatan Pasien Demensia 

2.Untuk masyarakat umum :

-Obati Pikun dengan Mengenal Gejalanya

-Demensia di Masa Pandemi


Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS mengatakan, “Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lanjut usia (lansia). Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Jumlah lansia yang terus meningkat tersebut dapat menjadi aset bangsa bila tetap sehat dan produktif. Namun lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa. Demensia Alzheimer merupakan salah satu ancaman bagi lansia di Indonesia saat ini. 


Lebih lanjut  dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS mengatakan, “Kementerian Kesehatan mendukung penuh Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini karena merupakan bagian dari edukasi yang sangat penting untuk mencegah lansia terkena Demensia Alzheimer. Harapannya, makin banyak lansia yang terdeteksi Demensia Alzheimer dapat ditangani sejak awal sehingga dapat terus produktif.”


Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) dalam sambutannya mengatakan, “Edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. Sebagai bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun yang kami canangkan bersama dengan PT. Eisai Indonesia (PTEI), maka kami mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini. Para peserta akan mendapat penjelasan menyeluruh mengenai Demensia Alzheimer dari berbagai narasumber dibawah naungan PERDOSSI. Dalam kesempatan itu pula, peserta akan diperkenalkan pada sebuah aplikasi deteksi dini Demensia Alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS). Melalui Aplikasi EMS ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya.”



Aplikasi E-MS resmi diluncurkan pada tanggal 20 September 2020 dan dapat diunduh dengan mudah oleh dokter dan masyarakat awam di Playstore dan Appstore. Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait Demensia Alzheimer yang mungkin dialami oleh pengguna aplikasi. Setelah itu, Aplikasi E-MS akan memberikan skor dan apabila skor tersebut menunjukkan kondisi abnormal, maka aplikasi ini akan menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada dokter di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS termasuk informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang Demensia Alzheimer, serta nomor call center RS yang dapat dihubungi. Selain deteksi dini, aplikasi ini juga menyediakan ragam informasi terpercaya dan akurat mengenai Demensia Alzheimer dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Aplikasi ini juga menyediakan tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD) secara efektif dan efisien.”


President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi, mengatakan, “PT Eisai Indonesia (PTEI) memiliki filosofi human health care (hhc) dan telah berkontribusi dalam  kesehatan masyarakat di Indonesia selama 50 tahun. PT Eisai Indonesia (PTEI) berkomitmen memberikan edukasi mengenai penyakit Demensia Alzheimer, terutama karena penyakit ini dapat dideteksi sejak awal sehingga dapat dilakukan penanganan secepat mungkin. Dalam rangka merayakan 50 tahun PT Eisai Indonesia (PTEI), kami bangga bisa mendukung PERDOSSI melaksanakan program kampanye edukatif #ObatiPikun dan mengembangkan Aplikasi E-Memory Screening (EMS).” 


Mengenai Demensia Alzheimer 

Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fisik otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Diperkirakan ada sekitar satu juta orang penderita Demensia Alzhemeir di Indonesia pada tahun 2013. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastis menjadi dua kali lipat pada tahun 2030, dan menjadi empat kali lipat pada tahun 2050. 

Penyakit Demensia Alzheimer memiliki faktor risiko :

Yang bisa dimodifikasi seperti penyakit vaskular: hipertensi, metabolik, diabetes, dislipidemia, pasca cidera kepala, pendidikan rendah, depresi; 

Yang tidak bisa dimodifikasi yaitu usia lanjut dan genetik yaitu memiliki keluarga yang mengalami Demensia Alzheimer. 

Selain mengetahui faktor resikonya, penting untuk menyadari bahwa Demensia Alzheimer bersifat kronis progresif, artinya semakin bertambah kerusakan otak seiring bertambahnya umur. Sehingga deteksi dini sangat penting dilakukan bagi penderita Demensia Alzheimer. Melalui deteksi dini, penderita Demensia Alzheimer dapat lebih cepat ditangani sehingga kerusakan otak karena penyakit tersebut dapat diperlambat.  

Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain. Penyakit ini memberikan dampak fisik, psikososial, sosial, dan beban ekonomi tidak hanya bagi penderita tapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang Demensia Alzheimer mengakibatkan stigmatisasi dan hambatan dalam melakukan diagnosis serta perawatan.


Mengenai PT Eisai Indonesia (PTEI) 

PT Eisai Indonesia (PTEI) merupakan perusahaan farmasi dengan filosofi human health care (hhc) yang telah berkontribusi untuk industri kesehatan di Indonesia selama 50 tahun. Filosofi human health care (hhc) tersebut membuat PT Eisai Indonesia (PTEI) menempatkan perhatian utama pada pasien dan juga keluarga pasien. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan manfaat yang diberikan dalam perawatan kesehatan dan memberikan kontribusi yang berarti dalam sistem perawatan kesehatan di Indonesia.


Nah.. sekarang kita masuk ke materi umum yang sudah dibagi ketika mengikuti webinar #ObatiPikun

1. Obati Pikun dengan Mengenal Gejalanya.

Pertama kita perlu tahu, apa sih pikun itu.. Pikun adalah  ketika seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.

Perlu juga dibedakan antara pelupa dengan pikun.

Pelupa:

• Pelupa karena gangguan pemusatan

perhatian sementara. 

• Lupa nama orang yang jarang ketemu

• Mengeluh sering lupa, tapi dapat memberikan contoh hal yang dilupakan

• Sesekali kesulitan menemukan kata yang 

tepat saat berbicara

• Ingat hal penting, pembicaraan tidak

terganggu

• Kehidupan sosial seperti biasa

• Kadang kesulitan menentukan arah, tapi tidak sampai tersesat


Pikun:

• Pikun karena fungsi kognitif menurun disertai gangguan aktivitas keseharian

• Lupa nama orang yang sering ketemu

• Mengeluh lupa hanya bila ditanya, dan tidak bisa memberikan contoh apa yang dilupakan

• Sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara

• Sering lupa hal penting, kemampuan bicara sangat terganggu

• Kehilangan minat untuk aktifitas sosial

• Tersesat, bahkan dilingkungan sekitar rumahnya


Dalam proses penuaan, pikun bukanlah hal yang normal. Pikun dapat berisiko menjadi Penyakit (Demensia). Lebih dari 50 juta orang mengalami Demensia. Demensia Alzheimer terbanyak, 60-70% Masyarakat menyebut kondisi ini sebagai PIKUN.

Berikut adalah gejala Pikun:


Mengobati Pikun

Tujuan pengobatan pikun dengan meringankan gejalanya, memperlambat perkembangan penyakit, membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.

Beberapa penanganan meliputi:

• Mengatasi Penyebab Pikun

• Memberikan Obat-obatan

• Terapi Stimulasi Kognitif

• Memberikan Perawatan Paliatif


Cara mencegah Pikun:

1. Menjaga Kesehatan Jantung

2. Bergerak, berolahraga positif

3. Menkonsumsi makanan sehat, sayur /buah.

4. Menstimulasi Otak, Fisik dan spiritual.

5. Bersosialisasi dan beraktivitas positif.


Masuk ke Topik kedua,

Demensia di Masa Pandemi Covid 19

Beberapa klasifikasi Demensia, yakni:

DA: DEMENSIA ALZHEIMER

DV: DEMENSIA VASKULER

DLB: DEMENSIA ELWY BODIES

DFT: DEMENSIA FRONTOTEMPORAL

DPP: DEMENSIA PENYAKIT PARKINSON


Kita akan membahas DA alias Demensia Alzheimer. Gangguan perilaku Demensia meliputi:

• melihat sesuatu tetapi tanpa realita / delusi

• senang berlebihan tanpa alasan /eforia

• Perilaku yang menyimpang

• Gelisah, mudah marah

• halunisasi, 

• depresi, 

• Apatis, 

• cemas, 


Dampak pandemi Covid 19 pada ODD (Orang Dengan Demensia):

1.Faktor eksternal

-Risiko terpapar COVID-19

-Risiko menjadi pasien COVID-19

-Risiko depresi

-Risiko perburukan kognitif

-Risiko perburukan perilaku

-Risiko perburukan penyakit penyerta

-dll

2. Faktor Internal

-Komunikasi verbal berkurang

- Relasi keluarga berkurang 

- Proses berpikir terganggu 

- Perawatan diri terganggu 

- Higiene diri terganggu 

- Imbalans nutrient 

- Risiko cedera 

- Risiko Infeksi 

- Inkontinensia 

- Konstipasi






Kesimpulan:

Pikun bukanlah hal normal dalam proses penuaan. Untuk mengidentifikasi Demensia Alzheimer dapat digunakan aplikasi yang mudah yakni: EMS yang dapat didownload di play store. 

Bagi keluarga yang merawat ODD diharapkan kesabaran dalam proses penyembuhan dan menghadapi ODD. Apalagi di masa pandemi, ODD lebih rentan terpapar Virus covid 19.

Demikian isi webinar yang Emak ikuti dalam rangka bulan Alzheimer Awareness Month. Semoga bermanfaat..

Reactions

23 comments:

  1. Beberapa kali nonton drama yang tokohnya menderita Alzheimer.
    Sedih membayangkannya.
    Alhamdulillah jika ada keluarga yang mengurus, kalau tidak ada sungguh kasihan sekali ya

    ReplyDelete
  2. Senang banbte membaca teori tentang demensia alzheimer, soalnya saya selalu ngeri kalau-kalau punya penyakit demikian, tapi baca dari ciri-cirinya insha Allah saya sehat, aamiin :)

    ReplyDelete
  3. Penting banget nih bagi kita=kita ini mencegah pikun ya .. sesekali lupa gpp, semoga gak keterusan hehe.

    ReplyDelete
  4. Bapak mertua nih kak suka Lupa nama orang yang sering ketemu. Tapi seiring usianya bertambah sepuh kami maklumo saja. Yang penting nggak lupa sholat dan bacaan Qur'annya

    ReplyDelete
  5. Beneran aku baru tahu mb kalao pikun itu tidak normal ya, selama ini kita tahunya itu normal karena faktor usia, ternyata salah aku selama ini. Penasaran banget pengen liat aplikasinya buat mamaku yang sudah di atas 50

    ReplyDelete
  6. Cerita tentang kasus alzheimer bikin teringat jaman majalah annida dulu ada seorang tua yang masih ingat sholat walaupun ia merupakan salah satu pasien alzheimer

    ReplyDelete
  7. Jangan sampai kita nanti menjadi penderita pikun, biar nggak nyusahin keluarga. Nauzubillah...

    ReplyDelete
  8. Nah jang sampailah ya kita kena dimesia penting banget nih untuk menjaga kesehatan supaya tidak cepat pikun

    ReplyDelete
  9. keluarga aku sudah ada yang kena demensia ini. perlu pengawasan ekstra sih soalnya takutnya beliau kalau keluar rumah sendiri lupa jalan pulang huhu

    ReplyDelete
  10. salut banget ya panitianya bisa mengadakan acara dengan tema yg menarik tapi jarang dibahas di event2 lain.. sangat menginspirasi kita yg muda2 agar selalu membiasakan pola hidup sehat, lakukan stimulasi otak, rutin konsumsi makanan bergizi, dsb..

    ReplyDelete
  11. Wah makasih kak infonya jadi bisa memulai bergerak nih kemudian konsumsi sayur dan buah makanan bergizi dan juga stimulasi otak kita ya kak. Semoga ketika tua terhindar dari penyakit pikun.

    ReplyDelete
  12. Berapalama gejala pikun dialami seorang penderita Alzeimer Mbak? Saya jadi penasaran. Berapa peluang untuk sembuh? Saya kok jadi kepikiran

    ReplyDelete
  13. Gaya hidup aktif dengan selalu bergerak memang banyak faedahnya ya Cha... jadi makin suka jalan kakilah kl ke kedai2 dekat hehe

    ReplyDelete
  14. Pikun bukanlah hal normal dalam proses penuaan..dan aku baru tahu. Tapi setelahnya jadi kepikiran Ibu Mertua yang kondisinya kini (sepertinya) demensia..Duh, semoga aplikasi EMS banyak embantu deteksi dini demensia alias pikun ini ya

    ReplyDelete
  15. banyak yg abai terhadap alzheimer/demensia ini. mgkn karena tak punya pengalaman langsung. aku ada beberapa kawan yg ortunya demensia. dan aku membayangkannya saja sdh lelah. selalu berharap bisa menua dengan tetap sehat dan tdk merepotkan orang lain.

    ReplyDelete
  16. aplikasi E-EMS ini merupakan salah satu tolak ukur untuk dijadikan solusi mengurangi kepikunan para orang tua lanjut usia karena bagus.

    ReplyDelete
  17. Nah ini..di kalangan masyarakat tuh seolah udah maklum sama yang namanya pikun. Udah semacam wajarlah.. udah tua kan ya.. padahal kan pikun itu bukan tanda penuaan. Dan bahkan sekarang gak hanya mereka yang lanjut usia yang mengalami pikun, tetapi juga yang berusia produktif.

    ReplyDelete
  18. aku kan penasaran ya sama apps nya karena aku merasa pelupa banget, tapi aku mau coba download apps nya di app store g ada masa :(

    ReplyDelete
  19. Aku punya kenalan yang usianya sudah lanjut, tapi ingatannya masih oke dan fit banget. Rahasianya ternyata emang seneng baca, seneng belajar, dan gaya hidupnya ga pernah stress. Hehehe. Semoga kita dijauhi dari Alzheimer ya mbak

    ReplyDelete
  20. Kak aku penasaran dengan aplikasinya ini, coba aku download ah, trims infonya kak

    ReplyDelete
  21. Untung menemukan artikel ini, jadi paham deh, mama aku belakangan ini juga sudah mulai pelupa, duh kadang merasa kuatir... Mudahan jauh dari yang namanya alzheimer

    ReplyDelete
  22. pelupa sama pikun beda ya? aku jadi inget nonton drakor yang tokokh utama perempuannya alzeimer, jadi lupa siapa nama suaminya yang dipanggil mantan pacarnya, hiks sedih bgt. eh menyedihkan lg dia smp lupa pipis dmn..

    ReplyDelete
  23. Eh ada aplikasi nya ya ternyata, jadi bisa bantu banget untuk deteksi dini demensia biar penanangannya lwbih awal dan bisa maksimal

    ReplyDelete

Jangan diisi link hidup ya kawan-kawan ☺️

Total Pageviews